JogloNesia – Peluncuran Matchmaking Overnight Index Swap (OIS) yang mengacu pada suku bunga acuan INDONIA oleh Bank Indonesia (BI) mendapat sambutan positif dari para ekonom. Chief of Economist Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menjelaskan bahwa OIS sangat membantu sektor industri perbankan dan finansial dalam mengelola likuiditas, terutama untuk jangka pendek. Di tengah dinamika ekonomi yang penuh tantangan, kebijakan OIS ini hadir sebagai salah satu solusi strategis untuk menjaga roda perekonomian negara tetap berputar.
Manfaat kebijakan BI ini tidak hanya terbatas pada stabilitas perekonomian makro. David Sumual menambahkan, OIS berperan krusial dalam fungsi hedging, yakni menjaga nilai aset agar tidak tergerus oleh fluktuasi ekonomi. “Pada intinya, ini adalah hedging risiko suku bunga. Berbagai pihak di pasar, seperti perusahaan, bank, dan manajemen aset, kini dapat menggunakan OIS ini untuk melindungi diri dari pergerakan suku bunga,” jelas David kepada Tim Kontan pada Jumat, 26 September 2025.
Secara teknis, OIS adalah jenis transaksi swap yang memungkinkan pertukaran aliran suku bunga tetap (fixed) dengan suku bunga mengambang (float), yang perhitungannya didasarkan pada bunga harian (daily compounding). Instrumen ini juga memegang peranan vital dalam memperkuat struktur suku bunga acuan di pasar uang yang berbasis transaksi, memberikan fondasi yang lebih kokoh bagi sistem keuangan.
Lebih jauh, transaksi OIS turut mendukung aspek keberlanjutan bisnis bagi para investor. David mencontohkan, seorang investor yang telah menanamkan modal di Indonesia pasti memiliki proyeksi keuntungan (expect return). Namun, perubahan indikator suku bunga dan nilai tukar valuta asing (valas) dapat mengubah proyeksi tersebut dan memengaruhi margin keuntungan. Dengan adanya Matchmaking OIS, risiko ini dapat diminimalisir.
Oleh karena itu, Matchmaking OIS menjadi instrumen hedging yang sangat relevan dan bermanfaat bagi beragam industri. Dampaknya meluas tidak hanya bagi perbankan, tetapi juga sangat menguntungkan bagi eksportir, importir, dan tentu saja, para investor. David juga menegaskan bahwa Matchmaking OIS akan membantu menjaga nilai aset dalam berbagai instrumen, misalnya aset valas yang sebelumnya sudah dapat di-hedging dengan instrumen seperti swap dan forward yang dimiliki Indonesia. David berharap kebijakan baru BI ini mampu menyerap pasar lebih dalam, membuka peluang lebih besar karena adanya kepastian ekonomi dari bank sentral.
Senada dengan pandangan tersebut, Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memaparkan bahwa Matchmaking OIS secara signifikan memperdalam dan memperkuat spektrum pasar keuangan di Indonesia, khususnya bagi pelaku bisnis. Potensi perputaran ekonomi pun diperkirakan akan semakin besar seiring dengan peningkatan volume transaksi dan tersedianya produk yang lebih efisien.
Bagi masyarakat, keberadaan Matchmaking OIS akan menciptakan koneksi antarbank yang lebih efisien, serta memungkinkan derivatif valuta asing yang berujung pada efisiensi pengeluaran. “Bagi dunia usaha, semua yang semakin murah tentu semakin menguntungkan, baik untuk masyarakat maupun dunia usaha,” jelas Andry. Ia juga menilai bahwa kebijakan BI ini diluncurkan pada waktu yang sangat tepat. Kondisi ekonomi yang saat ini terbebani oleh pelemahan rupiah menuntut adanya produk atau instrumen menarik yang dapat ditempatkan oleh investor asing di pasar domestik.
Sebelumnya, BI bersama OJK dan industri perbankan telah berkolaborasi dalam acara Penandatanganan Perjanjian Induk Derivatif Secara Bersama dan Peluncuran Matchmaking Overnight Index Swap (OIS) di Jakarta, pada Jumat (26/9).
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa melalui Matchmaking OIS, BI berkomitmen untuk terus memperdalam pasar keuangan melalui peningkatan volume transaksi dan pembentukan harga yang lebih kredibel. Fokus di pasar uang diarahkan pada transaksi repo dan Overnight Index Swap (OIS) yang mengacu pada suku bunga acuan INDONIA. Sementara itu, di pasar valuta asing, penguatan dilakukan melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan FX Swap, dengan referensi kurs JISDOR serta kurs acuan non-USD/IDR.
Secara spesifik, fungsi utama Matchmaking OIS adalah memfasilitasi pencocokan transaksi antarbank, yang pada akhirnya menghasilkan pembentukan harga yang lebih efisien dan interaksi pasar yang lebih lancar. Ketersediaan suku bunga acuan berbasis INDONIA juga diharapkan mampu memperkuat mekanisme harga instrumen OIS yang bersifat forward looking. BI mencatat perkembangan positif di pasar valas, di mana hingga Agustus 2025, rata-rata harian transaksi DNDF telah mencapai USD212 juta, atau sekitar sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan awal penerapannya pada tahun 2018. Meski demikian, capaian ini masih perlu terus ditingkatkan.
“Tentunya BI tidak bisa bekerja sendirian. Diperlukan sinergi dan kerja sama kita bersama. Kolaborasi yang kuat sangat esensial untuk memperkuat instrumen finansial yang akan semakin mengukuhkan perekonomian,” ujar Destry, menekankan pentingnya kerja sama semua pihak.
Sejalan dengan itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menilai bahwa penggunaan INDONIA sebagai acuan OIS merupakan langkah strategis yang signifikan untuk meningkatkan kredibilitas, transparansi, dan efektivitas suku bunga rupiah. OJK sendiri berkomitmen penuh untuk melakukan pemantauan, pendampingan, serta mendorong pemanfaatan instrumen berbasis INDONIA agar dapat memberikan manfaat optimal bagi stabilitas sistem keuangan nasional.
Ringkasan
Peluncuran Matchmaking Overnight Index Swap (OIS) oleh Bank Indonesia (BI) yang mengacu pada suku bunga acuan INDONIA mendapat sambutan positif sebagai solusi strategis. Instrumen ini dirancang untuk membantu sektor perbankan dan finansial mengelola likuiditas jangka pendek serta berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) risiko suku bunga. OIS berperan krusial dalam menjaga nilai aset dari fluktuasi ekonomi dan mendukung keberlanjutan bisnis investor, serta dipercaya mampu mendorong kepastian ekonomi.
Secara teknis, OIS memfasilitasi pertukaran aliran suku bunga tetap dengan suku bunga mengambang, memperkuat struktur suku bunga acuan di pasar uang. Kebijakan ini dinilai mampu memperdalam dan memperkuat pasar keuangan Indonesia, meningkatkan efisiensi koneksi antarbank, dan derivatif valuta asing yang menguntungkan dunia usaha. BI berkomitmen, dengan dukungan OJK dan industri perbankan, untuk terus memperdalam pasar keuangan melalui peningkatan volume transaksi dan pembentukan harga yang lebih kredibel.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia