
JAKARTA – Indeks Bisnis-27 mengawali perdagangan Selasa (5/5/2026) di zona merah. Pada pukul 09.05 WIB, indeks hasil kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini terpantau melemah 0,44 persen ke level 464,64, tertekan oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis Selat Hormuz.
Dalam sesi pembukaan ini, sebanyak 17 saham konstituen bergerak di zona negatif, sementara 3 saham mampu menguat dan 7 saham lainnya stagnan. Saham PT Astra International Tbk. (ASII) memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 4,94 persen ke level Rp5.775. Penurunan serupa juga membayangi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) sebesar 4,18 persen ke posisi Rp2.520, serta PT Mitra Adi Perkasa Tbk. (MAPI) yang melemah 3,47 persen ke level Rp1.250.
Tekanan jual juga menekan sejumlah saham lainnya, seperti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang terkoreksi 2,63 persen ke Rp3.700 dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang turun 2,55 persen ke Rp6.700. Di tengah arus pelemahan tersebut, beberapa saham justru menunjukkan performa positif, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang naik 2,30 persen ke Rp3.110, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) menguat 1,46 persen ke Rp2.090, dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang menguat 0,42 persen ke level Rp5.925.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai bahwa sentimen pasar global tengah tertekan akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada volatilitas indeks saham serta harga komoditas dunia. Ketegangan dipicu oleh inisiatif “Project Freedom” dari Presiden AS Donald Trump untuk menjaga distribusi minyak global. Situasi semakin kritis setelah adanya klaim serangan rudal terhadap kapal perang AS, meski dibantah oleh pihak militer AS. Selain itu, laporan mengenai insiden ledakan pada kapal berbendera Korea Selatan dan kebakaran di Fujairah Oil Industry Zone, Uni Emirat Arab, turut memperkeruh sentimen pasar.
Selain faktor eksternal, dinamika ekonomi domestik juga menunjukkan sinyal yang bervariasi. Aktivitas manufaktur Indonesia melambat dengan penurunan PMI ke level 49,1 pada April 2026, yang merupakan level terendah sejak Juni 2025, diduga akibat dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik global.
Dari sisi perdagangan luar negeri, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar US$3,32 miliar. Meski mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya, angka ini masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat penurunan kinerja ekspor. Di sisi lain, laju inflasi tahunan melandai ke level 2,4 persen pada April 2026, ditopang oleh melambatnya harga pangan dan perumahan.
Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 yang diprediksi mengalami kontraksi secara kuartalan namun tetap mencatatkan pertumbuhan secara tahunan. Selain itu, kebijakan pemerintah terkait potensi penerapan bea keluar dan windfall tax untuk komoditas nikel dalam rangka menutupi beban subsidi energi juga menjadi perhatian utama bagi investor.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Indeks Bisnis-27 dibuka melemah 0,44 persen ke level 464,64 pada Selasa (5/5/2026) akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Sebanyak 17 saham konstituen terpantau terkoreksi, termasuk ASII yang turun 4,94 persen, JPFA sebesar 4,18 persen, dan MAPI sebanyak 3,47 persen.
Sentimen negatif pasar global diperparah oleh konflik di Timur Tengah serta penurunan aktivitas manufaktur domestik dengan PMI Indonesia yang melambat ke level 49,1 pada April 2026. Meski dibayangi ketidakpastian, investor kini menantikan data pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 serta kebijakan pemerintah terkait potensi pajak komoditas nikel.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia