Miris! Siswa MI Lebak Belajar di Gubuk Reyot: Butuh Perhatian!

Pemandangan miris mewarnai kegiatan belajar mengajar (KBM) di pelosok Kabupaten Lebak, Banten. Ratusan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah di Kecamatan Cileles terpaksa menimba ilmu di sebuah gubuk darurat. “Kami siswa di sini melaksanakan KBM di gubuk itu,” ungkap Kepala MI Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah, Otong Safei, di Lebak pada Sabtu (27/7/2025), menggarisbawahi kondisi bangunan sekolah yang rusak berat.

Advertisements

Keterbatasan fasilitas di MI Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah Lebak memang sangat memprihatinkan. Dengan enam kelompok belajar (rombel), sekolah ini hanya memiliki lima ruang kelas yang layak. Akibatnya, Otong dan pihak sekolah berinisiatif mendirikan gubuk seadanya, khusus untuk siswa kelas 6, demi memastikan semua murid tetap dapat mengikuti pembelajaran. Namun, gubuk sederhana ini jauh dari kata layak; “Risikonya kalau musim hujan, anak-anak kecipratan air. Kalau musim panas, mereka kepanasan,” keluh Otong, menggambarkan tantangan cuaca ekstrem yang harus dihadapi para siswanya setiap hari.

Kondisi bangunan utama tak kalah mengkhawatirkan. Atap yang bocor parah dan dinding yang lapuk membuat gedung tersebut rawan roboh, memicu kekhawatiran besar akan keselamatan siswa dan guru. Otong mengaku terpaksa melanjutkan KBM di tengah ancaman bahaya ini, demi keberlangsungan pendidikan anak-anak. “Kami selalu cemas akan keselamatan murid-murid, terutama saat cuaca buruk, seperti hujan lebat disertai angin kencang,” ujarnya, menyuarakan keresahan yang mendalam akan nasib anak didiknya.

Berulang kali, Otong telah menyuarakan permohonan bantuan kepada pemerintah setempat. Setiap tahun, proposal perbaikan dan pembangunan kembali diajukan dengan harapan ada uluran tangan untuk pendidikan di pelosok Lebak ini. Namun, respons yang didapat selalu sama, mengecewakan. “Jawaban dari pemerintah selalu belum berhasil,” tutur Otong dengan nada pasrah, mengisyaratkan bahwa harapan perbaikan yang diidamkan tak kunjung tiba.

Advertisements

Di tengah carut-marut infrastruktur, MI Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah juga dihadapkan pada realitas ekonomi masyarakat. Otong menjelaskan, pungutan iuran dari orang tua murid tidak mungkin dilakukan. Mayoritas warga di kampung sekitar bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak menentu, menempatkan mereka dalam kategori ekonomi menengah ke bawah. “Saya tidak tega meminta iuran bangunan, karena kondisi ekonomi masyarakat di sini menengah ke bawah,” tegasnya, menunjukkan empati terhadap kondisi warganya.

Meskipun demikian, MI Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah tetap menjadi satu-satunya tumpuan harapan pendidikan bagi 149 anak dari beberapa kampung di sekitarnya. Bagi mereka, sekolah ini adalah gerbang ilmu terdekat dan satu-satunya pilihan realistis. Untuk mencapai sekolah negeri setingkat SD, anak-anak harus menempuh perjalanan kaki lebih dari tiga kilometer, melintasi jalanan kampung yang rusak dan penuh tantangan. Kondisi ini semakin menegaskan betapa krusialnya keberadaan dan perbaikan fasilitas sekolah di pelosok Lebak ini agar masa depan pendidikan anak-anak tidak terenggut.

Ringkasan

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathla’ul Anwar Hayatul Jadidah di pelosok Kabupaten Lebak, Banten, menghadapi kondisi belajar mengajar yang memprihatinkan. Ratusan siswanya terpaksa menimba ilmu di gubuk darurat karena hanya lima dari enam ruang kelas yang layak pakai. Bangunan utama sekolah rusak parah dengan atap bocor dan dinding lapuk, menimbulkan kekhawatiran besar akan keselamatan siswa. Akibatnya, para siswa harus menghadapi tantangan cuaca ekstrem saat belajar di gubuk.

Kepala sekolah, Otong Safei, telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan perbaikan kepada pemerintah setempat namun selalu mendapat penolakan. Pungutan iuran dari orang tua murid tidak dapat dilakukan karena mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Meskipun demikian, MI ini menjadi satu-satunya tumpuan harapan pendidikan bagi 149 anak di beberapa kampung sekitar. Perbaikan fasilitas sangat krusial agar masa depan pendidikan anak-anak tidak terenggut.

Advertisements