Tragedi Ponpes Alkhoziny: Kesaksian Korban Selamat Ungkap Penyiksaan Mengerikan

Setelah dua malam terkubur di bawah tumpukan beton yang menelan musala pondok pesantrennya, Alfatih Cakra Buana, seorang santri berusia 14 tahun, akhirnya merangkak keluar dari reruntuhan. Dipandu suara tim evakuasi yang berhasil memastikan jalur aman, momen keajaiban itu mengubah keputusasaan menjadi kelegaan.

Advertisements

Dalam kegelapan pekat yang menyelimutinya selama dua malam, suara samar dari luar reruntuhan menjadi satu-satunya jembatan ke dunia nyata. “Sabar, sabar ya dik,” kenang Alfatih, yang ia balas dengan lirih, “Nggih pak, nggih.” Dialog singkat itu terus terulang hingga kesadarannya memudar.

Terperangkap dalam posisi merebah miring, tubuh Alfatih tertutup material berpasir. Beruntung, bagian kepalanya relatif bebas dari material reruntuhan, menciptakan celah kecil yang esensial untuknya bernapas di tengah kegelapan absolut.

Alfatih adalah satu dari lima anak yang berhasil diselamatkan oleh tim SAR gabungan dari reruntuhan musala Pondok Pesantren Al-Ghaziny di Sidoarjo, Jawa Timur. Penyelamatan heroik ini berlangsung sepanjang Rabu (01/10), setelah bangunan itu runtuh pada Senin sore.

Advertisements

Kisah nahas bermula pada Senin sore itu, ketika Alfatih sedang menunaikan salat berjamaah. Sebuah getaran kuat tiba-tiba mengguncang. Ia sempat mencoba berlari menyelamatkan diri, namun terlambat. “Ada getaran, lalu [saya] langsung lari dan bangunan runtuh,” ujarnya.

Beberapa saat setelah kejadian, Alfatih masih sempat meminta tolong. Ia juga mendengar jeritan serupa dari berbagai penjuru lokasi reruntuhan yang gelap gulita. Namun, tak lama kemudian, kesadarannya mulai kacau. Ia tak lagi bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.

Itulah kondisi yang dialami Alfatih, sementara di luar, tim SAR gabungan tanpa henti berpacu dengan waktu dari Senin (29/09) hingga Rabu (01/10) malam. Mereka berada dalam ‘golden time’ yang krusial, mencari setiap tanda kehidupan di bawah puing-puing bangunan.

“Sempat ada selang air, saya minum, tapi itu terasa seperti mimpi,” jelas Alfatih, menggambarkan kondisi setengah sadarnya. Yang ia ingat hanyalah tubuhnya yang sulit digerakkan. Saking lamanya, Alfatih merasa seperti tertidur selama seminggu penuh.

Dalam detik-detik genting penyelamatan, Alfatih mendengar suara seperti ketukan berulang. “Ketika terbangun, ada lubang, dan tim penyelamat,” tambahnya, menceritakan momen dramatis tersebut. “Saya disuruh merangkak, lalu bisa keluar, dan langsung masuk ambulans.” Setelah sadar bahwa ia telah selamat, kalimat polos pertama yang terlontar dari bibirnya adalah, “Tolong belikan es.” Ambulans kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat untuk penanganan medis.

Alfatih anak kita semua

Rabu malam (01/10) menjadi puncak penantian yang penuh ketegangan bagi Abdul Hannan Ikhsan, ayah Alfatih. Tangisnya langsung pecah di posko evakuasi, di tengah kerumunan para wali santri yang masih menanti kabar anak-anak mereka. Tim Basarnas menghubungi Hannan, menyampaikan kabar baik yang ia dambakan sejak Senin sore.

“Saya tidak terbayang, anak saya berada di daftar yang selamat, saya mencoba membaca salawat tak henti,” ungkap Hannan dengan nada penuh syukur. “Ini hampir 70 jam, anak itu kemungkinan tidak bertahan, tapi saya percaya, apabila Alfatih ditakdirkan hidup, pasti akan selamat,” tambahnya, mengenang keyakinannya di tengah harapan yang menipis.

Selama hari-hari penantian yang menyiksa, Hannan tak henti memandangi ponselnya, melihat foto-foto putranya. Ia juga berulang kali berbicara dengan tim Basarnas di posko, mencari tahu setiap perkembangan proses evakuasi yang sedang berlangsung.

Kabar baik itu datang dan memecahkan rasa syukurnya yang mendalam. Namun, ia juga sangat memahami kecemasan yang dirasakan para orang tua lain yang masih menanti anak mereka kembali. “Alfatih kini jadi anak kita bersama, kalau misal ada dari orang tua yang anaknya ditakdirkan syahid, ini anak kalian juga, semoga semua diberikan ketegaran,” ujarnya, menyiratkan pesan solidaritas dan ketabahan.

Pada Kamis (02/10) pagi, senyum sumringah terpancar di wajah Hannan. Ia duduk di samping putranya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. “Kamu paling suka apa? Ayam atau daging?” tanya Hannan lembut. “Ayam,” sambut Alfatih, walau masih nampak lemas, sesekali tersenyum ketika sang ayah mengajaknya bercanda. Tak lama kemudian, sang ibu dengan telaten memotong kuku dan membersihkan tangan Alfatih.

Raut wajah keluarga itu kini berubah drastis dibandingkan dengan pagi Rabu (01/10) yang kelam. Kala itu, Hannan, sebagai ayah yang tak tahu nasib anaknya, duduk bersandar di tembok koridor pesantren, bersama banyak wali santri lain yang menanti kepastian. “Mudah-mudahan kalau bertawakal ada kemudahan, dan banyak [anak] yang bisa terselamatkan,” ungkapnya penuh harap pada Rabu pagi itu.

Hingga Rabu malam, saat harapan semakin tipis, suara ambulans dari kejauhan menggema sampai ke posko evakuasi, sekitar 200 meter dari reruntuhan. Kabar burung tentang korban selamat sudah menyebar di kalangan wali murid, meski Hannan belum tahu pasti anaknya termasuk di antara mereka. Semua wali santri di lokasi itu sama-sama dilanda cemas. Namun, beberapa saat kemudian, tangis bahagia Hannan membasahi pipinya, di tengah hiruk-pikuk dan lega yang memenuhi posko evakuasi.

Rencana selanjutnya

Dua belas jam setelah penyelamatan Alfatih, dokter memberi tahu Hannan bahwa kondisi putranya cukup stabil. Alfatih tidak mengalami luka dalam, hanya beberapa bekas luka terlihat di lengannya, sehingga ia bisa segera pulang ke Bangkalan, Madura. Dengan sedikit bercanda, Hannan menantang anaknya, “Al mau apa?” Alfatih dengan sigap menjawab, “Mau motor dua tak.”

Hannan berencana menunggu pemulihan fisik dan psikis Alfatih secara menyeluruh, agar di kemudian hari, ia bisa merencanakan langkah terbaik untuk masa depan putranya. Tak lama kemudian, ponsel Hannan berdering, menampilkan panggilan video masuk dari adik Alfatih. “Kakak, kapan pulang?” tanya sang adik di ujung sana. “Besok,” jawab Alfatih dengan mantap.

Tentu saja, Hannan masih menunggu kepastian dari dokter yang merawat Alfatih. Namun, yang jelas, setelah mengetahui putranya selamat, Hannan mengaku baru bisa mandi dan menikmati makanan dengan rasa yang jauh lebih enak, sebuah indikasi betapa besar beban yang terangkat dari pundaknya.

Ringkasan

Alfatih Cakra Buana, seorang santri berusia 14 tahun, berhasil selamat setelah dua malam atau sekitar 70 jam terkubur di bawah reruntuhan musala Pondok Pesantren Al-Ghaziny di Sidoarjo. Bangunan itu runtuh pada Senin sore saat Alfatih sedang menunaikan salat berjamaah. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasinya pada Rabu malam, menjadikannya satu dari lima santri yang ditemukan hidup. Selama terjebak, Alfatih berada dalam kondisi setengah sadar, namun kepalanya relatif bebas sehingga bisa bernapas.

Setelah penyelamatan dramatis, Alfatih langsung dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan dalam kondisi stabil, hanya mengalami luka ringan di lengan. Ayahnya, Abdul Hannan Ikhsan, mengungkapkan rasa syukur tak terhingga dan kepercayaan teguh akan keselamatan putranya. Keluarga berencana menunggu pemulihan fisik dan psikis Alfatih secara menyeluruh sebelum merencanakan masa depannya. Alfatih diharapkan dapat segera pulang ke Bangkalan, Madura, setelah penanganan medis.

Advertisements