
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) diprediksi masih akan menghadapi tekanan pada kuartal II-2026. Meskipun pendapatan dan volume penjualan perusahaan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tantangan operasional masih membayangi profitabilitas emiten pelat merah ini.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai bahwa pemulihan di industri semen nasional belum sepenuhnya solid. Menurutnya, profitabilitas emiten masih tergerus oleh kenaikan beban produksi, terutama akibat tingginya biaya energi.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, SMGR mencatatkan pendapatan sebesar Rp 8,29 triliun atau tumbuh 8,3% secara tahunan (year on year/YoY). Pertumbuhan pendapatan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan domestik sebesar 5,4% YoY serta peningkatan rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) domestik sebesar 2,2% YoY.
Baca Juga: Wall Street Mixed Senin (18/5), Yield dan Harga Minyak Melemah Redakan Tekanan Pasar
Kendati mencatatkan pertumbuhan pendapatan, laba bersih SMGR pada kuartal I-2026 tercatat hanya sebesar Rp 80 miliar. Walaupun angka tersebut meningkat 89% secara tahunan, realisasi laba bersih ini masih berada di bawah ekspektasi pasar, yang tertekan oleh beban pajak yang tinggi serta kenaikan biaya produksi.
Harry menegaskan bahwa kondisi ini mencerminkan industri semen yang belum pulih sepenuhnya. “Tentu kondisinya belum sehat. Laba bersih akan tergerus dengan margin yang lebih rendah akibat krisis energi yang terjadi,” ujar Harry kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa prospek kinerja SMGR pada kuartal II-2026 masih tergolong menantang. Harry belum melihat potensi perbaikan yang signifikan bagi sektor semen dalam jangka pendek, dengan pertimbangan biaya yang terus meningkat serta tingkat permintaan yang belum stabil.
Tekanan bagi emiten semen diperburuk oleh harga batu bara yang masih tinggi. Situasi ini semakin berat seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah, peningkatan inflasi, serta potensi suku bunga tinggi yang dapat menggerus daya beli masyarakat.
Baca Juga: Mark Dynamics (MARK) Tebar Dividen Rp 342 Miliar, Berikut Jadwalnya
Di sisi lain, pasar juga diminta untuk mencermati sentimen terkait revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara. Harry berpendapat, jika revisi RKAB batu bara kembali ke level normal, harga komoditas tersebut berpotensi melemah, yang pada akhirnya dapat meringankan beban margin perusahaan semen.
Menanggapi prospek saham SMGR, analis UBS Sekuritas Indonesia, Ivan Reynaldo Sutheja, tetap mempertahankan rekomendasi netral dengan target harga Rp 2.700 per saham. Sementara itu, konsensus pasar melalui Harry Su memberikan target harga yang lebih tinggi di level Rp 3.000 per saham.
Ringkasan
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,3% pada kuartal I-2026, didorong oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual domestik. Namun, profitabilitas perusahaan masih tertekan oleh beban produksi yang tinggi akibat lonjakan biaya energi, beban pajak, dan ketidakstabilan permintaan pasar yang membuat realisasi laba bersih di bawah ekspektasi.
Kondisi industri semen diprediksi masih menantang pada kuartal II-2026 akibat pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah dan harga komoditas yang tinggi. Saat ini, analis mempertahankan rekomendasi netral untuk saham SMGR dengan target harga yang bervariasi antara Rp 2.700 hingga Rp 3.000 per saham, bergantung pada sentimen perbaikan biaya energi di masa depan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia