Apa isi buku Broken Strings yang ditulis Aurelie Moeremans?

JogloNesia – Kisah Aurelie Moeremans sebagai penyintas child grooming terus menyedot perhatian publik, salah satunya lewat buku berjudul Broken Strings.

Advertisements

Setelah lebih dulu dirilis dalam format digital, Aurelie memastikan karya tersebut segera hadir dalam versi fisik yang utuh, lengkap dengan sampul resmi yang telah ia perkenalkan melalui akun Instagram pribadinya.

Sampul buku bernuansa hijau itu menampilkan ilustrasi sebuah tangan, disertai judul Broken Strings dan nama Aurelie Moeremans yang tercetak jelas.

“Halo teman-teman. Buku Broken Strings karya @aurelie tak lama lagi dapat kamu genggam secara langsung untuk kamu baca di kamar, sekolah, kampus, kafe, atau di mana saja,” tulis Aurelie, dikutip dari Kompas.com, Selasa (13/1/2026).

Advertisements

Ia juga mengungkapkan, versi cetak buku ini akan diperkaya dengan ilustrasi penuh warna karya @tea.with.ami yang bertujuan menghidupkan cerita personal yang ia bagikan kepada pembaca.

Demi menghadirkan pengalaman membaca yang maksimal, naskah edisi hardcover turut melalui proses penyuntingan oleh @balqisnab, tanpa menghilangkan suara dan kejujuran penulis dalam setiap kalimatnya.

Dengan rilisnya versi fisik ini, publik pun kian penasaran lantas apa sebenarnya isi buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans?

Baca juga: Berkaca dari kasus Child Grooming di Wonogiri, Bagaimana Orangtua Bisa Mencegahnya?

Apa isi buku Broken Strings?

Buku Broken Strings menjadi medium pengakuan yang berani bagi Aurelie Moeremans untuk mengungkap pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming yang dialami sejak usia 15 tahun.

Melalui buku ini, Aurelie membuka tabir tentang praktik manipulasi relasi antara anak dan orang dewasa, yang kerap tersamarkan dalam kedekatan emosional semu.

Ia menegaskan, kisah yang ditulis sepenuhnya bersumber dari sudut pandangnya sebagai korban, tanpa romantisasi pengalaman traumatis tersebut.

Pada bagian awal buku, Aurelie membawa pembaca ke momen pertemuannya dengan seorang pria bernama Bobby, nama samaran yang dikenalnya di lokasi syuting.

Interaksi awal yang tampak biasa itu perlahan berkembang menjadi pintu masuk proses grooming, di mana relasi dibangun secara bertahap melalui kedekatan, kepercayaan, dan ketergantungan emosional.

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku,” tulis Aurelie, dikutip dari Kompas.com, Minggu (11/1/2025).

Baca juga: Rumor Hubungan Kim Soo Hyun dan Kim Sae Ron Saat Berusia 15 Tahun, Apa Itu Child Grooming?

Lebih jauh, Broken Strings tidak hanya memotret fase awal manipulasi, tetapi juga menggambarkan bagaimana Aurelie dikontrol secara emosional, hingga akhirnya menyadari situasi yang menjeratnya dan memulai perjalanan panjang pemulihan diri.

Buku ini merekam dinamika relasi yang perlahan mengikis batas, keberanian, dan rasa aman seorang remaja.

“Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulisnya.

Aurelie menegaskan, sejak awal ia menulis buku ini dengan kesadaran penuh untuk tidak membungkus ceritanya dalam narasi romantis.

“Ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban,” ujarnya, menekankan bahwa pengalaman grooming adalah bentuk kejahatan yang menyisakan luka mendalam.

Menariknya, Broken Strings dibagikan secara gratis melalui tautan di media sosial Aurelie.

Respons publik pun begitu besar, dengan puluhan ribu pembaca telah mengakses buku tersebut.

Baginya, kisah yang telah menyentuh banyak orang itu tidak lagi sekadar milik pribadi.

“Sudah dibaca puluhan ribu orang. Dan cerita yang sudah menyentuh banyak hati, enggak bisa dihapus,” tutup Aurelie.

Baca juga: Grooming Behavior, Salah Satu Pintu Masuk Aksi Kejahatan

Mendapat dukungan dari suami

Dilansir dari Kompas.com, Selasa (12/1/2026), keputusan Aurelie Moeremans untuk membuka pengalaman traumatisnya ke ruang publik tak lepas dari dukungan penuh sang suami, Tyler Bigenho.

Aurelie menyebut Tyler sebagai orang yang sejak awal paling meyakinkannya bahwa kisah tersebut layak dibagikan, bukan sekadar sebagai pengakuan personal, melainkan sebagai pembelajaran bagi perempuan muda agar lebih waspada.

“Dia yang dari awal percaya ceritaku bisa jadi sesuatu yang baik dan berarti buat banyak gadis muda lainnya,” tutur Aurelie.

Dalam buku Broken Strings, Aurelie menelusuri secara jujur rangkaian manipulasi yang ia alami hingga titik balik ketika ia mulai belajar menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia menegaskan, seluruh kisah dituturkan dari perspektif korban, tanpa upaya memoles atau meromantisasi pelaku, sebagai bentuk keberpihakan pada penyintas dan upaya membongkar praktik grooming apa adanya.

Baca juga: Apa Itu Grooming? Modus Pelecehan Seksual pada Anak

(Sumber: Kompas.com/ Penulis: Revi C. Rantung, Disya Shaliha | Editor: Ira Gita Natalia Sembiring, Andi Muttya Keteng Pangerang, Tri Susanto Setiawan)

Advertisements