Prospek Harga Aluminium, Timah, dan Nikel Reli di Kuartal III-2026

JAKARTA – Reli harga logam industri yang telah berlangsung sejak awal tahun 2026 diprediksi masih akan berlanjut hingga kuartal III-2026. Kenaikan harga komoditas utama seperti aluminium, timah, dan nikel saat ini didorong oleh kombinasi pemulihan manufaktur global serta gangguan pasokan yang bersifat struktural di berbagai negara produsen besar.

Advertisements

Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (22/5/2026), harga aluminium tercatat naik 0,35% secara harian ke level US$ 3.650 per ton, mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 47,67% secara year to date (YtD). Meski harga timah mengalami koreksi harian sebesar 1,45% ke level US$ 53.248 per ton, komoditas ini tetap mencatatkan penguatan tajam sebesar 64,46% YtD. Sementara itu, nikel bergerak menguat 0,67% ke posisi US$ 18.880 per ton, dengan akumulasi kenaikan 21,26% YtD.

Faktor Pendorong Utama

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa fundamental pasar logam industri saat ini ditopang oleh pemulihan sektor manufaktur secara simultan, terutama di China dan Amerika Serikat. Ekspansi pada Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur di kedua negara tersebut menjadi fondasi utama reli harga. Kondisi ini diperparah dengan pengetatan pasokan secara struktural yang memicu kenaikan harga yang agresif.

Advertisements

Memasuki kuartal II-2026, dinamika pasar mulai bergeser dari sentimen spekulatif menuju gangguan pasokan riil. Krisis logistik serta ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi pemicu kenaikan harga aluminium akibat terhambatnya jalur perdagangan dari kawasan Teluk. Di sisi lain, harga timah meroket ke level tertinggi menyusul pengetatan penegakan hukum terhadap tambang ilegal di Sumatra, Indonesia, serta keterlambatan audit sumber daya pasca penutupan tambang Man Maw di Myanmar.

Untuk komoditas nikel, kebangkitan harga didorong oleh langkah pemerintah Indonesia dalam memangkas kuota produksi guna menjaga stabilitas harga spot. Rencana perawatan berkala di kawasan industri Weda Bay yang diperkirakan akan memangkas kapasitas produksi sebesar 10%–15% turut menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga.

Prospek Permintaan dan Prediksi Pasar

Sutopo menilai bahwa China dan industri kendaraan listrik (EV) tetap menjadi jangkar utama permintaan logam dunia. Stimulus fiskal dari Beijing melalui penerbitan obligasi khusus pemerintah daerah dinilai berhasil menopang permintaan aluminium untuk proyek infrastruktur berskala masif. Sementara untuk nikel dan timah, kebutuhan dari industri teknologi dan energi hijau di Asia terus menunjukkan permintaan yang solid, meski konsumsi di Eropa cenderung stagnan.

Di antara komoditas tersebut, timah dinilai memiliki prospek paling menjanjikan secara struktural. Dengan pasokan yang sangat ketat akibat regulasi di Indonesia dan hambatan politik di Myanmar, timah menjadi komponen krusial bagi industri teknologi tinggi, seperti penyolderan sirkuit elektronik, pusat data AI, hingga industri semikonduktor. Sutopo memproyeksikan harga timah akan bergerak di kisaran US$ 50.000–US$ 57.000 per ton pada kuartal III-2026.

Untuk aluminium, pasar diperkirakan menghadapi ancaman defisit fisik dengan rentang harga US$ 3.450–US$ 3.850 per ton. Adapun nikel diprediksi berada pada kisaran US$ 17.500–US$ 19.800 per ton. Sutopo menjelaskan bahwa nikel memiliki karakteristik high floor atau batas bawah harga yang kuat, namun ruang kenaikannya terbatas karena tingginya inventaris di London Metal Exchange (LME).

Sebagai kesimpulan, selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda, harga logam industri diprediksi akan bertahan di level tinggi hingga akhir kuartal III-2026. Meski premi risiko aluminium dapat menyusut dengan cepat jika terjadi de-eskalasi geopolitik, timah diperkirakan tetap menjadi komoditas paling kokoh karena faktor kelangkaan pasokan yang bersifat struktural dan domestik.

Ringkasan

Reli harga aluminium, timah, dan nikel diprediksi berlanjut hingga kuartal III-2026 akibat pemulihan sektor manufaktur di China dan Amerika Serikat serta gangguan pasokan struktural. Kenaikan harga logam industri ini diperburuk oleh krisis logistik, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, serta kebijakan pengetatan produksi di negara-negara produsen utama seperti Indonesia dan Myanmar. Hingga saat ini, aluminium, timah, dan nikel telah mencatatkan penguatan signifikan secara year-to-date.

Permintaan global terhadap logam tetap ditopang oleh sektor kendaraan listrik serta proyek infrastruktur, dengan timah diprediksi menjadi komoditas paling prospektif karena kelangkaan pasokan yang bersifat struktural. Harga timah diproyeksikan berada di kisaran US$ 50.000–US$ 57.000 per ton, sementara aluminium dan nikel masing-masing diperkirakan bergerak di rentang US$ 3.450–US$ 3.850 per ton dan US$ 17.500–US$ 19.800 per ton. Secara keseluruhan, harga logam industri diperkirakan bertahan di level tinggi selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda.

Advertisements