
Penolakan terhadap wacana penerapan pajak di Selat Malaka menjadi topik yang paling banyak menyita perhatian pembaca kumparanBISNIS sepanjang Jumat (24/4). Selain isu geopolitik maritim tersebut, anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 3 persen juga turut mendominasi daftar berita terpopuler. Berikut adalah rangkuman dari kedua peristiwa penting tersebut.
Singapura dan Malaysia Tolak Tegas Ide Pajak Kapal di Selat Malaka
Wacana pemungutan pajak bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka sempat mencuat setelah dikemukakan oleh Yudhi Sadewa, melalui ide Purbaya. Konsep ini mengadopsi skema serupa yang diterapkan Iran di Selat Hormuz. Purbaya berargumen bahwa jalur ini merupakan urat nadi bagi 70 persen energi dan perdagangan Asia Timur. Dengan menerapkan tarif tersebut, ia memproyeksikan adanya tambahan pendapatan negara yang signifikan, di mana pembagiannya akan didasarkan pada proporsi panjang wilayah yang dilalui oleh Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan porsi terbesar dialokasikan bagi Indonesia dan Malaysia.
Namun, usulan ini langsung mendapatkan respons negatif dari negara tetangga. Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa jalur transit Selat Malaka harus tetap bebas dan terbuka. Singapura secara tegas menyatakan tidak akan mendukung kebijakan tarif maupun pembatasan apa pun yang dapat mengganggu arus perdagangan global. Hal ini merupakan prioritas strategis yang telah dikomunikasikan Singapura kepada mitra-mitra besar mereka, termasuk Beijing dan Washington.
Senada dengan Singapura, Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menekankan bahwa keputusan mengenai Selat Malaka tidak bisa diambil secara sepihak. Menurutnya, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand telah lama menjalin kerja sama berbasis konsensus dalam menjaga keamanan maritim, termasuk melalui patroli bersama. Penekanan pada kerja sama regional ini menjadi bukti bahwa pengelolaan jalur perdagangan vital tersebut menuntut pendekatan kolektif, bukan tindakan unilateral.
Faktor Utama di Balik Anjloknya IHSG Sebesar 3 Persen

Pasar modal Indonesia mengalami tekanan berat pada sesi I perdagangan Jumat (24/4). IHSG tercatat merosot tajam sebesar 3,06 persen atau 225,75 poin ke level 7.152,85. Penurunan signifikan ini dipicu oleh akumulasi faktor makroekonomi serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengguncang stabilitas pasar global maupun domestik.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyoroti eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah—khususnya di Selat Hormuz—sebagai pemicu utama. Kekhawatiran akan adanya blokade di selat tersebut telah mendorong harga minyak melonjak melampaui USD 100 per barel. Fenomena ini memicu aksi flight to safety dari investor global, yang menarik modal keluar dari negara-negara importir minyak. Selain itu, kenaikan harga komoditas energi ini berpotensi memicu tekanan imported inflation, meski fundamental makroekonomi Indonesia dinilai masih cukup tangguh. Di sisi lain, pelaku pasar saat ini juga tengah menunggu keputusan MSCI mengenai status investasi Indonesia.
Dari sisi analisis teknikal, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penurunan IHSG masih berada dalam fase koreksi wajar. Meski indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan sinyal positif, indikator Stochastics K_D berada dalam posisi negatif. Kondisi diperburuk oleh ketegangan antara AS dan Iran yang memicu ketidakpastian tinggi, sehingga investor cenderung memindahkan asetnya ke mata uang safe haven seperti dolar AS. Dampaknya, nilai tukar rupiah melemah sekitar 105 poin ke level Rp 17.280, sementara harga minyak Brent terus melambung hingga menyentuh kisaran USD 106 per barel.
Ringkasan
Singapura dan Malaysia secara tegas menolak wacana penerapan pajak bagi kapal yang melintasi Selat Malaka yang sempat diusulkan sebagai upaya menambah pendapatan negara. Kedua negara tersebut menekankan pentingnya menjaga jalur perdagangan internasional agar tetap bebas dan terbuka, serta menegaskan bahwa kebijakan terkait selat harus diputuskan melalui konsensus kolektif antarnegara yang berwenang. Penolakan ini mencerminkan komitmen regional untuk tidak melakukan tindakan unilateral yang dapat mengganggu arus perdagangan global.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 3,06 persen yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu aksi jual oleh investor global yang beralih ke aset aman, sehingga menekan nilai tukar rupiah dan menciptakan ketidakpastian di pasar modal. Para analis menilai pelemahan ini merupakan imbas dari tekanan makroekonomi global yang memicu sentimen negatif bagi pasar domestik.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia