Dead Sea: Fakta Unik & Rekor Dunia yang Mencengangkan!

Di tengah peta dunia, Laut Mati (Dead Sea) memancarkan ketenangan semu, membiru, terkurung gurun batu, dan berada di titik elevasi air terendah di bumi: 439 meter di bawah permukaan laut (per tahun 2025). Namun, saat ini, ada sesuatu yang terasa ganjil di bibir pantainya. Atau ketika memandang panorama Laut Mati dari jalur kota Karak menuju Amman. Bukan hanya airnya yang menyusut, melainkan juga harapan untuk mempertahankan eksistensinya yang perlahan memudar.

Advertisements

Mentari senja di kota Amman masih menyengat hangat, meskipun waktu menunjukkan pukul 16.00. Beberapa turis paruh baya dari Indonesia, delapan pemuda lokal Yordania, dan dua anak kecil bersama orang tua turis Amerika, mulai bergerak nyaris serentak menuju Laut Mati. Mereka membawa handuk dan sebotol air mineral. Sore itu, jumlah pengunjung dari resor kami menginap tidak terlalu banyak, menciptakan suasana yang lebih lenggang dan santai untuk menikmati keunikan Laut Mati.

Sore hari (pukul 16.00 – 18.00) dan pagi hari (pukul 06.30 – 10.00) adalah waktu paling ideal untuk mengunjungi Laut Mati. Pada jam-jam tersebut, suhu relatif sejuk dan sinar matahari tidak terlalu terik. Sangat disarankan untuk menghindari berendam antara pukul 11.00 – 15.00, karena suhu ekstrem dan paparan sinar UV yang intens dapat mempercepat dehidrasi dan menyebabkan iritasi kulit.

Dead Sea: Eksistensi, Keunikan, dan Khasiatnya

Advertisements

Terletak unik di lembah jurang Yordania, Laut Mati berbatasan dengan Yordania (timur), Palestina yang diduduki Israel (barat daya), dan Tepi Barat (barat laut). Sebagai titik terendah di permukaan bumi, Laut Mati berada 439 meter di bawah permukaan laut (per tahun 2025). Pada tahun 1930, luas permukaannya mencapai 1.050 km². Namun, kini luasnya menyusut drastis menjadi sekitar 605 km² (data 2016). Kedalaman rata-ratanya sekitar 188 meter, dengan kedalaman maksimum mencapai 304 meter.

Laut Mati memiliki salinitas (kadar garam) ekstrem, berkisar antara 34-35%, hampir 9-10 kali lebih asin dibandingkan lautan biasa. Sementara itu, massa jenis airnya sekitar 1,24 kg/L, yang membuat tubuh manusia sangat mudah mengapung. Saat musim hujan, kondisi airnya masih mendukung ekosistem mikroba dan ganggang Dunaliella, sehingga terkadang airnya dapat berubah warna menjadi sedikit kemerahan.

Satu-satunya sumber air Laut Mati adalah Sungai Yordan. Namun, sejak tahun 1960, alirannya menurun drastis akibat pembangunan bendungan dan pengalihan air. Kondisi ini menyebabkan permukaan air Laut Mati turun sekitar 1 meter per tahun. Pembatalan Proyek Red Sea-Dead Sea Water Conveyance pada tahun 2021 semakin menambah keprihatinan terhadap nasib Laut Mati.

Signifikansi Budaya & Sejarah

Laut Mati disebutkan dalam Alkitab sebagai “Laut Garam” atau “Laut Asin,” terkait erat dengan kisah Sodom dan Gomora. Selain itu, Laut Mati juga merupakan lokasi penemuan Gulungan Laut Mati di gua Qumran (abad ke-III SM – I M), yang sangat penting bagi studi agama dan sejarah.

Dalam Alkitab, Laut Mati memang tidak disebut secara langsung, namun dikenal dengan sebutan “Laut Garam” (Salt Sea), misalnya dalam Kejadian 14:3: “…mereka semuanya bergabung di lembah Sidim, yaitu Laut Asin.” Ulangan 3:17 dan Yosua 3:16 juga merujuk tempat ini sebagai “Laut Asin.” Secara geografis, wilayah ini berada di Yudea dan Edom, di bagian paling rendah dari Cekungan Yordan. Di sinilah dikaitkan lokasi dua kota terkenal dalam narasi Alkitab: Sodom dan Gomora, yang disebutkan dalam Kejadian 19. Kisah tersebut menceritakan kehancuran kota-kota ini oleh Tuhan karena dosa dan kejahatan penduduknya. Alkitab menyebutkan: “Lalu Tuhan menurunkan hujan belerang dan api ke atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan, dari langit.” (Kejadian 19:24). Tradisi Yahudi dan Kristen percaya bahwa kota-kota itu terletak di sekitar, atau bahkan tenggelam di bawah wilayah Laut Mati sekarang, memperkuat simbolisme “kematian” dan kutukan ilahi atas wilayah tersebut, sesuai dengan nama modernnya.

Pada tahun 1947, seorang penggembala Badui secara tidak sengaja menemukan gulungan kuno, yang dikenal sebagai Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls), di gua dekat wilayah Qumran, di tepi barat Laut Mati. Gulungan-gulungan ini berasal dari sekitar abad ke-3 SM hingga abad ke-1 M, dan merupakan salah satu temuan arkeologis terpenting di abad ke-20. Isinya mencakup salinan kitab-kitab Perjanjian Lama (Tanakh) dalam bahasa Ibrani dan Aram, termasuk kitab Yesaya, Mazmur, dan lainnya. Terdapat pula teks non-kanonik yang mencerminkan kehidupan dan kepercayaan komunitas Qumran (yang diduga merupakan kaum Essenes), serta naskah-naskah mengenai hukum, liturgi, dan eskatologi (akhir zaman).

Gulungan Laut Mati ini merupakan penemuan yang sangat signifikan karena mendekatkan para sarjana pada naskah asli Alkitab yang sebelumnya hanya tersedia dalam salinan abad pertengahan. Mereka memberikan gambaran kehidupan religius dan politik masyarakat Yahudi pada zaman Kedatangan Yesus (zaman Second Temple), serta meningkatkan pemahaman terhadap latar belakang Yahudi awal dan kemunculan agama Kristen dan Yudaisme Rabinik.

Dalam Al-Qur’an, kisah Sodom dan Gomora terkait erat dengan kaum Nabi Luth as. Meskipun tidak disebutkan secara geografis dengan nama “Dead Sea,” wilayah tersebut diyakini oleh para mufasir klasik maupun arkeolog modern berada di sekitar Laut Mati, sebagaimana dalam Alkitab. Ayat-ayat Al-Qur’an terkait dengan kisah ini adalah QS. 11: Surat Hud: 82–83, “Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth (Sodom), dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang zalim.” Juga QS. 15: Al-Hijr: 76–77, “Dan Sungguh (negeri) benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” Serta QS. 26: Asy-Syu’ara: 160–174 dan QS. 27: An-Naml: 54–58 yang juga mengisahkan Nabi Luth dan kaumnya yang melakukan praktik sodomi dengan nada peringatan keras.

Laut Mati disebut sebagai “Tanda” (Ayat) Kehancuran Masa Lalu. Walaupun Al-Qur’an tidak menyebutkan “Dead Sea” secara langsung, lokasi kehancuran kaum Luth disebut dalam QS. 37: Ash-Shaffat: 133–138, “…Dan sesungguhnya kamu (penduduk Makkah) benar-benar melalui (bekas-bekas) mereka pada waktu pagi dan malam. Maka apakah kamu tidak mengerti?” Maknanya, lokasi kehancuran itu masih bisa dilihat; dan umat zaman Nabi maupun sekarang, yang melalui atau mengunjunginya, termasuk wilayah sekitar Laut Mati. Ini menguatkan bahwa tempat itu menjadi “living monument” atau peringatan nyata. Banyak ulama dan ahli sejarah Islam menyatakan bahwa wilayah kaum Luth berada di sekitar Bahrul Mayyit (Laut Mati). Bahkan dalam tafsir-tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir atau Al-Baghawi, disebut bahwa “bekas-bekas azab” itu masih terlihat hingga sekarang.

Dalam konteks Agama Islam, Gulungan Laut Mati memiliki Dimensi Epistemik. Walaupun Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) adalah teks Yahudi pra-Islami, penemuannya pada abad ke-20 memberi landasan historis penting untuk memahami kontinuitas pesan ilahi dari zaman para nabi Bani Israil. Penemuan ini merupakan bukti bahwa ajaran Tauhid (monoteisme) telah berkembang sejak lama, dan juga konfirmasi implisit bahwa wahyu Allah memang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad, sesuai ayat: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (terdapat) petunjuk dan cahaya….” (QS. 5: Al-Ma’idah: 44). Dalam konteks ini, Al-Qur’an memosisikan dirinya sebagai mushaddiqan (pembenar) dan muhaiminan (penjaga/meluruskan) kitab-kitab sebelumnya—dan penemuan Qumran bisa dianggap sebagai validasi sejarah dan tekstual dari narasi para nabi sebelum Islam.

Dengan demikian, Laut Mati bukan hanya situs geologis yang unik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan historis yang kuat. Ia menjadi simbol kehancuran moral (kisah Sodom-Gomora), tempat penyebutan dalam teks suci Yahudi dan Kristen, dan pusat penemuan naskah keagamaan kuno yang membuka jendela penting dalam studi Alkitab, sejarah agama, dan arkeologi Timur Tengah. Laut Mati bukan hanya cekungan garam dan gejala geologi. Dalam perspektif wahyu, ia adalah simbol kehancuran akibat kesombongan moral dan sosial. Ia menyimpan kisah kaum Luth yang ditelan bumi, dan di balik lengang airnya yang asin, tersimpan gulungan teks kuno yang berbicara tentang iman, hukum, dan pengharapan. Bagi umat Islam, wilayah ini menjadi pelajaran dan peringatan nyata; bahwa sejarah bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk direnungkan. Bahwa wahyu-wahwu Allah adalah satu mata rantai, dan setiap kota yang tenggelam membawa pesan: “Jangan ulangi kesalahan yang sama.”

Di Dead Sea: Jangan Berenang, Tapi Berendam

Di danau Laut Mati, Anda sangat tidak disarankan untuk berenang. Berenang akan membuat mata terterpa air danau yang sangat asin, yang dapat menyebabkan sensasi perih luar biasa hingga sulit membuka mata. Oleh karena itu, membawa air mineral dalam botol sangat membantu untuk menetralisir keperihan mata dengan mengguyurkan air secara perlahan untuk mengurangi pengaruh air garam yang masuk ke dalam mata.

Berendam adalah cara yang paling tepat dan aman. Dengan berendam, seseorang dapat mengambang dengan mudah di Laut Mati, sehingga mata terlindungi. Kemampuan mengambang yang mudah ini disebabkan oleh prinsip fisika sederhana yang disebut Hukum Archimedes, yang berkaitan dengan gaya apung (buoyant force). Yang membuatnya istimewa adalah tingkat kerapatan (densitas) air Laut Mati yang sangat tinggi akibat salinitas ekstremnya. Hukum Archimedes menyatakan: “Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan mengalami gaya ke atas (gaya apung) yang besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut.” Dengan kata lain, semakin berat fluida yang “terdorong” oleh tubuh kita, semakin besar gaya angkat ke atas yang kita alami.

Tubuh mengapung secara alami di Laut Mati juga dapat dipahami dengan membandingkan salinitas (kadar garam) dan kerapatan air. Salinitas Laut Mati mencapai ~34-35%, jauh lebih tinggi dari salinitas laut biasa yang hanya ~3,5%. Kerapatan air laut biasa sekitar ~1,03 kg/L, sementara kerapatan air Laut Mati mencapai ~1,24 kg/L. Akibatnya, air Laut Mati jauh lebih “berat” daripada tubuh manusia. Tubuh manusia rata-rata memiliki densitas sekitar 0,98-1,06 kg/L, tergantung komposisi lemak dan massa otot. Karena densitas tubuh lebih kecil dari air Laut Mati, tubuh mengapung secara alami. Jika kita berenang di laut biasa, tubuh hanya sebagian kecil yang mengapung, dan kita perlu menggerakkan tubuh agar tetap di permukaan. Namun, di Laut Mati, kita langsung terdorong ke atas dan bahkan bisa tiduran sambil membaca buku tanpa khawatir tenggelam. Rasanya seperti duduk di kasur air.

Tips Cara Efektif Berendam di Dead Sea

Bila Anda berkesempatan berkunjung ke Laut Mati, beberapa tips berikut dapat menjadi rujukan untuk memanfaatkan semua khasiatnya. Waktu paling tepat dan aman untuk berendam di Laut Mati adalah sekitar 10 hingga 20 menit saja per sesi. Meskipun mengapung terasa menyenangkan, durasi ini dianggap ideal dan cukup untuk mendapatkan manfaat tanpa menimbulkan risiko bagi kulit atau kesehatan.

Jangan berendam terlalu lama karena Laut Mati memiliki kandungan garam dan mineral yang sangat tinggi (salinitas 34-35%), yang bisa menyebabkan iritasi kulit atau sensasi terbakar, terutama jika ada luka kecil. Durasi yang terlalu lama juga dapat mengeringkan kulit secara berlebihan. Dengan salinitas tinggi, airnya menjadi sangat “keras” dan tidak disarankan untuk berenang aktif karena bisa melukai mata atau saluran pernapasan.

Jika mata Anda terkena air Laut Mati, efeknya akan sangat perih. Kemungkinan besar Anda tidak akan mampu membuka mata dalam beberapa saat. Cara efektif mengatasinya adalah dengan mengalirkan air bersih atau air mineral dalam botol secara perlahan ke bagian mata yang terkena. Sambil terus membuka dan menutup mata, hingga efek perih berkurang. Mata Anda mungkin akan sedikit merah setelahnya, namun akan kembali normal beberapa waktu kemudian. Untuk mempercepat penyembuhan, Anda bisa meneteskan obat tetes mata untuk mengurangi iritasi yang ada.

Untuk Anda yang memiliki luka terbuka, kulit sensitif, atau penyakit kulit tertentu, waktu berendam bisa dikurangi menjadi 5-10 menit saja. Waktu terbaik berendam di Laut Mati adalah pagi hari (06.30-10.00) atau sore hari (16.00-18.00) saat suhu lebih sejuk dan matahari tidak terlalu terik. Hindari berendam antara pukul 11.00-15.00, karena suhu ekstrem dan paparan sinar UV bisa mempercepat dehidrasi dan iritasi kulit. Setelah berendam, segera bilas tubuh Anda dengan air bersih untuk menghilangkan residu garam. Gunakan pelembap kulit setelahnya untuk mengembalikan kelembaban kulit Anda.

Dead Sea dan Khasiat Perawatan Kulit

Selain keunikannya, banyak wisatawan datang ke Laut Mati hanya untuk mendapatkan manfaat bagi perawatan kulitnya. Inilah salah satu keistimewaan lumpur Laut Mati (Dead Sea mud) yang terkenal karena khasiat terapeutik dan kosmetiknya. Ini bukan mitos semata, tetapi telah dibuktikan oleh berbagai studi ilmiah dan praktik dermatologi.

Studi dari International Journal of Dermatology menyebutkan bahwa terapi dengan lumpur Laut Mati secara signifikan mengurangi gejala psoriasis dan meningkatkan kelembapan kulit. Dalam uji klinis, 95% pengguna masker lumpur Laut Mati mengalami peningkatan tekstur kulit dalam 2 minggu. Kandungan mineral Laut Mati yang tinggi dan unik membuat lumpurnya kaya akan mineral-mineral penting yang jarang ditemukan secara alami dalam kombinasi seimbang seperti ini. Beberapa di antaranya: Magnesium (Mg) yang berkhasiat melembabkan kulit, mengurangi peradangan, dan membantu regenerasi sel. Kadar Magnesiumnya bisa mencapai 15 kali lebih tinggi dari air laut biasa. Kalsium (Ca), berkhasiat menguatkan membran sel, mendorong produksi kolagen. Kalium (K) berkhasiat menjaga keseimbangan kelembaban kulit. Sodium (Na) berkhasiat membersihkan dan melembutkan kulit. Bromida (Br) berkhasiat menenangkan iritasi kulit, efek anti-inflamasi. Dan Zinc (Zn) yang berkhasiat mengontrol minyak, membantu penyembuhan luka dan jerawat.

Lumpur Laut Mati juga memberikan efek detoksifikasi dan pembersihan. Lumpur ini bersifat absorban, menyerap minyak berlebih, racun, dan kotoran dari pori-pori kulit. Ini membantu mencegah jerawat dan komedo, serta mengangkat sel kulit mati (efek exfoliating alami), sekaligus menjaga keseimbangan kelembaban kulit. Dead Sea mud juga sangat bagus efeknya untuk terapeutik dan anti-inflamasi, cocok untuk penderita psoriasis, eksim, dermatitis, dan rosacea. Mineral seperti magnesium dan bromida terbukti mengurangi kemerahan, gatal, dan pembengkakan. Banyak spa di dunia menggunakan lumpur ini dalam bentuk masker wajah dan tubuh. Selain itu, lumpur Laut Mati sangat efektif merangsang sirkulasi dan regenerasi kulit. Lumpur ini memperlancar peredaran darah mikro di bawah permukaan kulit, membantu proses penyembuhan alami, serta memberikan efek kencang dan cerah alami setelah pemakaian rutin. pH alami Dead Sea mud terbukti mendukung keseimbangan kulit. Lumpur Laut Mati memiliki pH seimbang yang tidak mengganggu pelindung alami kulit (skin barrier), menjadikannya cocok untuk hampir semua jenis kulit, termasuk sensitif.

Eksistensi Geologis yang Menyatu di Dalamnya

Secara geologi, Laut Mati merupakan danau endorheic (danau tanpa aliran keluar) dalam struktur Dead Sea Graben yang dikenal sebagai Rift Jordan. Ini adalah bagian dari sistem retakan geologi besar, Great Rift Valley, yang dibentuk oleh pergerakan lempeng Arab-Afrika. Patahan ini terbentuk oleh pergerakan lempeng Arab yang bergerak ke arah utara terhadap lempeng Afrika. Proses ini disebut sebagai transform fault—dua lempeng saling bergeser horizontal. Gerakan ini menghasilkan subsiden (penurunan kerak bumi) yang menciptakan lembah graben.

Aktivitas pembentukan graben dimulai sejak kira-kira 3 juta tahun yang lalu. Graben ini terus mengalami pergerakan dan penurunan, membuat dasar Laut Mati menjadi titik terendah di permukaan bumi (sekitar 430 meter di bawah permukaan laut dan terus menurun). Sebagai danau endorheik, Laut Mati hanya memiliki sumber air masuk dari sungai (terutama Sungai Yordan) dan tidak memiliki aliran keluar. Evaporasi (proses penguapan alami) menjadi satu-satunya jalan keluar air, menyebabkan kadar garam yang sangat tinggi. Laut Mati secara geologis adalah salah satu titik terendah dan terunik di dunia. Mencerminkan pertemuan proses tektonik aktif, evaporasi ekstrem, dan kondisi iklim gurun. Formasi geologi di sekitar Laut Mati (termasuk formasi garam dan gipsum) menjadi arsip alam yang penting untuk studi perubahan iklim dan aktivitas seismik. Lapisan garam dan mineral di dasar danau terus bertambah karena tidak adanya aliran keluar. Aktivitas tektonik di kawasan ini juga memicu gempa bumi, menjadikan kawasan ini aktif secara seismik. Lembah ini masih aktif menurun (subsidence), dan membentuk struktur geologi seperti “white smokers” (erupsi air asin bawah laut) yang mengindikasikan potensi munculnya sinkhole.

Sinkhole, Keprihatinan Utama di Sekitar Dead Sea

Keprihatinan dunia terhadap Laut Mati adalah kemunculan lubang besar yang tiba-tiba terbentuk di permukaan tanah di sekitarnya, yang disebut Sinkhole. Fenomena ini semakin sering terjadi dan membahayakan kawasan di sekitar Laut Mati dalam beberapa dekade terakhir, biasanya terjadi akibat runtuhnya tanah di atas rongga bawah tanah yang kosong.

Sinkhole (lubang runtuhan) terjadi ketika lapisan atas tanah kehilangan penopangnya, biasanya karena larutnya material di bawah permukaan. Di Laut Mati, penyebab utamanya adalah larutnya garam di bawah tanah oleh air tawar yang meresap. Ditengarai fenomena sinkhole di sekitar Laut Mati disebabkan oleh perubahan ekstrem dalam keseimbangan air garam dan air tawar, terutama akibat penyusutan Laut Mati secara drastis. Permukaan air Laut Mati turun lebih dari 1 meter per tahun karena berkurangnya aliran Sungai Yordan dan pengambilan air untuk irigasi dan industri oleh Israel, Palestina, dan Yordania. Selain itu, terbukanya lapisan garam bawah tanah ketika permukaan air turun, menyebabkan lapisan garam padat yang tadinya terendam mulai terpapar. Masuknya air tawar ke tanah (air hujan atau air irigasi) meresap dan melarutkan lapisan garam, membentuk rongga bawah tanah. Ketika rongga sudah terlalu besar dan tidak mampu menopang permukaan di atasnya, tanah runtuh dan terbentuklah sinkhole.

Keberadaan sinkhole berdampak serius bagi industri pariwisata. Kawasan Ein Gedi, yang dulunya populer untuk turis, kini sebagian ditutup karena bahaya sinkhole. Beberapa daerah wisata, lahan pertanian, dan jalan raya juga ditutup atau rusak parah. Lebih dari 6.000 sinkhole telah teridentifikasi di sepanjang pesisir Laut Mati, khususnya di wilayah Israel dan Yordania. Sinkhole di sekitar Laut Mati bukan hanya fenomena alam biasa, tetapi juga simbol krisis ekologis akibat eksploitasi air secara berlebihan dan dampak perubahan iklim.

Sebuah Pernyataan Keprihatinan

Laut ini dulu suci. Bukan hanya karena ayat-ayat mengalir dari seberangnya, tetapi karena keajaiban yang ia simpan dalam diam: air asin yang tak menenggelamkan, lumpur hitam yang menyembuhkan, dan langit yang memantulkan bayangan purba kota-kota yang tenggelam dalam sejarah.

Namun hari ini, Laut Mati tak lagi utuh. Ia menyusut lebih dari satu meter setiap tahun. Garis pantainya mundur seperti ingatan yang memudar, menyisakan lubang-lubang menganga di tanah, sinkhole namanya. Ada ribuan, dan jumlahnya terus bertambah, tak jauh dari resor-resor yang kini sepi dan jalan raya yang runtuh tanpa peringatan.

Di balik angka dan geologi, ada tangan manusia. Sungai Yordan yang dulu memberi hidup, kini diperas habis-habisan. Airnya dialirkan ke ladang-ladang jeruk dan pabrik desalinasi. Di sisi selatan, industri garam raksasa milik Israel dan Yordania menguapkan air dalam kolam pengering, meninggalkan kristal dan keuntungan, namun tak menyisakan kehidupan bagi laut itu sendiri.

Ini bukan hanya krisis air. Ini adalah cerita tentang ketamakan yang dikemas sebagai pembangunan, tentang alam yang dipanen seperti ladang sawah, dan tentang laut yang sekarat tanpa suara.

Solusi pernah diajukan: proyek Laut Merah–Laut Mati, saluran buatan raksasa yang menjanjikan pasokan air dan energi. Namun, proyek itu lebih banyak mengundang kekhawatiran dari para ekolog, yang takut Laut Mati justru kehilangan identitas kimianya, menjadi laut baru yang tak lagi kudus.

Dan di tengah semua itu, Palestina hanya bisa menonton dari kejauhan, terjepit oleh geopolitik dan izin akses yang tak kunjung datang.

Maka, Laut Mati tetap tergeletak. Mengambang antara legenda dan bencana. Menjadi simbol sempurna dunia yang lupa caranya mendengar bisikan bumi.

Suatu saat nanti, mungkin orang akan datang dan bertanya: “Kenapa dinamai Laut Mati?”

Dan seorang anak mungkin akan menjawab, “Karena kita sendiri yang membunuhnya.”

Jkt/15062025/Ksw132

Ringkasan

Laut Mati (Dead Sea) adalah titik terendah di bumi, berada 439 meter di bawah permukaan laut, yang terletak di lembah jurang Yordania. Dikenal dengan salinitas ekstrem sekitar 34-35%, airnya sangat padat sehingga memungkinkan tubuh manusia mengapung dengan mudah. Namun, laut ini menyusut drastis, dengan permukaan airnya turun sekitar 1 meter per tahun akibat berkurangnya aliran Sungai Yordan dan pengalihan air. Penyusutan ini memicu kemunculan ribuan *sinkhole* di sekitarnya, menjadi keprihatinan ekologis yang serius.

Secara budaya dan sejarah, Laut Mati disebut sebagai “Laut Garam” dalam Alkitab dan dikaitkan dengan kisah Sodom dan Gomora. Wilayah ini juga merupakan lokasi penting penemuan Gulungan Laut Mati, naskah kuno yang berharga bagi studi agama. Lumpur Laut Mati terkenal akan khasiat terapeutiknya untuk kulit berkat kandungan mineralnya yang tinggi, seperti magnesium dan kalsium. Pengunjung disarankan berendam, bukan berenang, dan dalam durasi singkat untuk mendapatkan manfaat tanpa iritasi.

Advertisements