
Awal pekan ini, tepatnya pada Senin, 11 Mei 2026, pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan di dua instrumen utama. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan sebesar 4 poin ke posisi Rp 17.386, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 9,46 poin dan mendarat di level 6.959,94.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini utamanya dipicu oleh kebuntuan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi geopolitik tersebut memicu penguatan dolar AS sekaligus mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. “Rupiah diperkirakan terus berada dalam tekanan di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.400 per dolar AS, apalagi pasar domestik juga masih menanti rilis data survei kepercayaan konsumen,” ungkap Lukman.
Sementara itu, dari sisi pasar modal, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, memproyeksikan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global dan kebijakan tarif royalti komoditas selama tiga hari ke depan. Isu utama yang menjadi sorotan adalah peluang berakhirnya perang Rusia-Ukraina serta kekhawatiran terhadap hantavirus. Meski sempat memicu kecemasan, data dari platform Kalshi menunjukkan bahwa hanya ada probabilitas sebesar 21 persen bahwa hantavirus akan menjadi ancaman serius bagi pasar.
Perhatian investor global kini tertuju pada pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping. Fokus utama pembicaraan tersebut diprediksi akan didominasi oleh isu perang Iran. Menurut Hari, ketegangan ini berisiko mempersempit ruang negosiasi bagi isu krusial lainnya, seperti kebijakan tarif perdagangan dan pasokan rare earth, yang memicu ketidakpastian dalam jangka pendek.
Di dalam negeri, pelaku pasar tengah mencermati agenda rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026. Meski tidak diprediksi memunculkan pendatang baru, pergeseran bobot saham akibat agenda tersebut diyakini akan mempengaruhi arah pergerakan pasar secara signifikan.
Sentimen lain yang tidak kalah penting adalah rencana perubahan tarif royalti minerba. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan dengar pendapat pada 8 Mei 2026 terkait usulan revisi tarif untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak. Kebijakan ini diperkirakan akan mulai berlaku pada Juni 2026.
Hari menyoroti bahwa komoditas emas akan menerima dampak paling signifikan dengan kenaikan tarif batas bawah hingga 100 persen. Sementara itu, sektor timah diprediksi menjadi yang paling terpukul karena kenaikan tarif terjadi pada kedua ujung rentang royalti. Tekanan terhadap sektor pertambangan semakin berat dengan adanya wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang sedang dikaji oleh Kementerian Keuangan, khususnya untuk subsektor nikel dan batu bara.
Melihat kompleksitas sentimen tersebut, Hari memprediksi IHSG pada periode 11-13 Mei 2026 akan bergerak secara mixed dengan kecenderungan terbatas. Rotasi portofolio akibat rebalancing MSCI diproyeksikan akan memicu volatilitas pada saham-saham berkapitalisasi besar dalam jangka waktu dekat.
Ringkasan
Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan pada Senin, 11 Mei 2026, dengan pelemahan rupiah ke level Rp 17.386 per dolar AS serta koreksi IHSG ke posisi 6.959,94. Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong penguatan dolar AS, serta ketidakpastian pasar global menjelang pertemuan antara Presiden AS dan Cina.
Selain faktor global, pelaku pasar dalam negeri juga menantikan agenda rebalancing MSCI serta rencana perubahan tarif royalti komoditas minerba. Kebijakan revisi tarif yang diusulkan Kementerian ESDM, terutama pada sektor emas dan timah, dinilai menambah beban bagi sektor pertambangan. Akibat berbagai sentimen tersebut, IHSG diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terbatas hingga pertengahan minggu.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia