Buyback Saham Ramai: Rekomendasi Analis untuk Investor Cerdas!

JogloNesia JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah gencar melakukan aksi korporasi buyback saham. Aksi ini diharapkan menjadi angin segar dan memberikan sentimen positif bagi pasar modal. Apa saja emiten yang melakukan buyback dan bagaimana dampaknya bagi investor?

Advertisements

Terbaru, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), perusahaan energi terkemuka, berencana melakukan buyback saham dengan nilai fantastis, mencapai Rp 2,49 triliun. Nilai ini setara dengan 10% dari total modal yang telah disetor perusahaan.

Di sektor energi, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga tak ketinggalan. Mereka melanjutkan program buyback tahap II dengan mengalokasikan dana sebesar US$ 50 juta, atau setara dengan Rp 815 miliar (dengan asumsi kurs Rp 16.300 per dolar AS).

Aksi buyback juga merambah sektor menara telekomunikasi. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turut serta menggelar aksi korporasi ini, dengan nilai masing-masing sebesar Rp 1 triliun dan Rp 200 miliar.

Advertisements

Sektor kesehatan pun tak mau ketinggalan. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), perusahaan farmasi raksasa, menyiapkan dana hingga Rp 250 miliar untuk buyback saham. Selain itu, emiten di sektor perkebunan kelapa sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), juga berencana melakukan aksi serupa dengan nilai mencapai Rp 90 miliar.

Indo Tambangraya (ITMG) Bakal Buyback Saham Rp 2,49 Triliun Menggunakan Kas Internal

Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, aksi buyback saham umumnya dipandang sebagai langkah positif bagi para pemegang saham. Pasalnya, tindakan ini secara langsung mengurangi jumlah saham yang beredar di pasar, sehingga berpotensi meningkatkan valuasi per lembar saham. Lebih dari itu, buyback juga mencerminkan kepercayaan diri manajemen terhadap prospek kinerja perusahaan di masa depan.

“Strategi ini lazimnya ditempuh saat harga saham mengalami koreksi. Selain berfungsi menahan tekanan harga, buyback juga memungkinkan perusahaan memperoleh kembali sahamnya pada valuasi yang relatif menarik,” jelas Imam kepada Kontan, Kamis (18/9/2025).

Meski demikian, Imam mengingatkan bahwa mekanisme buyback umumnya bersifat pasif, sehingga dampaknya terhadap kenaikan harga saham relatif terbatas.

“Efek utama justru berasal dari sentimen pasar terhadap aksi tersebut, bukan dari seberapa besar pembelian yang dilakukan perusahaan,” imbuhnya.

Oleh karena itu, bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum buyback, penting untuk mencermati harga maksimum pembelian yang ditetapkan oleh perusahaan. Tujuannya, agar investor tidak melakukan akumulasi pada level harga yang terlalu tinggi.

RUPSLB Mitratel (MTEL), Dapat Restu Buyback dan Angkat Komisaris Baru

Senada dengan Imam, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai aksi buyback sebagai sinyal positif dari manajemen bahwa valuasi saham perusahaan masih tergolong menarik. Selain itu, buyback juga berpotensi meningkatkan laba per saham (EPS) sekaligus membantu menjaga stabilitas harga saham.

Namun, berkaca pada data historis di BEI, buyback lebih efektif sebagai penahan tekanan jual dibandingkan sebagai pemicu kenaikan harga yang signifikan, kecuali jika porsi buyback tersebut cukup besar terhadap kapitalisasi pasar.

“Berdasarkan data historis, buyback yang dilakukan oleh emiten besar seperti TOWR, KLBF, dan MEDC lebih banyak berperan dalam menjaga stabilitas harga daripada mendorong rally. Investor perlu memperhatikan besaran buyback terhadap market cap serta konsistensi eksekusinya,” papar Sukarno kepada Kontan, Kamis (18/9/2025).

Sementara itu, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Gani, berpendapat bahwa aksi korporasi buyback secara historis tidak menjamin adanya kenaikan harga saham. Oleh karena itu, ia menyarankan agar investor tetap mencermati kondisi fundamental perusahaan, kondisi makroekonomi, dan sentimen-sentimen lain yang relevan.

Buyback bisa membantu menstabilkan harga saham. Tapi, bukan berarti serta merta setelah ada buyback, harga saham pasti naik atau turun,” jelas Gani kepada Kontan, Kamis (18/9/2025).

Cisadane Sawit Raya (CSRA) Siapkan Dana Rp 90 Miliar Untuk Buyback Tanpa RUPS

Saham Pilihan

Sukarno menjelaskan bahwa di antara emiten yang tengah melakukan buyback, KLBF dinilai sebagai saham yang defensif dengan valuasi moderat serta memiliki prospek jangka panjang yang stabil. Sementara itu, TOWR dan MTEL relatif masih murah sehingga menarik bagi investor dengan strategi value investing.

MEDC juga tergolong murah, dengan aksi buyback dalam jumlah besar yang berpotensi menjadi katalis positif. Akan tetapi, kinerja perusahaan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak. CSRA, sebagai emiten berkapitalisasi kecil, menjalankan buyback yang cukup signifikan sehingga berpotensi mendongkrak harga saham, meskipun risikonya juga cukup tinggi.

Saat ini, Sukarno merekomendasikan buy untuk saham MTEL, TOWR, dan MEDC dengan target harga masing-masing Rp 690, Rp 700, dan Rp 1.450 per saham.

Imam juga menilai TOWR sebagai salah satu emiten yang menarik untuk dicermati. Selain program buyback, TOWR juga ditopang oleh fundamental perusahaan yang solid.

Outlook pemangkasan suku bunga di masa depan turut menjadi katalis positif bagi TOWR, mengingat karakter bisnisnya yang capital intensive sehingga sensitif terhadap biaya pendanaan.

Ia menyarankan investor untuk mencermati saham TOWR di area Rp 560-Rp 585 sebagai area entry dengan target terdekat di Rp 630 lalu Rp 680.

Adapun Gani menjatuhkan pilihannya pada saham KLBF dan MEDC dengan rekomendasi buy dan target harga masing-masing di level Rp 1.560 dan Rp 1.600 per saham.

Ringkasan

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) gencar melakukan aksi buyback saham, seperti ITMG (Rp 2,49 triliun), MEDC (US$ 50 juta), MTEL (Rp 1 triliun), TOWR (Rp 200 miliar), KLBF (Rp 250 miliar), dan CSRA (Rp 90 miliar). Aksi korporasi ini umumnya dianggap positif karena mengurangi jumlah saham beredar, berpotensi meningkatkan valuasi, dan menunjukkan kepercayaan manajemen. Buyback juga sering dilakukan saat harga saham terkoreksi untuk menstabilkan dan membeli saham pada valuasi menarik.

Namun, analis berpendapat bahwa dampak langsung buyback terhadap kenaikan harga saham relatif terbatas dan lebih efektif sebagai penahan tekanan jual. Efek utamanya berasal dari sentimen pasar serta fundamental perusahaan, kondisi makroekonomi, dan sentimen lainnya. Beberapa analis merekomendasikan saham seperti MTEL, TOWR, dan MEDC dengan alasan valuasi menarik atau fundamental kuat, sementara KLBF disebut sebagai saham defensif.

Advertisements