Harga Minyak Menguat Akibat Konflik AS-Iran, Reli Mulai Melambat

JAKARTA – JogloNesia. Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan penguatan dalam beberapa waktu terakhir di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Kendati demikian, laju kenaikan harga tersebut kini mulai tertahan seiring dengan respons pasar yang telah mengantisipasi risiko eskalasi konflik.

Advertisements

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (18/5/2026) pukul 19.00 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level US$ 105,1 per barel, atau melonjak 21,9% dalam kurun waktu satu bulan. Tren serupa juga terlihat pada minyak jenis Brent yang naik 15,9% selama sebulan terakhir menjadi US$ 108,9 per barel.

Analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengamati bahwa setelah sempat melonjak hingga menembus level US$ 119 per barel pada Maret lalu, harga minyak WTI kini mengalami koreksi. Upaya rebound yang terjadi pada awal April pun dinilai masih berada di bawah level tersebut, yakni di kisaran US$ 117 per barel.

Sejumlah Emiten Cum Dividen di Pekan Ini, Simak Rekomendasi Sahamnya

Advertisements

“Belakangan, harga cenderung terjebak di rentang US$ 80 hingga US$ 110. Stagnasi ini terjadi karena pasar sudah priced in atau telah memperhitungkan risiko perang dalam valuasi harga,” jelas Wahyu kepada Kontan, Senin (18/5/2026). Menurutnya, pasar kini melihat peluang deeskalasi konflik antara AS dan Iran, sehingga sentimen geopolitik tidak lagi memberikan kejutan signifikan terhadap harga energi seperti sebelumnya.

Wahyu menyoroti langkah Presiden AS Donald Trump yang merilis surat War Powers pada 1 Mei untuk mengakhiri permusuhan secara formal. Kebijakan ini dipandang sebagai upaya untuk menghapus hambatan konstitusional domestik sekaligus membuka ruang diplomasi yang lebih luas. Selain itu, pendekatan militer kini mulai digeser ke misi kemanusiaan dan hukum melalui operasi Project Freedom. Bahkan, operasi di Selat Hormuz dilaporkan telah ditangguhkan atas permintaan sejumlah negara, termasuk Pakistan, sebagai sinyal positif terbukanya ruang negosiasi.

“Terbaru, Trump mengisyaratkan berakhirnya operasi Epic Fury seiring dengan kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Hal ini menjadi katalis harapan bagi pasar terhadap deeskalasi konflik,” tambah Wahyu. Saat ini, isu yang berkembang lebih fokus pada negosiasi dan proposal perdamaian, yang membuat pasar meyakini bahwa risiko terburuk telah berhasil dilewati.

Semen Indonesia (SMGR) Catat Laba Rp 80 Miliar di Kuartal I, Cek Rekomendasi Sahamnya

Di luar faktor geopolitik, Wahyu memproyeksikan adanya potensi tekanan pada harga minyak di semester II-2026 akibat fenomena demand destruction atau penurunan permintaan. Harga energi yang bertahan tinggi dalam waktu lama dikhawatirkan dapat menggerus daya beli konsumen dan menekan konsumsi secara agregat.

Selain itu, upaya diplomatik antara AS dan China diharapkan dapat membuka kembali jalur distribusi energi global. Jika skenario tersebut terealisasi, aksi ambil untung (profit taking) dari para pelaku pasar berpotensi menekan harga minyak menuju level yang lebih mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya.

Secara keseluruhan, Wahyu menegaskan bahwa pasar energi sepanjang tahun 2026 masih sangat bergantung pada dinamika berita geopolitik. “Pasar energi tahun ini merupakan news-driven market. Selama isu di Selat Hormuz belum menemui titik terang, harga minyak kemungkinan besar akan bertahan di level tinggi dengan volatilitas yang ekstrem,” pungkasnya.

Ringkasan

Harga minyak mentah dunia sempat mengalami lonjakan signifikan akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, dengan jenis WTI mencapai US$ 105,1 per barel dan Brent di angka US$ 108,9 per barel. Namun, laju kenaikan harga tersebut kini mulai tertahan dan cenderung stagnan karena pelaku pasar telah mengantisipasi risiko konflik dalam valuasi harga. Pasar saat ini merespons positif upaya deeskalasi konflik melalui jalur diplomasi dan sinyal penghentian operasi militer oleh AS.

Ke depannya, harga minyak berpotensi tertekan oleh fenomena penurunan permintaan akibat harga energi yang tinggi serta kemungkinan perbaikan jalur distribusi global. Analis menilai pasar energi tahun 2026 masih sangat bergantung pada dinamika berita geopolitik. Selama isu di Selat Hormuz belum menemui titik terang, harga minyak diprediksi akan terus bertahan di level tinggi dengan tingkat volatilitas yang tetap ekstrem.

Advertisements