GGRM Anjlok 89%: Peluang Buy Low atau Sinyal Bahaya?

JAKARTA, KOMPAS.comSaham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sedang menghadapi periode paling menantang dalam sejarahnya. Dari puncaknya yang pernah menyentuh hampir Rp 90.000 per lembar di tahun 2019, kini nilai saham Gudang Garam telah terperosok drastis, mencapai level Rp 9.100 pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Juni 2025. Penurunan signifikan ini menandai pelemahan lebih dari 89 persen dari harga tertingginya, sekaligus menjadi sinyal peringatan bagi para investor akan adanya perubahan struktural mendalam di industri rokok nasional.

Advertisements

Keterpurukan harga saham GGRM ini bukan tanpa alasan; performa fundamental perusahaan memang menunjukkan pelemahan signifikan yang sejalan dengan pergerakan harga. Mengutip laporan Kontan, laba bersih Gudang Garam pada tahun 2024 tercatat sebesar Rp 980,8 miliar, anjlok drastis 81,57 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mampu mencapai Rp 5,32 triliun. Tak hanya laba, pendapatan perusahaan juga mengalami kontraksi dari Rp 118,95 triliun menjadi Rp 98,65 triliun, atau melemah 17,06 persen. Meskipun segmen utama penopang pendapatan seperti sigaret kretek mesin (SKM) masih menyumbang Rp 86,62 triliun dan sigaret kretek tangan (SKT) sebesar Rp 9,36 triliun, serta didukung dari pendapatan rokok klobot, konstruksi, kertas karton, dan bisnis pendukung lainnya, biaya pokok penjualan sebesar Rp 89,27 triliun tetap menekan margin keuntungan.

Namun, tekanan terhadap GGRM tidak hanya terasa pada lini pendapatan dan laba. Perusahaan juga menghadapi tantangan serius dalam manajemen pasokan bahan baku. Salah satu dampaknya adalah keputusan Gudang Garam untuk menghentikan pembelian tembakau dari wilayah Kabupaten Temanggung, sebuah langkah yang dikonfirmasi langsung oleh Bupati Temanggung, Agus Setyawan, setelah pertemuan dengan manajemen perusahaan di Kediri. “Jadi memang tidak lagi kondusif untuk membeli bahan baku, khususnya dari Temanggung,” ujar Agus, dikutip dari Antara, Senin (16/6/2025). Beliau menambahkan bahwa stok tembakau di gudang Gudang Garam sudah sangat melimpah, bahkan cukup untuk kebutuhan produksi hingga empat tahun ke depan.

Kondisi kelebihan stok ini secara jelas merefleksikan penurunan permintaan rokok secara nasional. Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor kunci, termasuk tren hidup sehat yang kian masif di masyarakat, kenaikan tarif cukai rokok yang berkelanjutan, serta persaingan ketat dari produk rokok murah yang membanjiri pasar. Situasi tersebut mendorong GGRM untuk melakukan langkah efisiensi yang ketat, meskipun harus berdampak pada rantai pasok dan mitra usaha di hulu, seperti petani tembakau.

Advertisements

Seiring dengan kondisi fundamental yang menantang dan dinamika industri rokok, pelemahan harga saham GGRM memang telah berlangsung secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Di penghujung tahun 2024, saham ini masih berada di angka Rp 13.275. Namun, pada 8 April 2025, sempat menyentuh titik terendah tahun ini di Rp 8.675, menegaskan tren penurunan yang persisten.

Dengan laporan keuangan yang terus tertekan, ditambah perubahan pola konsumsi dan regulasi yang semakin menantang, saham GGRM kini menjadi indikator risiko nyata di sektor barang konsumsi yang dulunya dianggap tangguh dan defensif. Bagi para investor saham, pertanyaan krusial saat ini bukan lagi sekadar kapan harga saham GGRM bisa bangkit, tetapi juga apakah prospek jangka panjang industri rokok di Indonesia masih cukup menjanjikan untuk menjadi bagian dari portofolio investasi mereka.

Baca juga: 5 Saham Paling Cuan: GGRM hingga PGAS

Baca juga: Kinerja Emiten GGRM dan HMSP Merosot Konsultan Khawatir Rokok Murah Bakal Merajalela

(Penulis: Rashif Usman | Editor: Dikky Setiawan)

Artikel ini bersumber dari pemberitaan di KONTAN berjudul “Tahun 2024, Laba Gudang Garam (GGRM) Anjlok 81,58 Persen”

Ringkasan

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) telah anjlok lebih dari 89% dari puncaknya di tahun 2019, mencapai Rp 9.100 pada Juni 2025. Penurunan drastis ini didorong oleh pelemahan fundamental perusahaan yang signifikan. Pada tahun 2024, laba bersih GGRM anjlok 81,57% menjadi Rp 980,8 miliar, sementara pendapatan berkontraksi 17,06% menjadi Rp 98,65 triliun.

Tekanan terhadap GGRM juga berasal dari kelebihan stok bahan baku tembakau, yang menyebabkan penghentian pembelian dari wilayah seperti Temanggung karena stok melimpah untuk empat tahun ke depan. Kondisi ini mencerminkan penurunan permintaan rokok nasional akibat tren hidup sehat, kenaikan cukai, dan persaingan ketat. Dengan tantangan fundamental dan perubahan regulasi, GGRM kini menjadi indikator risiko nyata di sektor barang konsumsi.

Advertisements