Indeks Bisnis-27 Melemah, Saham MIKA, TLKM, dan JPFA Tetap Menguat

JAKARTA – Indeks Bisnis-27 mengawali perdagangan hari ini, Rabu (20/5/2026), di zona merah dengan pelemahan tipis sebesar 0,15% ke level 446,08. Meski indeks secara keseluruhan tertekan, sejumlah saham berkapitalisasi besar masih mampu mencatatkan penguatan di tengah fluktuasi pasar.

Advertisements

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dari 27 konstituen yang ada, sebanyak 10 saham terpantau menguat, 15 saham melemah, dan 2 saham lainnya stagnan. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) memimpin jajaran saham yang menguat dengan kenaikan 1,75% ke level Rp1.740. Selain MIKA, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga mencatatkan kenaikan 1,30% ke Rp3.120, disusul oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yang naik 1,20% ke posisi Rp2.540.

Sentimen positif juga menghampiri beberapa saham unggulan lainnya, seperti PT Astra International Tbk. (ASII) yang naik 0,84%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 0,66%, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 0,42%, dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) yang terapresiasi 0,38%.

Di sisi lain, tekanan jual masih mendominasi pergerakan saham lainnya. PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) memimpin pelemahan dengan koreksi 5,15% ke Rp368. Tren negatif juga dialami oleh PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) yang turun 4,09%, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) sebesar 3,93%, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang melemah 3,23%.

Advertisements

Selain itu, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) turut mencatatkan penurunan signifikan dalam rentang 2,40% hingga 2,99%.

Proyeksi IHSG dan Sentimen Pasar

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terkoreksi 0,66% ke level 6.328. Tim riset Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support 6.250 dan resistance di 6.500. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari perdagangan Selasa (19/5) yang ditutup turun 3,46% ke level 6.370.

Analis menilai tekanan jual ini dipicu oleh rumor rencana pemerintah untuk membentuk badan khusus yang akan mengatur ekspor komoditas nasional. Langkah ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan potensi pengendalian harga jual komoditas seperti batu bara, CPO, hingga mineral logam, yang dapat menggerus marjin laba perusahaan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar kini menantikan pernyataan Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Momen ini menjadi sorotan karena menjadi kali pertama Kepala Negara menyampaikan dokumen KEM-PPKF secara langsung di depan DPR.

Selain arah kebijakan fiskal, investor juga mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari ini. Berdasarkan konsensus pasar, BI diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5% untuk menahan laju pelemahan rupiah.

Dari sisi data ekonomi, pasar turut memperhatikan pertumbuhan kredit bulan April yang diprediksi mencapai 9,7% secara tahunan (YoY), naik dari 9,49% pada Maret 2026. Di sisi fiskal, defisit APBN per 30 April 2026 tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64% terhadap PDB, angka yang lebih moderat dibandingkan realisasi Maret 2026 yang sebesar Rp240,1 triliun.

Melihat kondisi teknikal yang menunjukkan volume jual meningkat, analis mengingatkan bahwa IHSG berpotensi kembali menguji level support di rentang 6.250 hingga 6.300.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi tersebut.

Ringkasan

Indeks Bisnis-27 dibuka melemah tipis sebesar 0,15% ke level 446,08 pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Meskipun pasar tertekan, sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti MIKA, TLKM, dan JPFA tetap mampu mencatatkan penguatan di tengah dominasi aksi jual pada saham-saham lainnya.

IHSG turut terkoreksi 0,66% ke level 6.328, yang dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap wacana pembentukan badan khusus pengatur ekspor komoditas. Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan kebijakan fiskal pemerintah serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait proyeksi kenaikan suku bunga acuan.

Advertisements