JAKARTA – Proyeksi masa depan kepemilikan saham di PT Freeport Indonesia (PTFI) semakin jelas setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana divestasi tambahan 12%. Penambahan saham Indonesia pada PTFI ini, yang akan menjadikan kepemilikan negara melalui MIND ID menjadi sekitar 63,2%, dipastikan baru akan terlaksana setelah tahun 2041.
Bahlil menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari arahan Presiden. “Atas arahan perintah bapak Presiden Prabowo, kita menambah 12% dan divestasi ini nilainya sangat kecil sekali. Nah, tapi ini (divestasi) terjadi setelah 2041,” terang Bahlil dari Kompleks Istana Kepresidenan pada Jumat (24/10/2025). Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kendali atas aset pertambangan strategis di masa mendatang.
Menteri Bahlil Pastikan Divestasi Saham Freeport Sebesar 12 Persen, Sudah Final
Di samping isu divestasi, Menteri Bahlil juga menyampaikan perkembangan terkini mengenai operasional tambang Freeport. Ia mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas, terkait insiden longsor yang belum lama ini terjadi di tambang Grasberg Block Cave (GBC). Meskipun produksi berpotensi dimulai kembali bulan depan, Bahlil menekankan pentingnya audit menyeluruh terlebih dahulu.
“Saya tadi malam berbicara dengan Pak Tony Wenas. Sudah bisa kita memulai produksinya. Tapi saya katakan, kita audit total dulu, insyaallah dalam bulan depan sudah ada tanda-tanda perbaikan,” jelas Bahlil, menunjukkan kehati-hatian pemerintah terhadap aspek keselamatan dan keberlanjutan operasional.
Informasi mengenai rencana divestasi ini juga sejalan dengan laporan dari induk PTFI yang berbasis di Amerika Serikat, Freeport-McMoRan Inc. (FCX). Dalam laporan keuangan periode kuartal III 2025 pada Jumat (24/10/2025), FCX menyatakan akan mempertahankan kepemilikan sahamnya sebesar 49% di PT Freeport Indonesia hingga tahun 2041. Setelah tahun tersebut, kepemilikan FCX diperkirakan akan menjadi sekitar 37%, dengan perjanjian tata kelola yang ada tetap berlaku sepanjang umur sumber daya.
Laporan yang sama juga menyoroti keberhasilan PTFI dalam mengoperasikan tiga tambang bawah tanah berskala besar di kawasan mineral Grasberg, yaitu Grasberg Block Cave, DMLZ, dan Big Gossan, serta perluasan fasilitas penggilingan terkait. Pencapaian ini menegaskan posisi PTFI sebagai pemain kunci dalam industri pertambangan global.
Presdir Freeport Sebut Divestasi 12% Saham Freeport-McMoRan Masih Tahap Diskusi
Di bawah kondisi operasi normal, tambang bawah tanah PTFI memiliki kapasitas produksi yang mengesankan, menghasilkan sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,4 juta ons emas setiap tahun. Angka ini menempatkan operasi Freeport Indonesia sebagai salah satu yang berbiaya terendah di dunia, menegaskan efisiensi dan keunggulan kompetitifnya. Selain produksi, PTFI juga aktif melakukan eksplorasi di kawasan mineral Grasberg, menargetkan potensi perluasan mineralisasi signifikan di bawah tambang bawah tanah DMLZ.
Namun, operasional PTFI sempat terganggu pada tanggal 8 September 2025 akibat insiden semburan lumpur yang signifikan di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave. Presiden dan Chief Executive Officer FCX, Kathleen Quirk, mengonfirmasi bahwa operasi telah dihentikan sementara, dan kini sedang direncanakan peningkatan bertahap untuk memulihkan produksi secara penuh.
Fokus pengembangan jangka panjang PTFI juga tertuju pada deposit Kucing Liar di kawasan mineral Grasberg. Proyek ini diperkirakan akan menjadi sumber daya tembaga dan emas yang signifikan, dengan potensi produksi lebih dari 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas antara tahun 2029 hingga akhir tahun 2041. Perpanjangan hak operasi PTFI pasca-2041 disebut-sebut akan memperpanjang umur proyek vital ini, menegaskan pentingnya negosiasi divestasi di masa depan.
Hingga 30 September 2025, PTFI telah menginvestasikan sekitar US$1,0 miliar untuk pengembangan Kucing Liar. Total investasi modal untuk proyek ini diperkirakan mencapai US$4 miliar dalam kurun waktu tujuh hingga delapan tahun ke depan, dengan rata-rata pengeluaran sekitar US$0,5 miliar per tahun, menandai komitmen besar terhadap pertumbuhan produksi.
Pemerintah Dapat Tambahan Saham Freeport, Pengamat Sebut Ini Bukan Saat yang Tepat
Sebagai kilas balik, Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat terhadap penguasaan aset pertambangan nasional. Melalui divestasi yang dilakukan pada tahun 2018, negara berhasil menguasai 51,2% saham PTFI, perusahaan raksasa tambang emas dan tembaga tersebut, melalui MIND ID. Dengan adanya divestasi tambahan sebesar 12% yang direncanakan setelah 2041, kepemilikan saham MIND ID di PTFI akan semakin kokoh, mencapai sekitar 63,2%, menandai penguatan kedaulatan ekonomi Indonesia di sektor pertambangan.
Ringkasan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana divestasi tambahan 12% saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Dengan divestasi ini, kepemilikan negara melalui MIND ID akan meningkat menjadi sekitar 63,2%, yang dipastikan baru akan terlaksana setelah tahun 2041 sebagai bagian dari arahan Presiden. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kendali negara atas aset pertambangan strategis.
Selain isu divestasi, Bahlil juga membahas insiden longsor di tambang Grasberg Block Cave (GBC), menegaskan perlunya audit menyeluruh sebelum produksi dapat dimulai kembali. Induk PTFI, Freeport-McMoRan Inc. (FCX), menyatakan akan mempertahankan 49% saham hingga 2041, kemudian diperkirakan menjadi 37% setelahnya. PTFI dikenal dengan kapasitas produksi tembaga dan emas yang besar dari tiga tambang bawah tanahnya, serta sedang mengembangkan deposit Kucing Liar untuk potensi sumber daya jangka panjang.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia