
Gencatan senjata di Gaza tidak boleh sekadar menjadi “harapan palsu” bagi rakyat Palestina. Demikian tegas Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat (OCHA), Tom Fletcher, pada Kamis.
Melalui unggahan di platform X, Tom Fletcher menyerukan tindakan segera yang krusial. “Mari kita bebaskan para sandera dan segera kirimkan bantuan. Kami kerahkan tim penuh untuk memobilisasi truk besar-besaran dan menyelamatkan nyawa. Mereka membutuhkan akses yang aman,” tulis Fletcher, sebagaimana dikutip oleh Antara.
Ia menekankan bahwa momen krusial ini, yang telah lama diperjuangkan, tidak boleh berakhir sebagai ilusi semata bagi semua pihak yang mendambakan penghentian konflik. Fletcher sendiri berada di Arab Saudi, berkoordinasi erat dengan tim PBB di Gaza, Amerika Serikat, dan mitra-mitra regional lainnya. Tujuannya adalah “memanfaatkan peluang kesepakatan damai” yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump, demi “menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin.”
Dalam konferensi video dari Riyadh, seperti dilaporkan Anadolu, Tom Fletcher memaparkan rencana ambisius PBB untuk bantuan kemanusiaan. Dalam 60 hari pertama gencatan senjata, para aktivis kemanusiaan akan meningkatkan jalur pasokan hingga ratusan truk setiap harinya. Prioritas utama adalah penyediaan bantuan makanan yang menargetkan 500.000 orang dengan kebutuhan nutrisi mendesak dan 2,1 juta orang yang memerlukan bantuan pangan.
Fletcher menegaskan, “Kelaparan harus dibalikkan di daerah-daerah yang telah dilanda kelaparan dan dicegah di wilayah-wilayah lain.” Untuk mencapai hal tersebut, tim akan mendistribusikan ransum, mendukung operasional toko roti dan dapur umum, serta menyalurkan bantuan tunai kepada 200.000 keluarga guna memenuhi kebutuhan makanan pokok mereka.
Tidak hanya itu, sektor air dan sanitasi juga menjadi fokus utama dalam upaya bantuan kemanusiaan ini. PBB menargetkan 1,4 juta warga Palestina di Gaza untuk mendapatkan layanan air dan sanitasi yang memadai. “Kami akan membantu memulihkan jaringan air, untuk (mengurangi) ketergantungan masyarakat pada pengangkutan air,” jelasnya, menyoroti pentingnya akses air bersih yang berkelanjutan.
Selain kebutuhan dasar tersebut, Tom Fletcher juga mengungkapkan rencana distribusi “ribuan tenda setiap minggu” dan pembukaan kembali ruang belajar bagi 700.000 anak usia sekolah. Ia menambahkan bahwa fokus utama akan diberikan kepada keluarga besar dan rentan, terutama mereka yang terjebak dalam kondisi sangat memprihatinkan di lokasi yang tidak layak huni dan padat.
Secara tegas, Fletcher menekankan bahwa perlindungan warga sipil dan jaminan “akses kemanusiaan tanpa hambatan” adalah hal yang fundamental. “Blokade harus dicabut,” ujarnya, sembari menegaskan komitmen PBB untuk “terus menuntut hal itu.”
Namun, upaya masif ini menghadapi tantangan finansial yang serius. Kepala Badan Bantuan PBB itu memperingatkan bahwa baru 28 persen dari US$4 miliar yang dibutuhkan untuk permohonan bantuan kilat tahun 2025 bagi wilayah Palestina yang diduduki telah didanai. “Setiap pemerintah, setiap negara, setiap individu, sekaranglah saatnya untuk memanfaatkan kemurahan hati itu, untuk membantu kami mewujudkannya, untuk membantu kami menyelamatkan begitu banyak nyawa di Jalur Gaza,” serunya, menyerukan dukungan global.
Dalam kesempatan terpisah, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, mengonfirmasi bahwa PBB telah mendapatkan izin dari Israel untuk mengirimkan 170.000 metrik ton pasokan esensial. Pasokan tersebut mencakup makanan, kebutuhan kesehatan, nutrisi, perlengkapan tempat tinggal, dan bantuan penting lainnya.
Dujarric menjelaskan bahwa pasokan tersebut saat ini telah berada di kawasan itu, sebagian besar di Israel, serta di Tepi Barat, Yordania, Mesir, dan Siprus. Ia menambahkan bahwa upaya untuk memastikan akses tanpa hambatan ke jalur distribusi sedang diusahakan, yang berarti pembukaan semua perlintasan menuju Gaza harus direalisasikan.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) sendiri menguraikan bahwa rencana respons awal komunitas kemanusiaan untuk 60 hari pertama gencatan senjata memprioritaskan pemulihan distribusi dan layanan berbasis komunitas dan rumah tangga. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjangkau mereka yang paling rentan.
Lebih lanjut, OCHA menyatakan bahwa para mitranya akan meningkatkan dukungan untuk produksi pangan setempat, pemeriksaan dan pengobatan malanutrisi, pemulihan layanan kesehatan esensial, perbaikan jaringan air yang rusak, serta lonjakan besar-besaran dalam penyediaan tempat penampungan darurat.
Di sisi politik, pada Rabu, Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama perjanjian damai Gaza. Perjanjian tersebut menyepakati pembebasan sandera yang ditawan oleh kelompok perlawanan Palestina dan penarikan pasukan Israel ke garis yang telah disepakati.
Rencana 20 poin yang diajukan oleh Trump untuk mengakhiri konflik di Gaza mencakup seruan gencatan senjata segera dan pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.
Rencana itu juga menggarisbawahi bahwa Hamas harus melucuti senjata dan tidak terlibat dalam pemerintahan Gaza di masa depan. Sebagai gantinya, pemerintahan akan diserahkan kepada “komite teknokrat Palestina yang apolitis” di bawah pengawasan dewan internasional yang dipimpin oleh Trump.
Pilihan Editor: AS Kirim 200 Tentara ke Israel untuk Pantau Gencatan Senjata Gaza
Ringkasan
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menegaskan bahwa gencatan senjata di Gaza tidak boleh menjadi “harapan palsu” bagi rakyat Palestina. PBB berencana meningkatkan jalur pasokan bantuan hingga ratusan truk setiap hari dalam 60 hari pertama, dengan prioritas pada makanan, air, sanitasi, tenda, dan pendidikan. Perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, serta pencabutan blokade digarisbawahi sebagai hal yang fundamental.
PBB telah memperoleh izin dari Israel untuk mengirimkan 170.000 metrik ton pasokan esensial yang kini siap didistribusikan, namun membutuhkan pembukaan semua perlintasan menuju Gaza. Upaya besar ini menghadapi tantangan finansial, karena baru 28 persen dari US$4 miliar yang dibutuhkan untuk permohonan bantuan kilat tahun 2025 telah didanai. Secara politik, Donald Trump mengumumkan Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama perjanjian damai Gaza, yang meliputi gencatan senjata, pembebasan sandera, dan penarikan pasukan Israel.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia