
Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam ekspedisi Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza dilaporkan telah ditangkap oleh otoritas Israel pada Selasa (19/05). Di antara para tahanan, terdapat dua jurnalis dari media Republika. Menanggapi insiden ini, pihak Republika mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomatik tegas melalui forum Board of Peace demi membebaskan seluruh relawan kemanusiaan tersebut.
Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menekankan urgensi peran Indonesia dalam forum internasional tersebut. “Meskipun tidak ada hubungan diplomatik formal antara Indonesia dan Israel, kita tahu bahwa Indonesia adalah bagian dari Board of Peace. Bahkan, Presiden Prabowo sebelumnya sempat berada dalam satu forum bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Donald Trump,” ujar Andi. Ia menegaskan bahwa Indonesia harus mendesak Israel untuk segera membebaskan seluruh awak dan kapal misi kemanusiaan internasional yang saat ini berada dalam penahanan.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dalam pernyataan resminya telah mengonfirmasi penangkapan sembilan WNI tersebut. Pihak Kemlu menyatakan akan terus menempuh jalur diplomatik agar para WNI dapat segera dibebaskan dan dipulangkan ke Tanah Air dengan selamat.
Di balik ketegangan diplomatik ini, terdapat keresahan mendalam dari pihak keluarga. Hany Hanifah Humanisa, ibunda dari jurnalis Republika, Thoudy Bada Rifanbillahi, mengungkapkan perjuangan emosionalnya saat memberikan izin kepada sang anak. Meski awalnya sempat menolak, Hany akhirnya luluh melihat dedikasi dan passion besar yang dimiliki Thoudy dalam dunia jurnalistik.
“Thoudy adalah sosok yang tenang. Ketakutan terbesar saya tentu adalah tindakan fisik dari militer Israel (IDF),” ungkap Hany di kediamannya di Bandung. Thoudy, yang sempat membatalkan niat berlayar pada Agustus 2025, akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam misi ini demi mendokumentasikan peristiwa kemanusiaan secara langsung sebagai bagian dari tugas profesionalnya.
Pusat misi GSF melaporkan bahwa kapal-kapal mereka diserang dalam agresi di laut lepas, sekitar 250 mil laut dari Gaza, sebuah perairan yang kini berada di bawah blokade maritim Israel. Pihak GSF telah merilis rekaman video yang menunjukkan pasukan Israel menembaki kapal mereka, namun pihak Kementerian Luar Negeri Israel membantah klaim tersebut dan justru menuding GSF melakukan provokasi serta berafiliasi dengan Hamas—tuduhan yang secara tegas dibantah oleh para aktivis.
Kecemasan serupa juga dirasakan oleh Sutrawati Kaharuddin, ibunda dari Andi Angga Prasadewa, perwakilan dari Rumah Zakat yang turut ditangkap. Ia menegaskan bahwa anaknya tidak membawa senjata, melainkan hanya bantuan berupa makanan dan obat-obatan untuk warga Palestina yang membutuhkan.
“Dia bukan teroris. Dia membawa misi kemanusiaan sebagai perwakilan Indonesia. Saya memohon kepada Bapak Prabowo untuk segera menyelamatkan anak saya,” tutur Sutrawati dengan penuh harap.
Saat ini, upaya pembebasan terus dilakukan. Republika dan lembaga terkait lainnya telah menyiapkan tim kuasa hukum serta berkoordinasi intensif dengan DPR, MPR, serta perwakilan diplomatik Indonesia di negara-negara yang dekat dengan lokasi penahanan. Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Mulachela, menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan pendekatan kepada otoritas terkait untuk menjamin keselamatan para WNI dan mendesak Israel agar segera membuka akses bantuan kemanusiaan bagi Gaza, alih-alih menghalangi misi kemanusiaan tersebut.

Baca juga:
- Apa peran Indonesia dalam Board of Peace bentukan Trump?
- Pasukan Israel cegat seluruh kapal Global Sumud Flotilla ke Gaza, sembilan WNI ditangkap
- Mengapa Global Sumud Flotilla kirim bantuan lewat laut meski Israel menutup akses?
- Angkatan Laut Israel cegat kapal Global Sumud Flotilla ke Gaza, Greta Thunberg ditahan
Ringkasan
Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) ditangkap oleh otoritas Israel di perairan internasional saat hendak menuju Gaza. Kementerian Luar Negeri RI telah mengonfirmasi penangkapan tersebut dan menyatakan sedang mengupayakan langkah diplomatik intensif untuk memastikan keselamatan serta pembebasan seluruh WNI. Pihak media dan lembaga terkait juga mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan tegas guna memulangkan para relawan yang membawa misi kemanusiaan tersebut.
Keluarga para tahanan, termasuk orang tua dari jurnalis dan relawan yang terlibat, mengungkapkan kecemasan mendalam serta menegaskan bahwa misi anak-anak mereka murni untuk kemanusiaan, bukan aksi provokasi. Meski Israel menuding adanya afiliasi dengan pihak tertentu, para aktivis dan keluarga membantah keras klaim tersebut. Saat ini, pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menjamin akses bantuan kemanusiaan dan pemulangan WNI ke Tanah Air.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia