JogloNesia – JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan dalam perdagangan pada hari Rabu (3 Desember 2025). Sentimen pasar yang semakin kuat terhadap potensi penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) menjadi pendorong utama kondisi ini.
Menurut data dari Trading Economics, pada pukul 18.37 WIB hari Rabu (3 Desember 2025), indeks dolar (DXY) mengalami penurunan sebesar 0,37% ke level 99,988. Dalam sebulan terakhir, indeks ini telah melemah sebesar 1,23%.
Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures, memprediksi bahwa tekanan terhadap dolar AS masih akan berlanjut. Namun, ia memperkirakan pelemahan yang lebih signifikan baru akan terasa pada tahun depan.
“Saat ini dolar memang masih tertekan, tetapi pelemahan yang lebih besar kemungkinan akan terjadi tahun depan, seiring dengan perubahan komposisi di The Fed yang diisi oleh orang-orang yang lebih dekat dengan Trump,” ungkap Lukman kepada Kontan, Rabu (3 Desember 2025).
Meskipun dolar melemah, Lukman mengingatkan bahwa hal ini tidak serta merta akan mendongkrak nilai rupiah secara signifikan. Bank Indonesia (BI) cenderung memilih untuk menjaga stabilitas nilai tukar daripada membiarkan fluktuasi yang berlebihan, baik penguatan maupun pelemahan.
Lukman menambahkan bahwa BI kemungkinan akan memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS ini untuk melakukan pemangkasan suku bunga, sejalan dengan kebijakan pelonggaran yang diterapkan oleh pemerintah.
Ke depan, pergerakan nilai rupiah akan sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap suku bunga The Fed dan BI. Ekspektasi ini, lanjutnya, akan banyak ditentukan oleh rilis data ekonomi penting seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan data tenaga kerja.
Selain faktor ekonomi, tensi geopolitik, terutama di kawasan Asia yang melibatkan China, AS, dan sekutu-sekutunya, juga akan menjadi faktor penting yang memengaruhi nilai tukar rupiah.
Sentimen di sektor keuangan global juga berpotensi memberikan dampak pada pergerakan rupiah. Lukman menyoroti peningkatan volatilitas di pasar ekuitas yang disebabkan oleh kekhawatiran akan koreksi di sektor teknologi. “Sentimen di pasar ekuitas juga masih diwarnai ketidakpastian akibat kekhawatiran pecahnya gelembung AI,” jelasnya.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Lukman memproyeksikan bahwa nilai rupiah pada kuartal I-2026 akan bergerak dalam rentang Rp16.400–Rp16.800 per dolar AS.
Ringkasan
Dolar AS menunjukkan tren pelemahan yang berkelanjutan, didorong oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve. Indeks dolar (DXY) mengalami penurunan, dan analis memprediksi tekanan terhadap dolar akan berlanjut hingga tahun depan seiring perubahan komposisi di The Fed.
Meskipun dolar melemah, penguatan rupiah diperkirakan terbatas karena Bank Indonesia cenderung menjaga stabilitas nilai tukar. Pergerakan rupiah ke depan akan dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap suku bunga The Fed dan BI, data ekonomi, tensi geopolitik, dan sentimen di sektor keuangan global. Proyeksi nilai rupiah pada kuartal I-2026 berada di rentang Rp16.400–Rp16.800 per dolar AS.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia