
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) kini tengah memacu optimalisasi pemanfaatan compressed natural gas (CNG) serta mempercepat pengembangan infrastruktur mini-liquefied natural gas (LNG). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk menghadirkan alternatif energi rumah tangga yang lebih beragam sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG). Menurut Fathul, optimalisasi stasiun induk CNG dan pembangunan terminal mini-LNG akan memberikan masyarakat pilihan energi yang lebih variatif, tidak lagi terpaku hanya pada LPG.
Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (9/5/2026), Fathul menekankan bahwa diversifikasi energi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penyaluran gas. Selain itu, langkah tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk beralih menuju sumber energi yang lebih aman, bersih, dan efisien bagi sektor rumah tangga.
Ketergantungan terhadap LPG saat ini menjadi tantangan serius, mengingat 81 persen dari total kebutuhan masyarakat masih harus dipenuhi melalui impor. Kondisi tersebut tidak hanya membebani fiskal negara, tetapi juga menjadi urgensi bagi pemerintah untuk segera melakukan transformasi energi. Sebagai bagian dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk membangun jaringan gas bumi hingga 350 ribu sambungan rumah (SR) pada tahun 2029.
Guna merealisasikan target tersebut, BPH Migas memandang penting adanya percepatan regulasi terkait stasiun induk CNG dan terminal mini-LNG agar iklim investasi menjadi lebih kondusif. BPH Migas juga mendorong penerapan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sebagai solusi pembiayaan, terutama untuk menjawab tantangan geografis pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia timur.
Terkait teknis implementasinya, Fathul menjelaskan bahwa konversi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menjadi stasiun induk (mother station) dapat dilakukan untuk memperluas jangkauan jaringan gas bumi berbasis CNG. Sementara itu, untuk wilayah yang sulit dijangkau jaringan pipa, penyaluran gas nonpipa melalui mini-LNG akan menjadi solusi yang lebih efektif.
Ringkasan
BPH Migas mendorong optimalisasi pemanfaatan CNG dan percepatan infrastruktur mini-LNG sebagai alternatif energi rumah tangga untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang mencapai 81 persen. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target pemerintah dalam membangun 350 ribu sambungan rumah tangga hingga tahun 2029.
Untuk merealisasikan target tersebut, BPH Migas akan mempercepat regulasi terkait stasiun induk dan mendorong skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) guna mempermudah pembiayaan. Strategi implementasinya meliputi konversi SPBG menjadi stasiun induk untuk perluasan jaringan pipa, serta pemanfaatan mini-LNG sebagai solusi distribusi gas di wilayah yang sulit dijangkau.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia