JogloNesia JAKARTA. Tidak hanya emas, tren penguatan harga komoditas logam diprediksi masih akan berlanjut, dengan perak menunjukkan kinerja impresif dan tembaga menghadapi tantangan unik.
Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (16/9/2025) pukul 20.27 WIB, harga perak terpantau naik 0,48% ke level US$ 42,90 per troi ons. Lebih menarik lagi, dalam sebulan terakhir, perak telah melonjak signifikan sebesar 12,31%, menempatkannya dalam sorotan pasar.
Sementara itu, pada waktu yang sama, harga tembaga terkoreksi tipis 0,46% secara harian menjadi US$ 4,6319 per pon. Meskipun demikian, komoditas industri ini tetap menunjukkan performa positif secara bulanan dengan kenaikan 3,94%.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mencermati bahwa baik perak maupun tembaga sama-sama diuntungkan oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Namun, terdapat faktor pembeda krusial yang menjelaskan mengapa perak cenderung stabil dan terus menanjak, sementara tembaga mengalami koreksi sesaat.
Sutopo menjelaskan, kinerja cemerlang perak didukung oleh daya tariknya sebagai aset safe haven di tengah gejolak geopolitik dan inflasi global. Tidak hanya itu, permintaan industri perak yang sangat kuat dari sektor-sektor berkembang seperti panel surya, kendaraan listrik, dan elektronik, turut menjadi penopang harga. “Pertumbuhan berkelanjutan di sektor-sektor ini, ditambah dengan kendala pasokan fisik, menjadi faktor pendorong utama bagi harga perak,” ujarnya.
Di sisi lain, meskipun tembaga juga mengantisipasi manfaat dari kebijakan pelonggaran The Fed, harganya sempat melemah. Hal ini terutama disebabkan oleh kekhawatiran akan lambatnya permintaan dari Tiongkok, yang dikenal sebagai konsumen tembaga terbesar di dunia. “Data perekonomian Tiongkok yang cenderung melambat dan penurunan produksi pabrik, memicu kekhawatiran akan surplus pasokan, sehingga menekan harga,” tambah Sutopo.
Oleh karena itu, Sutopo mencermati bahwa hingga akhir tahun, pasokan khususnya dari Tiongkok akan menjadi sentimen penting yang harus diperhatikan. “Jika Tiongkok menunjukkan pemulihan ekonomi yang kuat, permintaan tembaga akan kembali naik secara signifikan,” papar Sutopo, menyoroti peran sentral ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut.
Selain itu, Sutopo menilai bahwa ketegangan geopolitik dan perkembangan negosiasi perdagangan AS–Tiongkok juga akan terus mempengaruhi sentimen investor terhadap pasar komoditas logam. Bagaimanapun, ia mencermati bahwa harga tembaga masih berpotensi untuk kembali menguat jika pasokan global tetap ketat.
Melihat kondisi tersebut, Sutopo memproyeksikan harga tembaga dapat menyentuh US$ 4,2–US$ 5 per pon hingga akhir tahun. Sedangkan untuk perak, harganya diproyeksikan akan berada dalam kisaran US$ 28 hingga US$ 32 per ons. “Potensi mencapai level yang lebih tinggi sangat terbuka, terutama jika The Fed melakukan pemangkasan suku bunga lebih dari yang diperkirakan pasar,” pungkas Sutopo, memberikan gambaran optimis bagi investasi perak.
Ringkasan
Harga perak melonjak signifikan 12,31% dalam sebulan terakhir menjadi US$42,90 per troi ons, ditopang statusnya sebagai aset *safe haven* dan permintaan industri kuat dari panel surya serta kendaraan listrik. Sementara itu, tembaga terkoreksi tipis harian ke US$4,6319 per pon, meskipun secara bulanan naik 3,94%. Kedua komoditas ini diuntungkan oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dari The Fed.
Koreksi tembaga disebabkan oleh kekhawatiran lambatnya permintaan dari Tiongkok, konsumen terbesar, di tengah data ekonomi yang melambat dan penurunan produksi pabrik. Tembaga berpotensi menguat jika pasokan global ketat dan ekonomi Tiongkok pulih, dengan proyeksi harga US$4,2–US$5 per pon hingga akhir tahun. Perak diproyeksikan berada dalam kisaran US$28–US$32 per ons, dengan potensi kenaikan lebih tinggi jika The Fed memangkas suku bunga lebih dari perkiraan pasar.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia