JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) baru-baru ini merilis laporan kinerja keuangan konsolidasiannya untuk periode sembilan bulan pertama yang berakhir pada 30 September 2025. Meskipun volume operasional menunjukkan peningkatan, raksasa batubara ini menghadapi tekanan signifikan pada profitabilitas atau kinerja bottom line, yang menjadi sorotan utama.
Secara positif, pendapatan usaha PTBA menunjukkan pertumbuhan moderat sebesar 2% year on year (yoy), mencapai Rp 31,33 triliun per kuartal III-2025, sedikit naik dari Rp 30,66 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didukung oleh peningkatan solid dalam volume produksi batubara, yang melesat 9% yoy menjadi 35,90 juta ton. Sejalan dengan itu, volume penjualan batubara PTBA juga tumbuh 8% yoy, mencapai 33,70 juta ton.
Distribusi penjualan PTBA menunjukkan dominasi pasar domestik dengan kontribusi 56%, mencapai 18,82 juta ton, tumbuh impresif 11% yoy. Sementara itu, penjualan ekspor menyumbang 44% dengan 14,88 juta ton, meskipun pertumbuhannya lebih lambat di angka 4% yoy. Pasar internasional PTBA hingga kuartal III-2025 terfokus pada lima negara utama, yaitu Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan.
Namun, di balik capaian volume yang positif, PTBA tak luput dari dampak pelemahan harga batubara global yang signifikan. Indeks Newcastle anjlok 22% yoy, dan ICI-3 juga tergerus 16% yoy. Kondisi ini secara langsung memukul harga jual rata-rata PTBA, yang tercatat turun 6% yoy hingga akhir kuartal III-2025, menjadi penyebab utama tekanan pada laba.
Kondisi ini diperparah oleh lonjakan beban pokok pendapatan sebesar 11% yoy, mencapai Rp 27,8 triliun. Peningkatan ini sebagian besar dipicu oleh kenaikan volume operasional, baik pada produksi batubara (naik 9% yoy) maupun angkutan batubara (naik 8% yoy), meskipun rasio pengupasan (stripping ratio) sedikit menurun dari 6,02x menjadi 5,98x. Lebih lanjut, kebijakan pemerintah seperti pencabutan subsidi FAME pada biodiesel dan kewajiban penggunaan B40, turut mendorong kenaikan harga BBM per liter sebesar 8% yoy. Hal ini secara otomatis meningkatkan biaya bahan bakar PTBA untuk aktivitas penambangan dan operasional kereta api, menambah beban pada keuangan perusahaan.
Akibat kombinasi tekanan harga dan kenaikan biaya, laba bersih PTBA periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot tajam 56,25% yoy, menjadi hanya Rp 1,4 triliun dari Rp 3,2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, PTBA menunjukkan komitmen pada investasi jangka panjang dengan meningkatkan belanja modal (capex) sebesar 27% yoy, dari Rp 2,35 triliun menjadi Rp 2,99 triliun. Mayoritas capex ini dialokasikan untuk proyek strategis pengembangan angkutan kereta api Batubara Tanjung Enim-Kramasan.
Menanggapi situasi ini, Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa di tengah badai tekanan harga batubara global sepanjang 2025, perseroan berupaya keras mempertahankan kinerja operasional yang solid. “Kami fokus menjaga profitabilitas melalui peningkatan efisiensi biaya dan optimalisasi portofolio pasar domestik,” ungkap Arsal dalam keterbukaan informasi, Kamis (30/10/2025). Ia menambahkan bahwa pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang positif, serta realisasi capex yang mendukung keberlanjutan operasi dan proyek logistik strategis, menjadi bukti ketahanan perusahaan.
Melihat ke depan, manajemen PTBA menetapkan target ambisius untuk tahun 2025. Volume produksi batubara ditargetkan mencapai 50,05 juta ton, sementara volume penjualan dan angkutan masing-masing sebesar 50,09 juta ton dan 43,25 juta ton. Rasio pengupasan (stripping ratio) diharapkan berada di level 6,49x. Untuk mendukung ekspansi dan keberlanjutan, belanja modal (capex) PTBA diproyeksikan mencapai Rp 7,2 triliun.
Ringkasan
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melaporkan peningkatan volume operasional pada sembilan bulan pertama 2025, dengan pendapatan usaha tumbuh 2% year on year (yoy) menjadi Rp 31,33 triliun. Kenaikan ini didukung oleh peningkatan solid dalam volume produksi batubara sebesar 9% yoy dan volume penjualan batubara sebesar 8% yoy. Distribusi penjualan didominasi pasar domestik sebesar 56%.
Meskipun demikian, laba bersih PTBA merosot tajam 56,25% yoy menjadi Rp 1,4 triliun, terutama akibat pelemahan harga batubara global dan lonjakan beban pokok pendapatan sebesar 11% yoy, diperparah kenaikan biaya bahan bakar. Menanggapi kondisi ini, PTBA meningkatkan belanja modal sebesar 27% yoy untuk proyek strategis dan fokus pada efisiensi biaya serta optimalisasi portofolio pasar domestik.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia