
JAKARTA, JogloNesia – Kinerja produk investasi unitlink berbasis saham diprediksi akan menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2026. Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih fluktuatif, ditambah dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25%, menjadi faktor utama yang menekan performa instrumen ini.
Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, memproyeksikan bahwa kinerja unitlink saham berisiko mencatatkan hasil negatif hingga akhir tahun 2026. Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut jika tidak ada sentimen positif yang signifikan pada semester kedua tahun ini.
“Meskipun penurunan unitlink saham memang lebih terkendali dibandingkan reksadana sejenis, kami memproyeksikan kinerja sepanjang tahun 2026 bisa berakhir negatif jika tidak ada katalis yang kuat di semester kedua,” ujar Wawan kepada Kontan, Senin (1/6/2026).
Wawan menambahkan, terdapat sejumlah skenario yang berpotensi membalikkan tren negatif tersebut. Pemulihan kinerja sangat bergantung pada meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan penurunan suku bunga acuan, serta penguatan nilai tukar Rupiah. Tanpa dukungan dari faktor-faktor tersebut, akan sulit bagi unitlink saham untuk kembali mencetak kinerja positif.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Tetap Bullish, Begini Proyeksi Pergerakannya hingga Akhir Tahun
Di sisi lain, tidak semua produk unitlink mengalami tekanan yang sama. Wawan mencatat bahwa unitlink berbasis pasar uang justru menjadi instrumen yang paling diuntungkan oleh tren kenaikan suku bunga acuan BI. Sementara itu, unitlink berbasis pendapatan tetap dinilai menarik untuk dikoleksi dalam jangka menengah, terutama karena kenaikan imbal hasil (yield) obligasi saat ini.
Data Infovesta secara year to date (ytd) hingga April 2026 menunjukkan gambaran kinerja pasar yang cukup menantang. Unitlink berbasis saham menjadi produk yang terkontraksi paling dalam, yakni sebesar 4,75%. Kondisi serupa juga dialami oleh unitlink campuran yang mencatat kontraksi sebesar 3,62%.
Sementara itu, unitlink pendapatan tetap juga mencatatkan kontraksi rata-rata sebesar 0,97% per April 2026. Hingga saat ini, hanya unitlink berbasis pasar uang yang mampu bertahan di zona positif, dengan mencatatkan rata-rata imbal hasil atau return sebesar 1,04% selama periode tersebut.
Ringkasan
Kinerja unitlink berbasis saham diprediksi akan menghadapi tantangan berat dan berisiko mencatatkan hasil negatif sepanjang tahun 2026 akibat tingginya volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 5,25%. Pemulihan performa instrumen ini sangat bergantung pada kondisi geopolitik, kebijakan suku bunga, dan penguatan nilai tukar Rupiah di semester kedua tahun ini.
Berdasarkan data Infovesta hingga April 2026, unitlink saham mengalami kontraksi terdalam sebesar 4,75%, diikuti oleh unitlink campuran dan pendapatan tetap yang juga mencatatkan hasil negatif. Di tengah kondisi pasar tersebut, hanya unitlink berbasis pasar uang yang mampu bertahan di zona positif dengan mencatatkan imbal hasil sebesar 1,04%.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia