Kinerja Emiten Poultry Tetap Solid Meski Ditekan Rupiah dan Harga Pakan

JAKARTA – Sektor perunggasan (poultry) di Indonesia mencatatkan performa yang mengesankan pada kuartal pertama tahun 2026. Emiten-emiten raksasa seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan dua digit secara tahunan.

Advertisements

Secara rinci, CPIN membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 12,7% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, JPFA mencatat kenaikan signifikan sebesar 23,6% YoY, diikuti oleh MAIN yang tumbuh sebesar 17% YoY dalam tiga bulan pertama tahun 2026.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai capaian ini mencerminkan kualitas pertumbuhan yang solid di tengah tantangan biaya bahan baku yang masih menekan industri. Menurut Abida, keberhasilan perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan harga jual ayam hidup dan day old chick (DOC) mampu mengompensasi kenaikan beban pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS).

Koreksi Harga CPO Diproyeksi Hanya Sementara, Fundamental Masih Solid

Advertisements

Abida menambahkan bahwa pertumbuhan ini merupakan indikasi pemulihan permintaan protein hewani di pasar domestik yang bersifat struktural, bukan sekadar dipengaruhi oleh faktor musiman. Meski begitu, industri perunggasan nasional tetap harus mewaspadai tantangan pelemahan nilai tukar rupiah.

Ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor, seperti jagung dan bungkil kedelai, membuat struktur biaya emiten poultry sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs. “Setiap pelemahan rupiah sebesar 10% berpotensi meningkatkan COGS pakan sekitar 6% hingga 8%. Dampaknya cukup signifikan terhadap struktur biaya operasional dan margin laba perusahaan,” jelas Abida kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).

Dalam menghadapi tekanan ekonomi makro tersebut, masing-masing perusahaan memiliki daya tahan yang berbeda. CPIN dinilai sebagai emiten yang paling resilien berkat skala produksi pakan yang masif serta posisi tawar yang kuat dalam kontrak jangka panjang. Sebaliknya, MAIN dipandang paling rentan terhadap gejolak biaya akibat skala usaha yang lebih kecil dan keterbatasan fleksibilitas dalam melakukan lindung nilai.

Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Memasuki kuartal kedua tahun 2026, prospek industri poultry diperkirakan masih tetap positif, meski tekanan pada margin laba diprediksi akan meningkat. Abida menjelaskan bahwa kinerja kuartal kedua akan tetap solid, namun ada kecenderungan pelemahan permintaan pasca Lebaran. Meski demikian, potensi pemulihan tetap terbuka menjelang musim liburan sekolah.

Pihaknya juga memberikan catatan mengenai potensi oversupply DOC yang dapat menekan harga ayam hidup jika tingkat produksi tidak disesuaikan dengan permintaan pasar. Selain itu, ruang bagi emiten untuk menaikkan harga jual produk tergolong terbatas, mengingat industri ini sangat bergantung pada daya beli masyarakat.

Secara fundamental, CPIN tetap menjadi pemimpin pasar dengan integrasi bisnis yang kokoh, sementara JPFA dinilai cukup tangguh berkat diversifikasi usaha yang terjaga dengan baik. Di sisi lain, MAIN tetap perlu memperhatikan efisiensi internal agar dapat bertahan menghadapi tekanan biaya produksi yang masih tinggi di masa mendatang.

Ringkasan

Emiten sektor perunggasan seperti CPIN, JPFA, dan MAIN mencatatkan pertumbuhan pendapatan dua digit pada kuartal pertama 2026 berkat kenaikan harga jual ayam hidup dan day old chick (DOC). Kinerja positif ini mencerminkan pemulihan permintaan protein hewani di pasar domestik yang solid serta kemampuan perusahaan dalam mengompensasi kenaikan beban pokok penjualan. Analis menilai pencapaian tersebut menunjukkan daya tahan industri di tengah tantangan biaya bahan baku yang menekan margin keuntungan.

Meskipun kinerja tetap solid, industri perunggasan menghadapi risiko dari pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan biaya pakan impor, terutama bagi perusahaan dengan skala usaha lebih kecil. Selain tekanan kurs, emiten perlu mewaspadai potensi oversupply DOC dan terbatasnya ruang kenaikan harga jual produk akibat daya beli masyarakat. Kedepannya, efisiensi operasional dan diversifikasi usaha menjadi kunci bagi perusahaan untuk mempertahankan stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Advertisements