Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan urgensi pendampingan dan pemulihan psikologis menyeluruh bagi seluruh korban ledakan yang mengguncang SMA Negeri 72 Jakarta. Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menekankan bahwa dukungan ini tidak hanya diperuntukkan bagi para siswa, melainkan juga bagi para guru di sekolah yang beralamat di Jalan Prihatin Nomor 87, RT 08 RW 02, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara tersebut.
Berbicara di Rumah Sakit Islam Jakarta pada Ahad, 9 November 2025, Diyah menyatakan, “Semua harus mendapatkan pendampingan psikologis, termasuk guru.” Dari total 42 guru SMAN 72, 17 di antaranya telah menerima bantuan psikologis, menandakan bahwa sisa guru yang belum didampingi juga akan menjadi prioritas utama KPAI untuk memastikan pemulihan emosional yang merata.
Untuk memastikan penanganan trauma yang komprehensif, KPAI telah aktif berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dinas Pendidikan, DPPAPP DKI Jakarta, Dinas Sosial, Psikolog Polri, Kementerian PPA, HIMSI, dan Kemendikdasmen. Diyah menegaskan bahwa upaya pemulihan akan difokuskan pada para korban anak-anak tanpa mengabaikan pihak lain, sejalan dengan amanat Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 59A yang menggarisbawahi pentingnya proses bantuan medis dan psikologis yang cepat.
Insiden tragis ledakan di SMAN 72 Jakarta itu terjadi pada Jumat, 7 November 2025, sekitar pukul 12.15 WIB, saat khotbah salat Jumat sedang berlangsung. Menurut informasi, dua ledakan beruntun terjadi; pertama di aula SMAN 72 dan kemudian di pintu belakang sekolah, menyebabkan 54 siswa mengalami luka-luka dan menyisakan duka mendalam bagi komunitas sekolah.
Beberapa saksi mata melaporkan melihat seorang siswa kelas XII terkapar di lokasi dengan sebuah senjata mainan di dekatnya. Pihak kepolisian kemudian menemukan kaleng minuman yang telah dimodifikasi dengan sumbu serta sebuah remot kecil. Anak tersebut diketahui mengenakan sepatu boots, celana hitam, dan kaus tanpa lengan berwarna putih bertuliskan “Natural Selection”. Lebih lanjut, foto-foto yang beredar memperlihatkan tulisan-tulisan provokatif pada senjata mainan, seperti “Welcome to Hell,” “For Agartha,” dan nama-nama pelaku penembakan massal internasional seperti Brenton Tarrant, Alexandre Bissonnette, serta Luca Traini. Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengonfirmasi bahwa terduga pelaku merupakan seorang pelajar, dan motif di balik aksi peledakan di SMAN 72 Jakarta ini masih dalam penyelidikan intensif.
Dengan koordinasi yang kuat dan fokus pada pemulihan, KPAI dan aparat berwenang terus berupaya memastikan semua korban mendapatkan dukungan yang dibutuhkan, sekaligus mengungkap tuntas motif di balik peristiwa yang mengejutkan ini. Sultan Abdurrahman berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Ringkasan
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan urgensi pendampingan dan pemulihan psikologis komprehensif bagi seluruh korban ledakan di SMAN 72 Jakarta, baik siswa maupun guru. Dari total 42 guru, 17 di antaranya telah menerima bantuan psikologis, dan KPAI memprioritaskan sisa guru yang belum didampingi. Upaya ini dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, sejalan dengan amanat Undang-Undang Perlindungan Anak Pasal 59A.
Insiden tragis ledakan beruntun itu terjadi pada Jumat, 7 November 2025, sekitar pukul 12.15 WIB, melukai 54 siswa. Terduga pelaku diidentifikasi sebagai seorang siswa kelas XII yang ditemukan dengan senjata mainan dan kaleng modifikasi dengan sumbu. Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengonfirmasi terduga pelaku adalah seorang pelajar, dan motif di balik aksi peledakan ini masih dalam penyelidikan intensif.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia