
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan puncak krusial untuk membahas usulan mengakhiri perang Israel di Gaza. Pertemuan tingkat tinggi yang berpotensi mengubah lanskap konflik ini akan berlangsung di resor tepi Laut Merah, Sharm el-Sheikh, pada Senin, 12 Oktober 2025.
Menurut Presiden El Sisi, seperti dilansir Al Jazeera, pertemuan tersebut akan mengumpulkan para pemimpin dari 20 negara. “Tujuannya adalah mengakhiri perang di Jalur Gaza, meningkatkan upaya mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, serta mengawali era baru keamanan dan stabilitas regional,” demikian pernyataan resmi pada Sabtu, 11 Oktober 2025, yang menegaskan ambisi besar dari inisiatif diplomatik ini.
Sejumlah tokoh global telah mengonfirmasi kehadiran mereka, termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, serta Presiden Prancis Emmanuel Macron. Namun, masih menjadi pertanyaan besar dan krusial apakah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atau perwakilan kelompok Palestina Hamas akan turut serta dalam dialog perdamaian penting ini, yang sangat esensial untuk keberhasilan upaya tersebut.
Di sela-sela agenda pertemuan puncak yang padat, Presiden Trump juga dijadwalkan mengunjungi Israel pada hari Senin. Dalam kunjungannya, ia direncanakan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, menandakan pentingnya hubungan bilateral di tengah upaya perdamaian regional.
Laporan dari media Israel yang dikutip Euronews mengindikasikan bahwa Trump kemungkinan besar akan bertemu dengan keluarga para sandera yang ditahan. Sementara itu, media Mesir melaporkan bahwa persiapan intensif sedang dilakukan untuk menyambut kedatangan Trump di Mesir pada hari yang sama, menunjukkan keseriusan tuan rumah dalam agenda diplomatik yang sangat signifikan ini.
Pada hari Sabtu, sumber pemerintah Mesir mengungkapkan bahwa Presiden Trump akan disambut langsung oleh Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi di Kota Laut Merah Sharm El Sheikh. Keduanya akan berpartisipasi dalam upacara penandatanganan bersama perjanjian damai Gaza, ditemani oleh penjamin lain dari kesepakatan tersebut. Lebih lanjut, pernyataan pemerintah Mesir menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Badr Abdelatty dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah membahas persiapan rinci untuk pertemuan puncak Sharm El-Sheikh melalui panggilan telepon, menggarisbawahi koordinasi tingkat tinggi.
Diskusi via telepon antara kedua menteri luar negeri tersebut secara khusus menjajaki perkembangan regional terkini, upaya berkelanjutan untuk mengakhiri perang Gaza, serta implementasi tahap pertama dari perjanjian gencatan senjata yang baru saja diumumkan. Ini menunjukkan fokus bersama pada langkah-langkah konkret menuju deeskalasi konflik dan pemulihan.
Inisiatif perdamaian di Gaza ini muncul di tengah situasi kemanusiaan yang mendesak dan memilukan, di mana puluhan ribu warga Palestina mulai bergerak kembali ke utara di sepanjang pantai Gaza. Mereka berusaha pulang ke rumah mereka di Jalur Gaza, seringkali dengan berjalan kaki, mobil, atau kereta, meskipun sebagian besar wilayah tersebut telah hancur lebur. Momentum ini bertepatan dengan berlakunya gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang memberikan secercah harapan di tengah kehancuran.
Penarikan sebagian pasukan Israel telah dilakukan berdasarkan fase pertama perjanjian yang ditengahi AS, yang disepakati minggu ini untuk mengakhiri perang Israel di Gaza. Konflik brutal yang dikenal sebagai Perang Israel Hamas ini telah merenggut nyawa lebih dari 67.000 orang dan meninggalkan sebagian besar daerah kantong yang dilanda kelaparan itu dalam kondisi reruntuhan total, menggambarkan skala tragedi kemanusiaan yang luar biasa.
Setelah gencatan senjata efektif berlaku, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa sebanyak 5.000 misi kemanusiaan telah diluncurkan di wilayah kantong tersebut. Lebih dari 850 misi penyelamatan dan bantuan, yang dilaksanakan oleh Pertahanan Sipil Gaza, polisi, dan tim kota, berfokus pada evakuasi jenazah, pembersihan puing-puing, serta pengamanan area-area yang hancur, sebuah upaya masif untuk memulai pemulihan dari dampak perang.
Sejak Jumat pagi, sekitar 150 jenazah telah ditemukan dari berbagai wilayah di Gaza oleh Pertahanan Sipil. Secara terpisah, Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, melaporkan penemuan 28 jenazah. Selain itu, lebih dari 900 misi layanan krusial untuk memulihkan saluran air dan sistem pembuangan limbah juga telah dilaksanakan, menunjukkan fokus pada pemulihan infrastruktur dasar yang vital bagi kehidupan warga.
Meskipun demikian, misi kemanusiaan ini menghadapi kendala serius dan menghambat karena blokade Israel di Gaza masih berlaku, membatasi masuknya bahan bakar dan peralatan esensial. Selama apa yang digambarkan sebagai genosida, serangan Israel telah menghancurkan ambulans, truk pemadam kebakaran, dan pusat pertahanan sipil, semakin melumpuhkan upaya darurat dan pemulihan vital di seluruh wilayah kantong yang terkepung itu, memperparah krisis kemanusiaan.
Pilihan editor: Hamas Ucapkan Terima Kasih ke Trump tapi Tolak Tony Blair
Ringkasan
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi akan memimpin pertemuan puncak krusial di Sharm el-Sheikh pada 12 Oktober 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk mengakhiri perang Israel di Gaza serta mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Para pemimpin dari 20 negara, termasuk Sekjen PBB dan beberapa PM Eropa, diharapkan hadir, meskipun kehadiran perwakilan Israel atau Hamas masih belum pasti.
Di sela-sela pertemuan puncak, Presiden Trump juga dijadwalkan mengunjungi Israel untuk bertemu PM Benjamin Netanyahu dan berpidato di Knesset. Inisiatif perdamaian ini muncul di tengah situasi kemanusiaan mendesak di Gaza, di mana gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah berlaku, memicu upaya pemulangan warga dan misi kemanusiaan masif. Meskipun ada upaya pemulihan infrastruktur dan evakuasi jenazah, blokade Israel masih menghambat masuknya bantuan esensial.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia