
JogloNesia – Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, kembali mencatatkan rekor tertinggi pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Pergerakan positif ini didorong oleh penurunan tajam harga minyak global serta munculnya optimisme terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data Reuters pada pukul 09:30 waktu setempat (ET), indeks Dow Jones Industrial Average menguat 192,59 poin atau 0,39% ke level 50.091,92. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 6,38 poin atau 0,09% menjadi 7.374,11, dan Nasdaq Composite terkerek 40,33 poin atau 0,16% ke posisi 25.879,28.
Harga Minyak Mulai Normal, Begini Prospek Kinerja Emiten Migas
Sentimen utama yang memicu reli pasar saham adalah melemahnya harga minyak mentah dunia yang terkoreksi sekitar 5%, menjauh dari level psikologis US$100 per barel. Penurunan harga ini dipicu oleh harapan adanya kesepakatan terbatas antara AS dan Iran yang diharapkan mampu meredakan ketegangan geopolitik, sekaligus menjamin keamanan jalur pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Meski Iran masih diprediksi akan memberikan tanggapan atas proposal tersebut, sejumlah pejabat menyebut kedua negara tengah berupaya mencapai kesepakatan sementara. Senior Portfolio Manager dari Dakota Wealth, Robert Pavlik, menyatakan bahwa keinginan untuk menyelesaikan konflik ini terlihat jelas dari pihak AS di bawah pemerintahan Trump.
Rupiah Melemah dan Minyak Naik, Target IHSG 2026 Dipangkas
Di sisi lain, sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang selama beberapa pekan terakhir menjadi motor penggerak Wall Street mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum. Saham Arm Holdings, misalnya, sempat anjlok 7,4% pada sesi pra-pembukaan akibat kekhawatiran pasokan chip AI. Tekanan serupa juga dialami oleh saham produsen chip lainnya, seperti Intel yang melemah 3,3% dan Nvidia yang terkoreksi tipis sebesar 0,3%.
Meski begitu, fundamental ekonomi AS tetap terjaga. Data ketenagakerjaan menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran berada di bawah perkiraan, yang mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih tangguh. Para investor kini tengah menantikan data nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat, dengan ekspektasi penambahan 62.000 lapangan kerja baru pada bulan April.
Laba Bersih PGAS Melonjak, Ini Prospek dan Target Harga Sahamnya
Tangguhnya pasar tenaga kerja dan tingginya harga energi membuat pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun, sebuah perubahan ekspektasi yang cukup signifikan dibanding proyeksi pemangkasan sebelumnya. Fokus pasar kini tertuju pada pernyataan sejumlah pejabat The Fed, termasuk Neel Kashkari, Beth Hammack, dan John Williams.
Yield SBN Masih Tinggi, Investor Bisa Memanfaatkan Peluang dengan Strategi Ini
Sementara itu, pergerakan saham individual di Wall Street terpantau bervariasi. McDonald’s mencatatkan kenaikan saham sebesar 2,7% setelah kinerja pendapatan dan labanya melampaui ekspektasi pasar. Begitu pula dengan Datadog yang melonjak hampir 30% setelah perusahaan merevisi naik proyeksi laba tahunannya.
Sebaliknya, sentimen negatif menekan Snap yang sahamnya anjlok 8% akibat dampak konflik Timur Tengah dan perlambatan ekonomi di Amerika Utara terhadap pendapatan iklan kuartal pertama. Di sektor lain, Whirlpool mencatatkan penurunan drastis sebesar 22% setelah laporan penjualan yang tidak memenuhi ekspektasi serta keputusan perusahaan untuk menangguhkan pembagian dividen.
Ringkasan
Indeks utama Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq, mencapai rekor tertinggi pada perdagangan 7 Mei 2026. Kenaikan ini didorong oleh penurunan harga minyak global dan optimisme kesepakatan damai antara AS dan Iran. Dow Jones Industrial Average menguat 0,39%, S&P 500 naik 0,09%, dan Nasdaq Composite bertambah 0,16%.
Penurunan harga minyak sekitar 5% menjauh dari level US$100 per barel menjadi sentimen utama yang memicu reli pasar saham, seiring harapan meredanya ketegangan geopolitik. Meskipun sektor teknologi dan AI mulai kehilangan momentum, fundamental ekonomi AS tetap kuat dengan data ketenagakerjaan di bawah perkiraan. Investor kini menantikan data nonfarm payrolls dan pernyataan pejabat The Fed.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia