Prospek Saham Jayamas Medica

JogloNesia JAKARTA. Kinerja PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) pada awal tahun 2026 menunjukkan kualitas pertumbuhan yang sangat solid. Perseroan berhasil mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 35,4% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 99 miliar. Pertumbuhan signifikan ini tidak hanya ditopang oleh penyesuaian harga jual, tetapi juga didorong oleh peningkatan volume penjualan serta efisiensi operasional yang kian optimal.

Advertisements

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa kemampuan OMED dalam mengonversi pertumbuhan volume menjadi profitabilitas mencerminkan fundamental perusahaan yang kokoh di tengah tingginya permintaan pasar terhadap alat kesehatan.

“Pertumbuhan laba ini bukan sekadar dampak kenaikan harga jual, melainkan benar-benar dipacu oleh lonjakan volume dan efisiensi operasional yang nyata,” ujar Liza dalam keterangannya kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Data internal menunjukkan volume penjualan OMED melesat 54,1% secara tahunan, mencapai hampir 942 juta unit. Selaras dengan itu, margin laba kotor perusahaan turut terkerek menjadi 36,0% dari posisi sebelumnya sebesar 33,7%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perusahaan mampu menyerap biaya overhead pabrik dengan lebih efisien seiring dengan skala produksi yang kian membesar.

Advertisements

Jayamas Medica Industri (OMED) Targetkan Pendapatan Rp 2,3 Triliun di 2026

Senada dengan hal tersebut, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memandang kualitas pertumbuhan laba OMED tergolong tinggi berkat ekspansi margin yang signifikan. Ia memaparkan bahwa laba kotor tumbuh 40,2%, melampaui pertumbuhan pendapatan yang sebesar 31,1%. Sementara itu, laba usaha melonjak hingga 67,8% berkat adanya faktor operating leverage.

Abida menambahkan bahwa strategi penetrasi pasar melalui penyesuaian rata-rata harga jual (ASP) di beberapa segmen terbukti efektif dalam menjaga profitabilitas, terutama dengan didukung oleh efisiensi biaya produksi yang dikelola secara optimal.

Dari sisi pendapatan, meningkatnya belanja pemerintah di sektor kesehatan menjadi katalis positif bagi bisnis OMED. Liza mengungkapkan bahwa kontribusi segmen pemerintah terhadap total pendapatan perusahaan terus menunjukkan tren peningkatan sepanjang awal tahun ini.

“Penjualan di segmen pemerintah melonjak 64% secara tahunan menjadi Rp 207 miliar. Kontribusi segmen ini terhadap total revenue pun naik dari 29,0% menjadi 36,3%,” jelasnya.

Abida menilai peningkatan belanja pemerintah di sektor kesehatan ini bersifat jangka panjang dan akan terus menopang pertumbuhan industri alat kesehatan domestik secara struktural. Hal ini sejalan dengan komitmen program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan agenda penguatan ketahanan alat kesehatan nasional.

Memasuki kuartal II-2026, prospek OMED diprediksi tetap positif seiring dengan langkah ekspansi distribusi dan pengembangan pasar mancanegara. Salah satu strategi utama yang disiapkan perusahaan adalah pembangunan National Distribution Center (NDC) di Jakarta untuk meningkatkan efisiensi logistik dan distribusi produk.

“Kehadiran NDC baru akan mempercepat rantai distribusi ke wilayah Indonesia bagian barat yang merupakan pusat konsumsi kesehatan nasional,” ungkap Liza.

Selain memperkuat penetrasi domestik, langkah OMED melakukan ekspansi ke pasar Filipina dinilai membuka peluang pertumbuhan baru bagi perseroan. Liza menyebut ekspor ke Filipina semakin memperkuat posisi OMED sebagai basis manufaktur healthcare regional dalam tema global China+1.

Abida menambahkan bahwa ekspansi ekspor ini juga memberikan manfaat tambahan berupa perlindungan nilai alami (natural hedge) terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah melalui perolehan pendapatan dalam mata uang dolar.

Dari sisi profitabilitas, margin laba kotor OMED di level 36,0% diproyeksikan masih berpotensi terjaga di masa depan, terutama melalui optimalisasi bauran produk (product mix). Permintaan terhadap produk dengan utilisasi tinggi seperti wound care, antiseptic liquid, serta syringes & needles tetap kuat di pasar domestik.

Liza juga menyoroti potensi dari pengembangan produk bernilai tambah tinggi yang mulai dikembangkan perusahaan. “OMED mulai masuk ke produk yang lebih specialized seperti intraocular lens untuk pasar operasi katarak domestik, yang secara margin berpotensi lebih menarik,” imbuhnya.

Di sisi lain, Abida menilai keberlanjutan margin juga didukung oleh pergeseran fokus perusahaan ke produk dengan margin lebih tinggi, seperti pada segmen bioteknologi dan laboratorium yang mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Berdasarkan berbagai katalis tersebut, Abida optimistis target pendapatan OMED tahun 2026 masih sangat realistis untuk dicapai. “Target pendapatan Rp 2,3 triliun atau tumbuh 10%-15% secara tahunan sangat mungkin tercapai, mengingat run-rate kuartal I yang sudah menyentuh Rp 572,2 miliar,” pungkasnya.

Ringkasan

PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada awal tahun 2026 dengan lonjakan laba bersih sebesar 35,4% secara tahunan menjadi Rp 99 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan sebesar 54,1%, efisiensi operasional, serta kenaikan kontribusi segmen pemerintah yang tumbuh 64%. Optimalisasi margin laba kotor menjadi 36,0% mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam mengelola biaya produksi dan skala ekonomi.

Prospek OMED ke depan dinilai positif berkat rencana ekspansi distribusi melalui pembangunan National Distribution Center dan penetrasi pasar mancanegara ke Filipina. Perusahaan juga fokus pada pengembangan produk bernilai tambah tinggi, seperti segmen bioteknologi dan alat medis khusus, guna menjaga profitabilitas jangka panjang. Berdasarkan performa saat ini, target pendapatan sebesar Rp 2,3 triliun pada tahun 2026 dinilai realistis untuk dicapai.

Advertisements