
JAKARTA – Setelah tertekan sebesar 8,35% pada periode 18—22 Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah dalam perdagangan pekan ini.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menjelaskan bahwa koreksi IHSG pada pekan lalu dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong sikap risk-off di kalangan investor.
Dari sisi eksternal, pasar dihantui oleh kebijakan The Fed yang diprediksi akan mempertahankan suku bunga di level tinggi. Hal ini memicu penguatan dolar AS yang kemudian menekan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, langkah Bank Indonesia (BI) dalam menaikkan suku bunga acuan justru menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi perlambatan likuiditas di sektor ekonomi.
Baca Juga: Deretan Saham Big Caps Penekan IHSG Pekan Ini: TPIA, DSSA hingga BREN Ambles
“Kekhawatiran investor sempat memuncak akibat rencana implementasi kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis, seperti batu bara. Namun, rumor mengenai penundaan kebijakan tersebut hingga 1 Januari 2027 memicu rebound signifikan pada akhir pekan, terutama disokong oleh lonjakan sektor basic materials sebesar 6,85% dan energi sebesar 4,84%,” ungkap Brigita dalam keterangan resminya, Senin (25/5/2026).
Memasuki pekan singkat periode 25—29 Mei 2026, IHSG diperkirakan memiliki peluang untuk melakukan technical rebound terbatas. Aktivitas perdagangan pekan ini diprediksi lebih sensitif dengan fluktuasi tajam karena pasar hanya beroperasi selama tiga hari.
Baca Juga: MSCI dan Ketidakpastian Regulasi Buka Momentum Atur Ulang Portofolio Saham
Meskipun demikian, Brigita mencatat bahwa sentimen domestik terbantu oleh hasil review FTSE Russell yang dinilai konstruktif, sehingga mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi outflow dalam jumlah besar. Selain itu, kebijakan kenaikan suku bunga BI mulai memberikan dampak positif terhadap stabilisasi rupiah, meski ruang penguatannya masih terbatas oleh dominasi dolar AS.
“Perhatian investor domestik kini tertuju pada kepastian implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara yang tetap efektif mulai 1 Juni 2026. Hal ini masih menyisakan volatilitas pada saham sektor energi dan bahan baku seiring upaya investor dalam menakar dampaknya terhadap struktur distribusi ekspor nasional,” tambahnya.
Baca Juga: Ketidakpastian Regulasi Ekspor Satu Pintu Picu ‘Rebound Semu’ Pasar Saham
Secara teknikal, pergerakan IHSG yang berada jauh di bawah SMA-50 pada area 7.166 mengindikasikan tren pelemahan jangka menengah yang masih mendominasi. Walaupun IHSG sempat menguat 1,10% pada Jumat (22/5), potensi pemulihan indeks dinilai masih rentan terhadap volatilitas tinggi menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026.
Dalam jangka pendek, IHSG diprediksi bergerak sideways dengan tingkat volatilitas tinggi pada rentang support 5.996—5.899 dan resistance 6.318—6.459. Menurut Brigita, level 5.899 menjadi batas krusial untuk menjaga peluang rebound, sementara penembusan di atas 6.318 berpotensi membuka ruang penguatan lebih lanjut.
Tekanan jual diperkirakan mulai mereda setelah periode rebalancing berakhir. Hal ini membuka peluang bagi IHSG untuk bergerak lebih stabil, terutama jika nilai tukar rupiah tetap terjaga dan sentimen global membaik menyusul perkembangan negosiasi AS–Iran yang dapat menekan harga energi dan yield US Treasury.
Berikut rekomendasi saham dari Indo Premier Sekuritas (IPOT) untuk pekan ini:
- Buy PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA): Target harga Rp3.000 dengan stop loss di area Rp2.610.
- Buy PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN): Target harga Rp2.530 dengan stop loss di area Rp2.310.
- Buy PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ): Target harga Rp1.725 dengan stop loss di area Rp1.590.
_____
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi tersebut.
Ringkasan
IHSG diprediksi akan terus bergerak volatil dengan kecenderungan melemah pada perdagangan pekan ini akibat kombinasi sentimen global, seperti kebijakan suku bunga tinggi The Fed, serta ketidakpastian domestik terkait implementasi kebijakan ekspor satu pintu Danantara. Meskipun sempat mencatatkan rebound, posisi indeks yang berada di bawah level SMA-50 mengindikasikan tren pelemahan jangka menengah yang masih mendominasi pasar. Selain itu, investor kini bersikap waspada menjelang periode rebalancing MSCI yang akan berlangsung pada 29 Mei 2026.
Secara teknikal, indeks diperkirakan akan bergerak sideways pada rentang support 5.996—5.899 dan resistance 6.318—6.459. Indo Premier Sekuritas menilai tekanan jual berpotensi mereda setelah proses rebalancing berakhir, dengan syarat stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga. Untuk perdagangan pekan ini, analis merekomendasikan opsi beli pada saham MDKA, BTPN, dan ULTJ dengan memperhatikan batas stop loss yang telah ditentukan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia