
Gejolak internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi sorotan utama publik menjelang akhir pekan lalu, tepatnya pada hari Ahad, 23 November 2025. Tiga artikel yang mengupas tuntas rapat koordinasi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia di Surabaya, Jawa Timur, pada Ahad dini hari, berhasil menduduki posisi puncak sebagai berita terpopuler di rubrik Nasional Tempo.
Di antara berbagai isu yang mencuat, klarifikasi dari Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, terkait tudingan afiliasi dengan jaringan zionis Israel menjadi berita yang paling banyak dibaca. Selain itu, penegasan Gus Yahya bahwa ia tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU juga turut menyita perhatian publik. Berikut adalah rangkuman tiga berita terpopuler hingga pagi ini, Senin, 24 November 2025:
Gus Yahya Bantah Terafiliasi Jaringan Zionis
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, dengan tegas membantah tuduhan bahwa dirinya diminta untuk mundur karena terafiliasi dengan kelompok zionis. Gus Yahya juga menepis isu yang menyebutkan dirinya terlibat dalam permasalahan tambang di internal PBNU.
Awalnya, Gus Yahya memberikan klarifikasi terkait isu yang beredar luas tentang keterkaitannya dengan jaringan zionis. Isu ini mencuat setelah kunjungannya ke Israel pada tahun 2018.
Yahya menjelaskan bahwa jauh sebelum isu ini mencuat, seluruh anggota NU sudah mengetahui perihal kunjungannya ke Israel. “Saya tahun 2018 pernah pergi ke Israel dan bertemu dengan Nentanyahu (Perdana Menteri Israel). Mereka (anggota NU) sudah tahu, dan mereka tetap memilih saya sebagai Ketua Umum saat Muktamar Lampung,” ungkap Yahya kepada awak media di Hotel Novotel Samator Surabaya, Ahad, 23 November 2025.
Lebih lanjut, Yahya menjelaskan bahwa kunjungannya ke Israel, termasuk pertemuannya dengan Nentanyahu, adalah bagian dari upayanya memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Ia menegaskan komitmennya terhadap perjuangan tersebut. “Saya terang-terangan dan tegas di berbagai forum pada waktu itu bahwa saya datang demi Palestina. Saya tidak akan pernah berhenti dengan posisi ini, apapun yang terjadi,” tegasnya.
Menanggapi isu permintaan pengunduran dirinya yang dikaitkan dengan masalah tambang dan keuangan PBNU, Yahya memilih untuk tidak berprasangka buruk terhadap pihak yang menyebarkan opini tersebut. Ia menilai isu tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.
“Saya tidak mau berprasangka ya. Sebelum ini, rumor itu sudah tidak karuan, seperti saya makan duit Rp 900 miliar dan macam-macam itu. Tapi saya tidak mau bertindak atas dasar rumor atau prasangka,” imbuhnya.
Baca berita selengkapnya di sini.
Gus Yahya: Rapat Syuriah Tidak Bisa Mencopot Ketua Umum PBNU
Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya turut memberikan tanggapan terkait Surat Risalah Rapat Harian Syuriah PBNU yang berisi permintaan agar dirinya mengundurkan diri. Menurutnya, surat tersebut tidak memenuhi standar organisasi, terutama karena tanda tangan seharusnya dilakukan secara digital.
“Kalau dokumen resmi itu tanda tangannya digital, sehingga benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Kan zaman sekarang gampang sekali membuat tanda tangan scan. Maka kita lihat nanti,” ujarnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa hasil rapat tersebut tidak memiliki wewenang untuk mencopot jabatan pengurus harian, termasuk Ketua Umum PBNU. Kewenangan pencopotan jabatan, menurutnya, diatur secara jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PBNU. “Rapat harian syuriah menurut AD/ART tidak berwenang untuk memberhentikan ketua umum,” tegasnya.
Terlepas dari berbagai dinamika yang ada, Yahya tetap optimis bahwa organisasinya akan mampu menyelesaikan konflik internal yang terjadi belakangan ini. Ia berharap agar solusi terbaik dapat segera ditemukan untuk mengatasi permasalahan yang ada.
Baca berita selengkapnya di sini.
Yahya Cholil Tegaskan Tidak Akan Mundur sebagai Ketua Umum PBNU
Di tengah gejolak yang dipicu oleh Surat Risalah Rapat Harian Syuriah PBNU, Yahya dengan mantap menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya. “Saya sama sekali tidak tebersit pikiran untuk mundur karena saya mendapat amanat dari muktamar ini untuk lima tahun,” kata Yahya kepada awak media di Hotel Novotel Samator, Surabaya, Jawa Timur, Ahad dini hari, 23 November 2025.
Ia juga menyampaikan bahwa para ketua PWNU se-Indonesia tidak menyetujui keputusan tersebut. “Mereka (ketua PWNU se-Indonesia) mengatakan tidak mau saya mundur. Mereka akan kecewa kalau saya mundur,” ungkapnya.
Menanggapi hasil rapat tersebut, Yahya mengklaim telah melakukan pertemuan dengan sebagian jajaran Rais Syuriah PBNU. Dalam pertemuan tersebut, Yahya mengatakan bahwa sebagian Rais Syuriah menyatakan penyesalan atas keputusan tersebut.
Baca berita selengkapnya di sini.
Pilihan Editor: Cerita di Balik Upaya Pemakzulan Yahya Staquf
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia