Pernyataan Kepala CIA John Ratcliffe mengenai serangan terhadap fasilitas nuklir Iran telah memicu kontroversi. Ratcliffe menyebut serangan tersebut “sangat merusak” dan membuat pengembangan nuklir Iran mundur beberapa tahun. Pernyataan ini berbeda drastis dengan laporan intelijen Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang bocor, sehingga membuat Presiden Donald Trump geram.
Laporan DIA menyebutkan serangan tersebut tidak sepenuhnya melumpuhkan program nuklir Iran. Serangan, menurut DIA, hanya menutup pintu masuk beberapa fasilitas tanpa menghancurkan bangunan bawah tanahnya, dan tidak menghilangkan seluruh sentrifus atau persediaan uranium yang diperkaya. Hal ini bertolak belakang dengan pernyataan Trump yang menyebut serangan itu “terarah dan tepat”.
Ratcliffe membela penilaiannya dengan menyatakan CIA menggunakan intelijen baru dari sumber dan metode yang terpercaya dan akurat. Ia menegaskan bahwa beberapa fasilitas nuklir utama Iran telah dihancurkan dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali. Meskipun demikian, Ratcliffe tidak mengklaim program nuklir Iran telah dihentikan sepenuhnya.
Pendapat Ratcliffe didukung oleh Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, yang juga menyetujui penilaian Trump mengenai kerusakan fasilitas nuklir. Gabbard menekankan bahwa jika Iran membangun kembali, mereka harus membangun ulang ketiga fasilitas utama (Natanz, Fordow, dan Esfahan) secara keseluruhan, sebuah proses yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Meskipun demikian, pejabat yang mengetahui laporan tersebut mengakui bahwa penilaian awal bisa berubah seiring dengan munculnya informasi lebih lanjut. Sebelumnya, Trump menyebut serangan (yang diduga dilakukan Israel) sebagai keberhasilan spektakuler, sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menyatakan AS telah menghancurkan program nuklir Iran.
Di sisi lain, pemerintah Iran membantah klaim tersebut. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa Iran telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan kelanjutan program nuklirnya dan rencana untuk memulai kembali pengembangan nuklir telah disiapkan. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh penasihat Ayatollah Ali Khamenei yang menegaskan Iran masih memiliki pasokan uranium yang diperkaya, menyatakan, “Permainan belum berakhir.”
Ringkasan
Kepala CIA, John Ratcliffe, menyatakan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran sangat merusak dan menghambat pengembangan nuklir Iran selama beberapa tahun. Pernyataan ini berbeda dengan laporan Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang menyebut serangan tersebut hanya menutup beberapa pintu masuk fasilitas tanpa menghancurkan seluruh infrastruktur dan persediaan uranium. Ratcliffe membela penilaiannya dengan mengklaim CIA menggunakan intelijen baru dari sumber terpercaya.
Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, mendukung penilaian Ratcliffe dan Trump. Meskipun penilaian awal dapat berubah, Iran sendiri membantah klaim kerusakan besar, menegaskan program nuklir mereka akan berlanjut. Mohammad Eslami, kepala Organisasi Energi Atom Iran, menyatakan rencana untuk memulai kembali pengembangan nuklir telah disiapkan dan pasokan uranium masih tersedia.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia