
DENPASAR – Bank Indonesia (BI) mencatat perlambatan kinerja dunia usaha di Bali sepanjang kuartal I/2026. Berdasarkan data, Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha berada di angka 17,91%, menurun signifikan dibandingkan capaian pada kuartal sebelumnya yang mencapai 35,46%.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh penurunan kinerja pada dua sektor utama, yakni sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman (Akmamin) serta sektor konstruksi. Kinerja sektor Akmamin tercatat turun dari -0,67% pada kuartal IV 2025 menjadi -8,32% pada kuartal I 2026, sementara sektor konstruksi terkoreksi dari 8,88% menjadi -1,78% pada periode yang sama.
Erwin menyebut bahwa faktor musiman menjadi penyebab utama melandainya kunjungan wisatawan setelah periode libur akhir tahun atau yang sering disebut sebagai low season. Kondisi ini berdampak langsung pada sektor pariwisata, perdagangan, serta sektor pendukung lainnya, yang kemudian memengaruhi daya beli masyarakat secara keseluruhan. Data kunjungan wisatawan melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai yang dipantau oleh Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) juga mengonfirmasi adanya normalisasi kinerja sektor pariwisata pasca-liburan tersebut.
Baca Juga: Menilik Fundamental IHSG di Balik Koreksi, Target 7.500 Masih Terjaga
Secara rinci, jumlah kedatangan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, mengalami penurunan sebesar 10,85% secara kuartalan (qtq), yakni dari 2,94 juta orang menjadi 2,62 juta orang. Selain faktor musiman, tantangan ekonomi global turut membayangi kinerja usaha di Bali, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu jadwal penerbangan internasional.
Dampak geopolitik tersebut meluas hingga ke sektor industri, khususnya kenaikan harga plastik yang dipicu oleh berkurangnya pasokan bijih plastik dari kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh para pedagang di pasar tradisional di Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Badung, dengan rata-rata kenaikan harga bijih plastik berkisar antara 30% hingga 60% pada bulan April dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca Juga: Tindakan Pansus TRAP Segel Marina KEK Kura-Kura Dinilai Rusak Citra Investasi Bali
Kelangkaan serta kenaikan harga bahan baku ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Umumnya, pelaku usaha memilih untuk tidak menaikkan harga jual demi menjaga keberlangsungan pasar di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Meski demikian, titik cerah terlihat pada sektor jasa keuangan yang menunjukkan kinerja positif dengan peningkatan SBT sebesar 2,95% (qtq), naik dari 0,27% pada kuartal IV 2025 menjadi 3,22% pada kuartal I 2026.
Baca Juga: Peluang dan Hambatan di Balik Rencana Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia
Menurut Erwin, peningkatan pada lapangan usaha jasa keuangan didorong oleh aktivitas ekonomi yang tetap menggeliat sepanjang triwulan pertama tahun 2026, terutama didukung oleh momentum rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), seperti perayaan Nyepi dan Idulfitri.
Ringkasan
Bank Indonesia mencatat perlambatan kinerja dunia usaha di Bali pada kuartal I/2026 dengan Nilai Saldo Bersih Tertimbang turun menjadi 17,91%. Penurunan ini dipicu oleh pelemahan sektor akomodasi, makanan, minuman, dan konstruksi akibat faktor musiman rendahnya kunjungan wisatawan pasca-libur akhir tahun. Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah turut mengganggu jadwal penerbangan internasional dan memicu kenaikan harga bahan baku plastik secara signifikan.
Di tengah tantangan ekonomi tersebut, sektor jasa keuangan justru menunjukkan pertumbuhan positif dengan peningkatan SBT mencapai 3,22%. Kinerja sektor ini didorong oleh aktivitas ekonomi yang tetap terjaga selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional, seperti perayaan Nyepi dan Idulfitri. Pelaku usaha di sektor lain pun tetap berupaya menjaga harga jual agar daya beli masyarakat tetap stabil di tengah kondisi pasar yang menantang.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia