BI Rate Naik, Cicilan KPR Melonjak Bikin Gen Z Makin Tertekan

JogloNesia – Kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen membawa dampak signifikan bagi sektor properti, khususnya bagi masyarakat yang berencana mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Situasi ini memicu kekhawatiran baru bagi generasi Z yang sedang berjuang mewujudkan impian memiliki rumah pertama.

Advertisements

Kenaikan suku bunga acuan ini berpotensi mendongkrak suku bunga KPR, yang secara otomatis membuat beban cicilan menjadi lebih berat. Di sisi lain, harga properti yang terus melambung tinggi semakin mempersempit ruang gerak generasi muda dalam mengakses hunian layak.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan biasanya akan diikuti oleh penyesuaian suku bunga KPR secara bertahap. Akibatnya, cicilan bulanan menjadi lebih mahal dan daya beli masyarakat terhadap hunian semakin tertekan.

Rizal menyoroti bahwa tantangan utama Gen Z saat ini tidak hanya terbatas pada bunga kredit, tetapi juga kombinasi dari harga rumah yang melonjak, pendapatan yang terbatas, serta tingginya biaya hidup. “Akibatnya, banyak generasi muda berpotensi menunda pembelian rumah dan memilih untuk menyewa lebih lama atau mencari hunian di wilayah penyangga yang lebih terjangkau,” ujarnya kepada Jawapos.com, Selasa (20/5).

Advertisements

Kuasai Pangsa Pasar KPR Subsidi Syariah di Indonesia, Bank BSN Mendapat Apresiasi Menteri PKP

Meski langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan terkesan memberatkan sektor properti, Rizal menekankan bahwa kebijakan ini krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Tujuannya adalah agar tekanan ekonomi tidak meluas dan justru memperburuk kondisi masyarakat.

“Jika rupiah terus melemah dan inflasi tidak terkendali, daya beli generasi muda justru bisa lebih terpukul,” ungkapnya. Oleh karena itu, tantangan saat ini terletak pada kemampuan pemerintah dan pihak perbankan dalam merumuskan skema pembiayaan rumah yang lebih bersahabat bagi Gen Z.

Menurut Rizal, diperlukan solusi konkret seperti subsidi bunga yang tepat sasaran, uang muka (DP) yang lebih ringan, pilihan tenor yang lebih panjang, hingga pengembangan hunian terjangkau yang terintegrasi dengan akses transportasi publik. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjaga agar pintu kepemilikan rumah bagi generasi muda tetap terbuka.

Pemerintah Siapkan Aturan KPR 40 Tahun

Kekhawatiran ini sejalan dengan data riset dari lembaga Inventure pada September 2024, yang menunjukkan bahwa 65 persen Gen Z merasa tidak yakin mampu membeli rumah dalam tiga tahun ke depan. Rasa pesimistis tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari harga rumah yang tidak terjangkau, pendapatan yang tidak stabil, hingga posisi mereka yang terjepit di kelas menengah dengan berbagai beban prioritas finansial lainnya.

Ringkasan

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen telah memicu kekhawatiran serius bagi generasi Z dalam mewujudkan impian memiliki rumah pertama. Kebijakan ini berpotensi mendongkrak suku bunga KPR, sehingga beban cicilan bulanan menjadi lebih berat di tengah harga properti yang terus melambung tinggi. Akibatnya, banyak generasi muda terpaksa menunda rencana pembelian rumah dan memilih untuk menyewa hunian atau pindah ke wilayah penyangga yang lebih terjangkau.

Meskipun kenaikan suku bunga bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi, para ahli menekankan pentingnya peran pemerintah serta perbankan dalam menyediakan skema pembiayaan yang lebih ramah bagi generasi Z. Solusi seperti subsidi bunga, keringanan uang muka, serta pengembangan hunian terintegrasi transportasi publik dinilai sangat krusial. Upaya ini diharapkan dapat membantu generasi muda di tengah meningkatnya pesimisme terhadap kemampuan finansial untuk memiliki properti di masa depan.

Advertisements