
NEW YORK — Wall Street mengalami tekanan jual pada perdagangan Senin (4/5/2026), yang memicu koreksi pada indeks S&P 500 dari rekor tertinggi sebelumnya. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul insiden ledakan pada kapal dagang Korea Selatan di Selat Hormuz yang menegaskan kembali kendali Teheran atas jalur minyak vital tersebut.
Kondisi ini meredam optimisme investor yang sempat terangkat oleh laporan kinerja kuartal pertama yang solid. Hingga penutupan perdagangan, indeks S&P 500 terkoreksi 0,41% ke level 7.200,75, indeks Nasdaq melemah 0,19% ke posisi 25.067,80, dan indeks Dow Jones Industrial Average merosot tajam 1,13% menjadi 48.941,90.
Secara sektoral, tekanan melanda hampir seluruh lini di S&P 500, dengan 10 dari 11 sektor mencatatkan pelemahan. Sektor material memimpin penurunan sebesar 1,57%, diikuti oleh sektor industri yang menyusut 1,17%. Sebaliknya, sektor energi justru mampu menguat 0,85% di tengah kekhawatiran pasokan global.
Ketegangan Timur Tengah Tekan Wall Street, S&P 500 dan Dow Jones Melemah
Lonjakan harga saham energi terjadi merespons konfrontasi terbaru di Timur Tengah. Insiden kapal dagang Korea Selatan ini memperkuat kekhawatiran pelaku pasar mengenai keamanan Selat Hormuz, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya menegaskan komitmen Angkatan Laut AS untuk menjaga jalur tersebut. Di sisi lain, Teheran mengklaim telah menghalau kapal perang AS, sementara Uni Emirat Arab melaporkan adanya kebakaran di instalasi minyak akibat serangan pesawat tak berawak milik Iran.
Kecemasan geopolitik ini muncul tepat saat pasar saham AS baru saja mencetak rekor penutupan tertinggi pada Jumat (1/5/2026), didorong oleh laporan keuangan emiten yang melampaui ekspektasi. Ross Mayfield, ahli strategi investasi dari Baird Private Wealth Management, menilai bahwa di level harga tertinggi sepanjang masa, pasar tidak memiliki banyak ruang untuk melakukan kesalahan.
“Tampaknya risiko asimetris masih condong ke arah penurunan. Meskipun demikian, skenario kembali ke pasar yang lesu secara drastis bukanlah hasil yang paling mungkin terjadi,” ujar Mayfield.
Data LSEG mencatat, emiten dalam indeks S&P 500 diperkirakan membukukan pertumbuhan pendapatan rata-rata sebesar 28% secara tahunan untuk kuartal pertama, melampaui estimasi awal sebesar 14% pada April lalu. Sentimen positif ini terutama disumbang oleh perusahaan-perusahaan besar di sektor kecerdasan buatan (AI).
Dua Emiten Ini Putuskan Tebar Dividen, Cek Jadwal dan Besarannya
Di luar sektor AI, perhatian pasar tertuju pada Berkshire Hathaway. Konglomerat tersebut melaporkan pada Sabtu lalu bahwa mereka kembali menjadi penjual bersih saham untuk kuartal ke-14 berturut-turut, sebuah langkah yang sering dianggap pelaku pasar sebagai indikasi valuasi dan kondisi ekonomi AS yang sedang jenuh.
Sementara itu, dinamika pasar saham diwarnai oleh aksi korporasi GameStop. Saham pengecer video game tersebut anjlok 10% setelah mengumumkan proposal pembelian pasar daring eBay senilai US$ 56 miliar melalui skema tunai dan saham. Berita tersebut justru berdampak positif bagi eBay, yang sahamnya naik sekitar 5%.
Di sektor logistik, saham FedEx dan United Parcel Service (UPS) tertekan masing-masing sebesar 9,1% dan 10,5%. Penurunan ini dipicu oleh pengumuman Amazon.com yang meluncurkan Amazon Supply Chain Services, sebuah langkah strategis yang membuka jaringan logistik raksasa tersebut bagi bisnis lain. Hal ini mengakibatkan indeks Dow Jones Transportation Average melemah 4,8% ke level terendah dalam satu bulan terakhir.
Kembali Capai Rekor Terlemah Baru, Rupiah Berpotensi Tembus ke Rp 17.500
Di sisi lain, saham Palantir naik 1,4% menjelang rilis laporan kinerja triwulanan perusahaan analitik data dan pertahanan tersebut setelah jam perdagangan berakhir. Sebaliknya, operator kapal pesiar Norwegian mencatat penurunan saham sebesar 8,6% setelah memangkas target tahunan akibat lonjakan biaya bahan bakar yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Ringkasan
Wall Street mengalami koreksi pada perdagangan Senin (4/5/2026) setelah indeks S&P 500 dan Nasdaq turun dari rekor tertinggi mereka. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat insiden di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasokan energi. Kondisi tersebut menekan mayoritas sektor di S&P 500, kecuali sektor energi yang mencatatkan penguatan di tengah ketidakpastian global.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh aksi korporasi besar, termasuk penurunan saham sektor logistik setelah Amazon meluncurkan layanan rantai pasok baru serta kabar penjualan bersih saham oleh Berkshire Hathaway. Meski demikian, kinerja keuangan emiten kuartal pertama secara keseluruhan masih menunjukkan pertumbuhan yang solid, terutama didorong oleh perusahaan di sektor kecerdasan buatan. Para ahli menilai pasar saat ini berada pada titik yang sangat sensitif terhadap risiko penurunan akibat valuasi yang sudah tinggi.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia