
Google menilai Asia memiliki fondasi yang kuat untuk memimpin transisi industri hijau global, berkat kapasitas manufaktur yang masif dan tingginya permintaan korporasi terhadap energi bersih. Namun, berbagai potensi tersebut dinilai belum terintegrasi secara optimal, sehingga menghambat percepatan transisi energi di kawasan ini.
Hal tersebut disampaikan oleh Spencer Low, Head of Regional Sustainability for APAC at Google, dalam ajang Climate Group Asia Action Summit di Singapura pada 21 Mei 2026. Menurutnya, meski Asia memiliki keunggulan manufaktur, tingginya permintaan energi bersih dari perusahaan saja tidak lagi cukup untuk menciptakan perubahan yang signifikan.
Pernyataan Low merujuk pada temuan laporan pembangunan industri 2026 dari UNIDO. Laporan tersebut menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, transisi energi, dan dinamika rantai pasok global tengah membentuk ulang lanskap industri sekaligus memperlebar kesenjangan dalam produktivitas serta kinerja lingkungan. Untuk menjembatani kesenjangan ini, diperlukan transformasi sistemik agar komitmen korporasi dapat terealisasi menjadi industri yang benar-benar hijau.
Untuk mencapai target tersebut, Low menekankan tiga aspek krusial: akses pasar, infrastruktur jaringan listrik, dan dukungan kebijakan berbasis karbon. Terkait akses pasar, ia menyoroti bahwa mekanisme pembelian energi bersih di Asia saat ini masih terfragmentasi. Menurutnya, terdapat peluang besar bagi pemerintah untuk memperluas skema pembelian listrik langsung atau Direct Power Purchase Agreement (PPA), tarif listrik hijau dari penyedia utilitas, hingga perdagangan energi lintas batas.
Lebih lanjut, integrasi energi kawasan melalui pengembangan ASEAN Power Grid menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda. Dalam pengembangan infrastruktur, Low menyarankan pendekatan power-first infrastructure. Artinya, ketersediaan energi bersih tidak boleh lagi dianggap sebagai komponen tambahan, melainkan harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan pembangunan pusat data dan kawasan industri.
Google sendiri sedang berupaya menjalankan operasional dengan 24/7 carbon-free energy, di mana konsumsi energi disesuaikan secara real-time dengan sumber bebas karbon. Untuk mendukung sistem ini, dibutuhkan infrastruktur pemantauan energi yang presisi. Sebagai tolok ukur, beberapa negara di Asia Pasifik seperti Taiwan, dengan interval pemantauan 15 menit, dan Australia, dengan lima menit, telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam penerapan teknologi tersebut.
Selain operasional internal, Low menekankan urgensi dekarbonisasi rantai pasok atau emisi Scope 3. Mengingat Asia adalah jantung rantai pasok global, peran pemasok menjadi faktor penentu. Perusahaan besar dapat memanfaatkan daya beli mereka untuk membuka peluang bagi pemasok tingkat dua dan tiga yang seringkali terkendala sumber daya untuk melakukan transisi secara mandiri.
Sebagai langkah konkret, Google aktif berkolaborasi dengan berbagai koalisi industri seperti Clean Energy Buyers Association, Asia Clean Energy Coalition, dan SEMI CEA yang berfokus pada keberlanjutan industri semikonduktor. Pendekatan berbasis sektor ini dianggap penting untuk memastikan dekarbonisasi dapat menjangkau seluruh lini rantai pasok industri secara menyeluruh.
Pilihan Editor: Pemerintah Akan Bentuk Satgas Deregulasi
Ringkasan
Google menyatakan bahwa meskipun Asia memiliki kapasitas manufaktur yang kuat, transisi menuju industri hijau masih terhambat oleh kurangnya integrasi sistemik. Tiga hambatan utama yang harus diatasi adalah akses pasar yang terfragmentasi, kebutuhan akan infrastruktur jaringan listrik yang memadai, serta kurangnya dukungan kebijakan berbasis karbon yang konsisten di tingkat kawasan.
Untuk mempercepat transisi ini, diperlukan langkah strategis seperti penerapan Direct Power Purchase Agreement (PPA) dan pengembangan jaringan listrik terintegrasi seperti ASEAN Power Grid. Selain itu, perusahaan besar didorong untuk melakukan dekarbonisasi rantai pasok secara menyeluruh dengan memberikan dukungan bagi pemasok guna memastikan target energi bersih dapat terealisasi secara berkelanjutan.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia