Persib Bandung Kena Sanksi FIFA, Manajemen Sebut Warisan Masa Lalu

Ringkasan Berita:

Advertisements
  • Sanksi FIFA: Manajemen Persib Bandung menegaskan tidak terkejut dengan larangan transfer pemain dari FIFA karena kasus ini sudah dalam pantauan sejak 2023.
  • Akar Masalah: Sanksi merupakan konsekuensi dari pemutusan kontrak bek asal Filipina, Daisuke Sato, pada pertengahan musim 2023/2024.
  • Hasil Banding CAS: Melalui proses banding di CAS, Persib berhasil memangkas nominal tuntutan kompensasi dari Rp3,03 miliar menjadi Rp2,7 miliar setelah verifikasi selisih gaji.

JogloNesia BANDUNG – Kabar mengenai sanksi larangan aktivitas transfer pemain (transfer ban) yang dijatuhkan oleh FIFA tidak membuat manajemen Persib Bandung panik. Pihak klub memastikan bahwa persoalan hukum yang telah jatuh tempo ini akan segera diselesaikan dalam waktu dekat.

Deputy CEO Persib Bandung, Adhitia Putra Herawan, menjelaskan bahwa sanksi tersebut merupakan buntut dari pemutusan kerja sama dengan bek asal Jepang berpaspor Filipina, Daisuke Sato, di tengah kompetisi 2023/2024. Menurutnya, manajemen telah mengantisipasi kasus ini sejak awal.

“Kami sebenarnya sudah mengetahui kasus ini sejak 2023. Saat itu transisi kepelatihan terjadi, di mana Daisuke Sato digantikan ketika Bojan Hodak masuk. Secara efektivitas, keputusan tersebut terbukti tepat karena berhasil membawa Persib meraih gelar juara pada musim tersebut,” ujar Adhitia saat dihubungi, Minggu (31/5/2026).

Advertisements

Proses Banding di CAS dan Penyesuaian Denda

Manajemen Persib tidak tinggal diam dalam menghadapi sengketa kontrak ini. Pihak klub secara resmi mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (CAS). Langkah ini diambil karena adanya ketidakwajaran dalam laporan pendapatan Sato di klub barunya, yang menjadi acuan perhitungan kompensasi sesuai regulasi FIFA.

Proses verifikasi dokumen di CAS berlangsung selama berbulan-bulan untuk memastikan kebenaran detail kontrak, termasuk tunjangan dan pesangon pemain. Upaya tersebut membuahkan hasil positif bagi keuangan klub. “Putusan CAS keluar sekitar dua bulan lalu. Kami berhasil mendapatkan pengurangan denda; dari tuntutan awal sebesar Rp3,03 miliar menjadi Rp2,7 miliar,” jelas Adhitia.

Bukan Akibat Tunggakan Gaji

Adhitia meminta kepada Bobotoh dan masyarakat untuk tidak salah paham terkait status hukuman tersebut. Ia menegaskan bahwa kondisi finansial Persib tetap sehat dan klub tidak memiliki rekam jejak buruk dalam memenuhi hak-hak pemain.

“Ini bukan karena kami menunggak gaji atau mengabaikan hak pemain. Ini murni proses hukum di CAS untuk memverifikasi nominal gaji yang sebenarnya. Sekarang angkanya sudah jelas, dan kami akan segera menyelesaikannya,” tambahnya.

Pembenahan Administrasi Warisan Manajemen Lama

Lebih lanjut, Adhitia mengungkapkan bahwa manajemen Persib di bawah kepemimpinan Glenn Sugita kini tengah gencar melakukan pembersihan regulasi kontrak pemain. Ia mengakui bahwa beberapa kontrak yang dianggap kurang menguntungkan bagi klub merupakan warisan dari masa transisi manajemen lama, termasuk adanya kontrak pelatih yang berdurasi tidak rasional hingga tujuh tahun.

Transformasi tata kelola kini menjadi prioritas untuk menciptakan industri klub yang lebih profesional. Bukti kemajuan administrasi ini terlihat saat Persib melakukan pemutusan kontrak pemain asing lainnya, Wiliam Marcilio, yang berlangsung mulus melalui proses negosiasi yang transparan.

“Kami sudah belajar banyak dari pengalaman sebelumnya. Dengan Wiliam Marcilio, kami melakukan terminasi kontrak melalui kesepakatan tertulis yang baik. Kami terus merapikan segala lini demi masa depan Persib yang lebih baik,” pungkasnya.

Ringkasan

Manajemen Persib Bandung menegaskan bahwa sanksi larangan transfer dari FIFA merupakan buntut dari pemutusan kontrak bek Daisuke Sato pada musim 2023/2024. Pihak klub telah melakukan banding melalui Court of Arbitration for Sport (CAS) dan berhasil memangkas tuntutan kompensasi dari Rp3,03 miliar menjadi Rp2,7 miliar setelah verifikasi data gaji. Manajemen memastikan bahwa sanksi ini bukanlah akibat dari tunggakan gaji pemain, melainkan proses hukum terkait perhitungan kompensasi yang akan segera diselesaikan.

Kondisi ini dipandang sebagai bagian dari upaya pembenahan tata kelola klub dari warisan manajemen masa lalu. Saat ini, Persib tengah melakukan transformasi administratif untuk memastikan kontrak pemain dan pelatih lebih profesional serta transparan. Ke depannya, manajemen berkomitmen merapikan seluruh lini organisasi demi menciptakan industri klub yang lebih sehat dan berintegritas.

Advertisements