Kelas Menengah Jadi Penyumbang Pengeluaran Energi Tertinggi di Indonesia

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM UI) mengungkapkan fakta menarik mengenai pola konsumsi energi di Indonesia. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, kelompok kelas menengah tercatat sebagai golongan yang mengalokasikan porsi pengeluaran energi paling besar dibandingkan kelompok ekonomi lainnya.

Advertisements

Dalam laporan bertajuk Indonesia Economic Outlook Q2-2026, tim peneliti LPEM UI yang dipimpin oleh Jahen F. Rezki memaparkan bahwa kelas menengah menyisihkan sekitar 8,86 persen dari total pengeluaran mereka hanya untuk energi. Angka ini menempatkan mereka pada posisi yang paling rentan terhadap gejolak harga energi maupun kebijakan reformasi subsidi.

Di urutan berikutnya, kelompok calon kelas menengah mencatatkan porsi pengeluaran energi sebesar 8,18 persen. Sementara itu, kelompok ekonomi lainnya memiliki proporsi yang lebih rendah, yakni kelas atas (7,15 persen), kelas rentan (7,07 persen), serta kelompok miskin (6,28 persen). Menurut laporan tersebut, posisi kelas menengah dan calon kelas menengah menjadi sangat krusial karena mereka sering kali tidak tersentuh oleh program bantuan sosial pemerintah, sehingga kenaikan harga energi dapat memicu efek berganda yang menekan daya beli mereka.

Meskipun rumah tangga miskin memiliki persentase pengeluaran energi yang tampak lebih rendah, laporan LPEM UI menegaskan bahwa hal ini bukan berarti mereka tidak rentan. Rendahnya angka tersebut justru mencerminkan keranjang konsumsi yang sangat terbatas, tingginya ketergantungan pada subsidi, serta minimnya ruang untuk melakukan penyesuaian anggaran ketika harga energi melonjak.

Advertisements

Secara global, pengeluaran energi rumah tangga di Indonesia berada di angka 8,3 persen, angka yang tergolong cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Meksiko, Jepang, hingga Afrika Selatan. Data ini menunjukkan bahwa energi telah menyerap porsi signifikan dari anggaran rumah tangga masyarakat Indonesia bahkan sebelum terjadi guncangan harga komoditas global.

Situasi ini menjadi semakin menantang dengan adanya ancaman kenaikan harga BBM akibat eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Dampaknya, harga minyak mentah dunia kini melambung di atas US$ 100 per barel. Angka ini telah melampaui asumsi Indonesia Crude Price sebesar US$ 70 per barel yang tertuang dalam APBN 2026.

Dengan kondisi tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa setiap penyesuaian harga energi di masa depan berpotensi memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat, meskipun penyesuaian penuh pada harga BBM domestik belum dilakukan sepenuhnya. Strategi pengelolaan subsidi dan harga energi pun kini menjadi perhatian penting agar tidak membebani kelompok masyarakat yang paling terdampak.

Pilihan Editor: Strategi Baru Pemerintah Menekan Harga Plastik

Ringkasan

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI melaporkan bahwa kelompok kelas menengah merupakan penyumbang pengeluaran energi tertinggi di Indonesia dengan alokasi sebesar 8,86 persen dari total belanja mereka. Angka ini menempatkan kelas menengah dan calon kelas menengah sebagai kelompok paling rentan terhadap gejolak harga energi, terutama karena mereka umumnya tidak menerima program bantuan sosial pemerintah.

Kondisi ini diperburuk oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah melampaui asumsi APBN 2026 akibat konflik geopolitik global. Mengingat rata-rata pengeluaran energi rumah tangga di Indonesia yang sudah cukup tinggi, para peneliti menekankan pentingnya strategi pengelolaan subsidi yang cermat agar penyesuaian harga energi di masa depan tidak menekan daya beli masyarakat secara berlebihan.

Advertisements