
JogloNesia – JAKARTA. Prospek kinerja PT Petrosea Tbk (PTRO) dinilai masih sangat menjanjikan sepanjang tahun 2026. Emiten jasa pertambangan terkemuka ini secara resmi memperluas jangkauan portofolio bisnisnya dengan merambah industri tambang emas di wilayah Papua Nugini.
Langkah strategis tersebut menandai diversifikasi komoditas yang lebih luas bagi perusahaan yang sebelumnya memiliki basis kuat di sektor jasa pertambangan batubara. PTRO diketahui telah menuntaskan proses penawaran mengikat (binding offer) dengan Tolu Minerals Limited pada 20 April 2026.
Melalui transaksi tersebut, Petrosea berhasil mengantongi convertible note senilai AUS$ 23,75 juta. Investasi ini sekaligus membuka peluang besar bagi kerja sama operasional yang lebih intensif di sektor pertambangan emas ke depannya.
Senior Research Analyst NH Korindo Sekuritas Indonesia, Axell Ebenhaezer, memberikan pandangan positif terhadap langkah ini. Ia menilai PTRO berpotensi memperoleh kontrak jasa pertambangan serta engineering, procurement, and construction (EPC) dari Tolu Minerals, baik untuk proyek tambang Tolukuma maupun berbagai proyek eksplorasi lainnya di Papua Nugini.
Ekspansi ini merupakan bagian dari fokus strategis perseroan dalam memperkuat pijakan di sektor tambang emas internasional, yang sebelumnya sudah disinyalkan melalui akuisisi Heavenly Bandari Services (HBS) pada tahun lalu. Strategi tersebut juga selaras dengan visi PTRO yang menempatkan proyek internasional sebagai sumber pertumbuhan utama perusahaan di masa depan.
“Segmen tambang emas diperkirakan akan menjadi katalis utama bagi pertumbuhan pendapatan PTRO dalam jangka panjang. Hal ini mengingat potensi cadangan emas di Papua Nugini yang masih sangat besar dan belum tergarap secara optimal,” papar Axell dalam risetnya pada 11 Mei 2026.
Senada dengan hal tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa ekspansi ke proyek tambang emas tersebut berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi PTRO. Langkah ini memungkinkan perusahaan untuk memperluas perannya sebagai kontraktor jasa pertambangan di proyek emas global.
Menurut Nafan, diversifikasi ini akan memberikan stabilitas pendapatan yang lebih baik bagi perusahaan, terutama dalam menghadapi volatilitas harga di sektor batubara. Karakteristik komoditas emas yang cenderung lebih resilient atau tahan banting terhadap gejolak ekonomi global juga diprediksi akan menopang margin keuntungan PTRO ke depan.
“Dengan masuknya portofolio emas, margin keuntungan PTRO diproyeksikan akan semakin menebal karena komoditas ini relatif lebih stabil menghadapi fluktuasi ekonomi global,” ungkap Nafan pada Selasa (12/5/2026).
Di sisi lain, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mencermati bahwa kinerja PTRO juga akan didukung oleh sejumlah katalis positif lainnya. Pertama adalah monetisasi backlog yang berasal dari kontrak jangka panjang dengan raksasa tambang Freeport Indonesia dan Bara Prima Mandiri.
Kedua, adanya akselerasi pada segmen engineering, procurement, construction, and installation (EPCI) melalui integrasi Hafar dan Scan-Bilt. Hal ini sudah mulai terlihat dari raihan kontrak strategis dari Petronas senilai US$ 9,5 juta.
Selain itu, PTRO juga terus melebarkan sayapnya ke kancah internasional hingga ke Pakistan melalui proyek EPC bersama Reko Diq Mining Company. Harga emas global yang masih bertahan di level tinggi juga dinilai akan memperkuat potensi nilai konversi saham Tolu Minerals di masa mendatang. Axell juga menambahkan bahwa peluang masuknya saham PTRO ke dalam indeks MSCI big cap menjadi sentimen positif tambahan yang dapat mendongkrak harga saham perseroan.
Meskipun memiliki prospek cerah, investor diingatkan untuk tetap mencermati sejumlah risiko. Perubahan regulasi di sektor pertambangan domestik, seperti potensi pemangkasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) serta kenaikan pajak, dapat menjadi tantangan yang memengaruhi minat investasi pada proyek tambang baru.
PTRO Chart by TradingView
Selain faktor regulasi, risiko operasional seperti keterlambatan eksekusi proyek dan faktor cuaca ekstrem juga dapat menghambat kinerja lapangan. Namun, jika menilik laporan keuangan terbaru, PTRO menunjukkan performa yang impresif. Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$ 284,13 juta, melonjak tajam 84,24% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 154,22 juta.
Pertumbuhan pendapatan ini diikuti dengan kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 1,39 juta, atau tumbuh 50,54% yoy dibandingkan pencapaian sebelumnya sebesar US$ 920.000.
Berdasarkan tren positif tersebut, Axell memproyeksikan PTRO mampu meraup pendapatan hingga US$ 1,27 miliar untuk keseluruhan tahun 2026, naik 43% dari realisasi tahun 2025 yang sebesar US$ 886 juta. Sementara itu, laba bersih diprediksi akan melonjak signifikan sebesar 135,9% menjadi US$ 68 juta pada akhir 2026.
Terkait rekomendasi investasi, Axell menyarankan buy untuk saham PTRO dengan target harga Rp 8.000 per saham. Rekomendasi serupa juga datang dari Founder WH-Project, William Hartanto, yang menyarankan buy dengan target harga Rp 6.350 per saham. Di sisi lain, dari perspektif teknikal, Nafan Aji Gusta masih menyarankan para investor untuk bersikap wait and see terlebih dahulu terhadap pergerakan saham PTRO.
Ringkasan
PT Petrosea Tbk (PTRO) memperluas portofolio bisnisnya ke sektor pertambangan emas di Papua Nugini melalui kerja sama strategis dengan Tolu Minerals Limited. Langkah diversifikasi ini menandai pergeseran fokus dari pertambangan batu bara ke komoditas yang dinilai lebih stabil terhadap fluktuasi ekonomi global. Perusahaan berhasil mengantongi investasi senilai AUS$ 23,75 juta yang membuka peluang besar untuk kontrak jasa pertambangan dan konstruksi di pasar internasional.
Kinerja keuangan PTRO menunjukkan tren positif dengan lonjakan pendapatan sebesar 84,24% pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Analis memproyeksikan pertumbuhan laba bersih yang signifikan seiring integrasi proyek internasional dan harga emas dunia yang tetap tinggi. Meski memiliki prospek cerah, investor diingatkan untuk tetap mencermati risiko regulasi domestik dan tantangan operasional lapangan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia