Elon Musk Beli Saham Tesla Rp 16,3 Triliun: Sinyal Kuat?

NEW YORK, KOMPAS.com – Elon Musk kembali membuat gebrakan di pasar saham dengan pembelian signifikan. CEO visioner ini baru saja menginvestasikan 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,3 triliun (dengan asumsi kurs Rp 13.635 per dollar AS) untuk saham Tesla pada Jumat (12/9/2025) waktu setempat. Informasi pembelian besar ini terungkap melalui dokumen yang diajukan ke otoritas bursa AS pada Senin (15/9/2025), memicu gelombang optimisme di kalangan investor.

Advertisements

Langkah Elon Musk ini terbilang langka dan menarik perhatian, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga di kalangan CEO perusahaan publik lainnya. Kebanyakan pemimpin bisnis cenderung memanfaatkan opsi saham untuk membeli saham perusahaan mereka dengan harga diskon, bukan menggunakan dana pribadi sebesar ini di pasar terbuka. Oleh karena itu, pembelian saham langsung oleh Musk ini dipandang sebagai sinyal kuat kepercayaan terhadap prospek Tesla dan komitmennya yang tak tergoyahkan untuk masa depan perusahaan.

Dampak dari berita ini tidak perlu menunggu lama. Saham Tesla (TSLA) melonjak 7 persen pada pembukaan bursa saham AS hari itu. Dan Ives, analis teknologi di Wedbush Securities, dengan antusias menyatakan, “Ini adalah tanda kepercayaan yang sangat besar dari Musk, dan para investor optimistis senang melihat ini.” Ia menambahkan, “Langkah ini mengirimkan sinyal positif setelah tahun yang penuh gejolak bagi Musk dan para pemegang saham Tesla,” menggarisbawahi pentingnya momen ini.

Pembelian saham senilai 1 miliar dollar AS ini, meskipun simbolis dalam beberapa aspek, juga menjadi indikasi nyata dari kekayaan Elon Musk yang luar biasa. Bagi orang terkaya di dunia, harga saham Tesla dipandang cukup terjangkau. Bahkan, kenaikan saham Tesla pada pembukaan perdagangan Senin tersebut secara paradoks justru menambah sekitar 8,6 miliar dollar AS ke kekayaan bersih Elon Musk, menunjukkan dinamika unik antara investasinya dan pergerakan pasar.

Advertisements

Sebelum pembelian saham yang memompa semangat ini, Tesla dan Elon Musk telah melalui periode yang penuh tantangan. Saham Tesla sempat melonjak hampir dua kali lipat setelah pemilu AS, didorong oleh spekulasi investor bahwa hubungan dekat Musk dengan Presiden terpilih Donald Trump saat itu akan menguntungkan prospek keuangan Tesla, terutama rencana ambisiusnya dalam mobil swakemudi dan armada robotaxi. Namun, setelah mencapai rekor tertinggi pada pertengahan Desember 2024, saham Tesla mulai merosot tajam.

Pada April 2025, saham Tesla telah kehilangan semua keuntungan pasca-pemilu dan terus menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun. Kondisi ini diperparah ketika Musk aktif menjalankan Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE) di era pemerintahan Trump, yang memicu reaksi keras dari kelompok yang menentang Trump. Akibatnya, Tesla mencatat penurunan penjualan terbesar dalam sejarah pada kuartal I dan II, dengan laba yang ikut anjlok signifikan.

Selain gejolak politik yang merugikan penjualan, Tesla juga menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar kendaraan listrik (EV) global, terutama dari produsen mobil lain, khususnya di China. BYD, produsen mobil listrik China, bahkan siap melampaui Tesla sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, meskipun mobilnya belum tersedia di pasar AS. Di tengah berbagai tekanan ini, Musk juga sempat berselisih dengan Trump ketika ia memutuskan untuk meninggalkan perannya di pemerintahan dan kembali fokus ke Tesla.

Dewan direksi Tesla, dalam pernyataan proksi minggu lalu, secara eksplisit menekankan pentingnya menjaga fokus Elon Musk pada Tesla di masa mendatang. Mengingat ia juga menjabat sebagai CEO di beberapa perusahaan besar lainnya seperti perusahaan roket SpaceX, dan perusahaan kecerdasan buatan xAI yang juga mengelola platform media sosial X setelah diakuisisi seharga 44 miliar dollar AS pada tahun 2022, kekhawatiran dewan direksi cukup beralasan. Selain itu, Musk tetap aktif di dunia politik meskipun telah berselisih dengan Trump, bahkan mengumumkan rencana untuk membentuk partai politik ketiga, yang detailnya masih belum jelas.

Dengan semua latar belakang tantangan dan komitmen yang tersebar, pembelian saham senilai 1 miliar dollar AS ini menjadi pernyataan yang kuat dari Elon Musk. Ini menegaskan kembali kepercayaan pribadinya pada Tesla dan mengirimkan sinyal stabilitas kepada pasar, menandakan bahwa, terlepas dari berbagai kepentingan dan ambisi, Tesla tetap menjadi inti dari visi dan investasinya.

Ringkasan

Elon Musk menginvestasikan 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 16,3 triliun) untuk saham Tesla pada 12 September 2025, yang diungkap pada 15 September 2025. Pembelian signifikan ini, menggunakan dana pribadi di pasar terbuka, dianggap sebagai sinyal kuat kepercayaan Musk terhadap prospek Tesla dan komitmennya yang tak tergoyahkan. Dampaknya, saham Tesla (TSLA) melonjak 7 persen setelah berita tersebut tersiar.

Langkah ini dilakukan setelah Tesla dan Musk melalui periode penuh tantangan, ditandai dengan penurunan harga saham yang signifikan, penurunan penjualan, dan persaingan ketat. Selain itu, dewan direksi juga mengkhawatirkan fokus Musk yang terbagi di beberapa perusahaan dan aktivitas politiknya. Investasi ini menegaskan kembali kepercayaan pribadi Musk pada Tesla dan mengirimkan sinyal stabilitas kepada pasar.

Advertisements