
JogloNesia JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru-baru ini mengeluarkan imbauan penting bagi Kelompok Bank Bermodal Inti (KBMI) 1, yaitu bank-bank dengan modal inti antara Rp 3 triliun hingga Rp 6 triliun. OJK mendorong bank-bank ini untuk meningkatkan modal dan naik kelas, atau melakukan konsolidasi. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam struktur perbankan nasional.
Salah satu poin utama dari kebijakan ini adalah penghapusan kategori KBMI 1 oleh OJK. Nantinya, hanya akan ada tiga kelompok bank yang tersisa. Namun, perlu dicatat bahwa kewajiban ini tidak berlaku untuk Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Rencana penghapusan kategori KBMI 1 ini langsung memicu reaksi di pasar. Para investor melihat kebijakan ini sebagai potensi perubahan besar dalam peta persaingan industri perbankan, sekaligus membuka peluang untuk aksi korporasi yang baru dan menarik.
Sebagai gambaran, pergerakan saham bank-bank yang saat ini berada di kategori KBMI 1 cenderung fluktuatif dalam beberapa hari terakhir.
Strategi Bank Aladin Syariah Hadapi Imbauan OJK Hapus KBMI 1
Contohnya, pada penutupan perdagangan Jumat (5/12/2025), saham PT Bank Oke Indonesia (DNAR) mengalami kenaikan sebesar 3,81%, ditutup pada posisi Rp 218 per saham. Secara mingguan, saham DNAR juga mencatatkan peningkatan sebesar 4,81%.
Senada dengan itu, saham PT Bank Raya Indonesia (AGRO) juga menguat 0,87% menjadi Rp 232 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham AGRO meningkat 0,87%. PT Bank Neo Commerce (BBYB) juga ditutup positif dengan kenaikan 0,93% ke level Rp 432 per saham. Meskipun demikian, dalam sepekan terakhir saham BBYB mengalami penurunan tipis sebesar 0,46%.
Namun, berbeda dengan saham PT China Construction Bank Indonesia (MCOR) yang stagnan di level Rp 75, dan juga melemah 2,60% dalam sepekan terakhir. Saham Bank MNC Internasional (BABP) juga tidak bergerak dari level Rp 55, dengan penurunan 1,79% selama lima hari terakhir.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpendapat bahwa bank-bank KBMI 1 memiliki pilihan terbatas selain memperkuat permodalan mereka agar bisa naik kelas ke KBMI 2.
“Bank KBMI 1 itu mau tidak mau harus meningkatkan modal inti. Bisa dengan mencari sumber pendanaan baru, misalnya melalui aksi korporasi seperti rights issue, atau melakukan merger,” jelas Nafan kepada kontan.co.id, Kamis (4/12/2025).
Menurutnya, langkah ini krusial mengingat wacana penghapusan kategori KBMI 1 oleh OJK. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk memperkuat likuiditas dan ketahanan sektor perbankan di Indonesia.
Bank Sampoerna Tanggapi Wacana OJK Hapus KBMI 1
“Bank KBMI 1 harus bisa meningkatkan levelnya ke KBMI 2, dengan modal inti minimal di atas Rp 6 triliun. Itu yang menjadi penekanan dari regulator,” imbuhnya.
Nafan juga menyoroti kondisi likuiditas beberapa bank KBMI 1 yang dianggap belum cukup kuat. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa regulator secara aktif mendorong bank-bank kecil untuk memperkuat struktur modal mereka.
“Segmen KBMI 1 ini tidak terlalu likuid. Inilah yang menjadi concern dari OJK untuk menghimbau bank-bank kecil agar bisa meningkatkan likuiditasnya,” paparnya.
Upaya bank-bank kecil untuk memperkuat modal ini tidak terlepas dari tantangan eksternal yang ada. Nafan menilai bahwa kondisi ekonomi yang masih melambat dan tingginya suku bunga membuat permintaan kredit belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.
“Di tengah permintaan kredit yang lesu, suku bunga tinggi, dan kinerja perekonomian yang relatif kurang kondusif, kemampuan bank untuk mengerek pertumbuhan kredit juga menjadi terbatas,” kata Nafan.
Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan modal inti tetap menjadi kebutuhan mendesak bagi bank KBMI 1 agar dapat bertahan dan bersaing di industri perbankan yang semakin kompetitif.
Sementara itu, Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, berpendapat bahwa langkah OJK ini akan menjadi katalis penting bagi saham-saham bank kecil, meskipun risiko yang menyertainya juga cukup besar.
Menurut Wafi, pergerakan saham bank-bank di jajaran KBMI 1 sepanjang tahun 2025 menunjukkan performa yang bervariasi, tetapi secara keseluruhan cenderung menguat.
“Tahun ini saham-saham KBMI 1 cenderung menguat karena ekspektasi pasar bahwa bank kecil akan ‘dipaksa’ naik kelas. Market sudah mem-price in potensi konsolidasi dan aksi korporasi,” jelas Wafi.
Saham-saham seperti Bank Oke Indonesia (DNAR), Bank China Construction (MCOR), BBYB, Bank Panin Syariah (PNBS), Bank Raya (AGRO), hingga Bank Jago (ARTO) sempat mencatatkan reli yang kuat. Akan tetapi, volatilitasnya juga sangat tinggi seiring dengan spekulasi pasar terhadap kebutuhan penambahan modal.
Ke depan, prospek saham KBMI 1 dinilai tetap positif jika pemerintah benar-benar mendorong mereka untuk naik kelas.
ARTO Chart by TradingView
“Arahan OJK untuk naik ke KBMI 2 membuat pasar berekspektasi akan ada tambahan modal, strategic partner baru, hingga penguatan bisnis digital. Tapi risikonya besar—kalau gagal tambah modal, saham bisa drop cepat,” ungkap Wafi.
Untuk saat ini, Wafi menyarankan strategi trading dibandingkan investasi jangka panjang.
“Strateginya trading saja. Momentum saham-saham KBMI 1 masih didorong sentimen regulasi dan aksi korporasi, bukan kinerja fundamental,” jelasnya.
Wafi pun merekomendasikan ARTO karena momentum teknikal yang masih kuat, ekspektasi sinergi ekosistem digital dengan target Rp 2.200. Selain itu, AGRO karena ekspektasi aksi korporasi lanjutan dari BRI Group dengan target Rp 350 per saham, dan BBYB karena sentimen kebangkitan fintech/digital banking dengan target saham Rp 500 per saham.
Ringkasan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong bank-bank KBMI 1 untuk meningkatkan modal dan naik kelas atau melakukan konsolidasi, dengan rencana menghapus kategori KBMI 1. Kebijakan ini memicu reaksi pasar dan memengaruhi pergerakan saham bank-bank KBMI 1, yang cenderung fluktuatif. Analis menyarankan bank KBMI 1 untuk memperkuat permodalan melalui pendanaan baru atau merger agar dapat bersaing.
Analis juga menyoroti kondisi likuiditas beberapa bank KBMI 1 yang belum cukup kuat dan menganggap langkah OJK ini sebagai katalis penting bagi saham bank kecil. Strategi trading direkomendasikan daripada investasi jangka panjang, dengan rekomendasi saham ARTO, AGRO, dan BBYB berdasarkan momentum teknikal, ekspektasi aksi korporasi, dan sentimen kebangkitan digital banking.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia