JAKARTA – Potensi keuntungan di pasar saham tetap menjadi daya tarik utama bagi investor saat ini. Terlebih, prospek saham perbankan kian menarik untuk dicermati, didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed).
Menurut Harry Su, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, kebijakan pemangkasan suku bunga oleh BI dan The Fed secara historis selalu menjadi katalis positif bagi dinamika pasar saham. Penurunan suku bunga acuan berpotensi meringankan biaya pendanaan bagi sektor korporasi, yang pada gilirannya akan memacu pertumbuhan konsumsi dan investasi. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas di pasar, menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.
Harry menjelaskan, saat suku bunga turun, imbal hasil obligasi cenderung ikut melemah, membuat saham menjadi pilihan investasi yang lebih menarik bagi para investor. Fenomena ini bukan hal baru; secara historis, periode pemangkasan suku bunga kerap berkolerasi dengan penguatan indeks saham, khususnya pada sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap biaya pembiayaan seperti sektor properti, perbankan, dan konsumsi.
Lebih lanjut, Harry menggarisbawahi bahwa sektor perbankan merupakan salah satu penerima manfaat utama dari pemangkasan suku bunga. Penurunan cost of fund (COF) akan secara signifikan meningkatkan margin keuntungan bank, terutama di tengah kondisi pengetatan likuiditas. Selain itu, sektor properti dan saham-saham dengan tingkat leverage tinggi, seperti perusahaan menara telekomunikasi (tower companies), juga diproyeksikan akan meraup keuntungan dari tren penurunan suku bunga ini.
Meski demikian, Harry mengingatkan bahwa durasi investasi yang ideal sangat bergantung pada profil risiko masing-masing investor. Bagi mereka yang mengincar keuntungan dari pertumbuhan fundamental perusahaan, investasi jangka panjang sangat dianjurkan. Untuk mencapai potensi imbal hasil yang optimal sekaligus meminimalkan volatilitas, horizon investasi jangka menengah hingga panjang seringkali menjadi pilihan yang paling disarankan,” pungkas Harry pada Jumat (19/9/2025).
Ringkasan
Ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi pasar saham. Penurunan suku bunga berpotensi meringankan biaya pendanaan korporasi, mendorong konsumsi dan investasi, serta meningkatkan likuiditas pasar. Hal ini juga membuat saham lebih menarik dibandingkan obligasi karena imbal hasil obligasi yang melemah.
Sektor-sektor seperti perbankan, properti, dan saham dengan tingkat leverage tinggi, seperti perusahaan menara telekomunikasi, diproyeksikan akan meraup keuntungan signifikan dari tren ini. Khususnya perbankan, akan melihat peningkatan margin keuntungan dari penurunan biaya pendanaan (cost of fund). Untuk mencapai potensi imbal hasil optimal dan meminimalkan volatilitas, investasi jangka menengah hingga panjang sangat disarankan, terutama bagi investor yang mengincar pertumbuhan fundamental perusahaan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia