JogloNesia JAKARTA. Saham-saham perusahaan pertambangan dan energi di bawah Grup Bakrie, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), mencatat lonjakan harga yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025.
Performa impresif ini terlihat jelas pada perdagangan hari ini (13/11), di mana harga saham BUMI melesat 16,67% dan mencapai level Rp 224 per saham. Kenaikan ini dipicu oleh sentimen positif terkait akuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), sebuah perusahaan tambang emas dan tembaga asal Australia, oleh BUMI.
Selain akuisisi WFL, BUMI juga dikabarkan tengah berencana mengakuisisi 45% saham perusahaan tambang bauksit, PT Laman Mining, dari PT Supreme Global Investment senilai US$ 59,1 juta. Ambisi ekspansi BUMI tak berhenti di situ, mereka juga berniat untuk mengambil alih 55% saham anak usaha Laman Mining yang saat ini sedang membangun pabrik alumina, yaitu PT Supreme Alumina Indonesia.
Jika dihitung sejak awal tahun, harga saham BUMI telah meroket 89,83% *year to date* (ytd). Meskipun demikian, lonjakan signifikan ini baru mulai terasa sejak bulan September lalu.
Anak usaha BUMI, yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), turut menikmati imbas positifnya. Harga saham BRMS mengalami kenaikan sebesar 2,55% dan mencapai level Rp 1.005 per saham pada Kamis (13/11/2025). Secara kumulatif, sejak awal tahun, harga saham BRMS telah melonjak 190,46%, dengan momentum kenaikan tajam yang terlihat sejak pertengahan tahun.
Tak ketinggalan, saham ENRG juga berhasil mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,55% ke level Rp 910 per saham pada hari Kamis (13/11). Secara *year to date*, harga saham ENRG telah melambung 295,65%, dengan kenaikan yang konsisten terjadi sejak bulan Juni 2025.
Menurut Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, kenaikan harga saham emiten-emiten pertambangan Grup Bakrie ini tidak sepenuhnya didasari oleh faktor fundamental perusahaan.
“Kenaikan harga saham lebih banyak dipengaruhi oleh dampak isu terkait ekspansi, seperti akuisisi Wolfram oleh BUMI, dan euforia di sektor komoditas tertentu seperti emas dan minyak mentah,” jelas Wafi.
Selain itu, adanya rotasi dana investor dari saham-saham berkapitalisasi besar yang sedang mengalami penurunan juga menjadi sentimen positif yang mendorong kinerja saham-saham emiten Grup Bakrie.
Dari sisi valuasi, saham BUMI dinilai masih cukup murah, meskipun memiliki risiko yang tinggi seiring dengan volatilitas harga yang kerap terjadi. Sementara itu, valuasi saham BRMS terlihat mulai mahal jika melihat hasil kinerja kuartal III-2025, meskipun hal ini juga dipengaruhi oleh harga emas dunia yang sedang melambung.
“Sementara untuk ENRG valuasinya masih *middle*, tergantung dari *outlook* harga migas,” imbuh Wafi pada Kamis (13/11/2025).
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpendapat bahwa lonjakan harga saham BUMI, BRMS, dan ENRG sejak awal tahun mencerminkan kombinasi antara membaiknya sentimen investor dan adanya katalis korporasi baru.
“Namun, sebagian kenaikan pada BUMI tergolong *sentiment-driven*, karena fundamental batubara sendiri masih dalam fase menantang,” ujar Ekky, Kamis (13/11/2025).
Di sisi lain, kenaikan harga saham BRMS dinilai relatif lebih sejalan dengan fundamental industri emas yang sedang menguat. Sementara itu, kenaikan harga saham ENRG mencerminkan stabilnya kinerja perusahaan di sektor minyak dan gas (migas).
Ekky pun menganggap valuasi saham BRMS dan ENRG relatif lebih bisa diterima oleh investor dibandingkan dengan BUMI, yang masih memerlukan pembuktian dari hasil diversifikasi bisnisnya di luar batubara.
Saat ini, lanjut Ekky, saham-saham Grup Bakrie cocok untuk *trader* jangka pendek maupun jangka menengah yang berbasis pada momentum dan katalis. Saham BRMS dan ENRG cenderung lebih menarik karena fundamentalnya lebih solid dan ditopang oleh tren komoditas masing-masing.
Dalam jangka pendek, harga saham BRMS diperkirakan dapat bergerak di kisaran Rp 1.200—Rp 1.300 per saham, sedangkan ENRG di level Rp 1.100 per saham.
BUMI Chart by TradingView
Sebaliknya, saham BUMI memiliki volatilitas yang tinggi dan pergerakannya sangat bergantung pada arah harga batu bara serta realisasi ekspansi bisnis perusahaan. Dalam jangka menengah, saham BUMI diperkirakan akan berada di kisaran Rp 240—Rp 250 per saham.
Di lain pihak, Wafi merekomendasikan untuk membeli saham BRMS dan ENRG dengan target harga di level Rp 1.100 per saham dan Rp 1.000 per saham. Sementara itu, saham BUMI direkomendasikan untuk ditahan (*hold*) dengan target harga Rp 200 per saham.
Ringkasan
Saham-saham pertambangan Grup Bakrie, seperti BUMI, BRMS, dan ENRG, mengalami kenaikan signifikan sepanjang tahun 2025. Kenaikan ini dipicu oleh sentimen positif terkait ekspansi perusahaan dan kondisi komoditas, seperti akuisisi Wolfram oleh BUMI. Analis menilai bahwa faktor fundamental perusahaan tidak sepenuhnya menjadi dasar kenaikan ini, melainkan lebih dipengaruhi oleh isu ekspansi dan sentimen pasar.
Beberapa analis merekomendasikan untuk membeli saham BRMS dan ENRG karena fundamental yang lebih solid, dengan target harga masing-masing Rp 1.100 dan Rp 1.000 per saham. Sementara itu, saham BUMI direkomendasikan untuk ditahan (*hold*) karena volatilitas yang tinggi dan ketergantungan pada harga batu bara, dengan target harga Rp 200 per saham.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia