
JogloNesia – , Jakarta – Tonggak baru industri otomotif nasional kembali mencuat dengan kehadiran Concept Car i2C, sebuah mobil listrik nasional yang digagas dan dipelopori oleh talenta-talenta terbaik Indonesia. Karya inovatif dari PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) ini mencuri perhatian saat tampil perdana di ajang bergengsi Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025.
Melansir Antara, keunggulan i2C tidak hanya terletak pada desainnya, tetapi juga pada aspek keterjangkauan harga. Muliandy Nasution, pakar rekonstruksi keuangan yang turut terlibat dalam tim pengembangan Mobnas i2C, mengungkapkan bahwa seluruh proses desain telah mengaplikasikan pendekatan financial engineering. Strategi ini diklaim mampu menjaga harga on the road (OTR) i2C tetap kompetitif dan terjangkau, di tengah derasnya gempuran produk otomotif asing.
Perkenalan i2C ini kembali membangkitkan pertanyaan klasik: apa saja mobil nasional yang pernah ada di Indonesia? Mari kita telusuri jejak panjang ambisi bangsa ini dalam menciptakan kendaraan mandiri.
Daftar Mobil Nasional Indonesia
Istilah “mobil nasional” atau mobnas mulai populer pada era 1990-an. Namun, cita-cita luhur untuk memiliki industri mobil sendiri telah bersemi jauh sebelumnya, sejak masa pemerintahan Presiden pertama RI, Sukarno. Mimpi ini mulai dirintis dengan pendirian PT Industri Mobil Indonesia (Imindo) pada tahun 1961.
Puncak komitmen pemerintah untuk mewujudkan industri mobnas tercapai pada tahun 1996, melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 1996 tentang Pembangunan Industri Mobil Nasional yang dikeluarkan oleh Presiden kedua RI, Soeharto. Bersamaan dengan inpres ini, PT Timor Putra Nasional (TPN) ditunjuk sebagai entitas pionir proyek tersebut.
Dalam Inpres Nomor 2 Tahun 1996, setidaknya ada tiga kriteria yang harus dipenuhi agar sebuah produk otomotif dapat disebut sebagai mobnas: menggunakan merek sendiri, diproduksi di dalam negeri, dan memanfaatkan komponen buatan dalam negeri. Namun, seiring waktu, definisi mobnas ini mulai menimbulkan ambiguitas.
Bahkan pada tahun 2018, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui bahwa belum ada kesepakatan final mengenai definisi mobnas. Harjanto, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Dirjen ILMATE) Kemenperin kala itu, menyoroti fakta bahwa banyak mobil yang memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 80 persen, namun tidak diklasifikasikan sebagai mobnas. Sebagai contoh, ia menyebutkan mobil-mobil kelompok low cost green car (LCGC) yang rata-rata memiliki konten lokal di atas 80 persen, diproduksi massal, bahkan untuk ekspor. Ini menunjukkan bahwa kriteria mobnas masih menjadi topik yang kompleks dan dinamis.
Dengan demikian, meskipun definisinya masih menjadi perdebatan, sejumlah produk otomotif telah digadang-gadang sebagai mobil nasional, baik dalam wujud prototipe maupun yang sudah memasuki fase produksi. Berikut adalah daftarnya:
1. Maleo
Proyek Mobil Masyarakat Murah “Maleo” mulai mencuat ke permukaan pada tahun 1994, atas usulan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) kala itu, Bacharuddin Jusuf Habibie. Usulan ini kemudian diteruskan kepada Presiden Soeharto.
Maleo dirancang oleh tim ahli yang terdiri dari 83 insinyur dan pakar teknik dari Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS), termasuk Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), Pindad, Lembaga Elektronika Nasional (LEN), INTI, BARATA, dan Krakatau Steel. Habibie berambisi agar Maleo dapat mengaspal pada tahun 1998. Untuk memperkuat industri otomotif dalam negeri, Maleo ditargetkan menggunakan 60 persen komponen lokal, sisanya mengandalkan teknologi dari Australia dan Inggris. Namun, mimpi Habibie untuk memproduksi mobnas ini tidak terwujud, terutama setelah kemunculan Timor dan lengsernya Soeharto, meskipun Habibie sempat menjabat sebagai Presiden ke-3 RI sejak 21 Mei 1998.
2. Timor
Sejalan dengan terbitnya Inpres Nomor 2 Tahun 1996, PT Timor Putra Nasional meluncurkan mobil nasional yang diberi nama Timor. Namun, Timor S515, yang diperkenalkan pada 8 Juli 1996 di Jakarta, segera memicu polemik. Pasalnya, mobil ini merupakan versi rebadge dari Kia Sephia, produksi pabrikan Kia Motors di Korea Selatan.
Kehadiran Timor, yang merupakan perusahaan milik Tommy Soeharto, menimbulkan gelombang protes dari kalangan industriawan Jepang. Pemerintah Indonesia dinilai tidak adil karena memberikan keistimewaan kepada Timor dengan membebaskan pajak impor atas mobil utuh dari Korea Selatan, sementara produsen mobil asing dituntut menggunakan 60 persen komponen lokal untuk mendapatkan insentif serupa.
3. Bimantara
Setelah Soeharto memberikan “fasilitas istimewa” kepada TPN, para produsen mobil Jepang ramai-ramai mengajukan rencana untuk menciptakan mobnas Indonesia. Bahkan perusahaan milik Bambang Triatmodjo, PT Bimantara Citra, juga turut mengajukan permintaan fasilitas serupa kepada ayahnya, Soeharto.
PT Bimantara Citra kala itu menjalin kerja sama dengan Hyundai Motors Company. Jika Timor merupakan hasil rebadge Kia Sephia, maka Bimantara Cakra adalah versi rebadge dari Hyundai Accent, dan Bimantara Nenggala merupakan rebadge dari Hyundai Elantra. Namun, proyek Bimantara pun tak berlanjut, menyusul lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan.
4. Macan
Rencananya, mobil minibus 1.800 cc bernama Macan akan diproduksi oleh PT Texmaco. Sayangnya, perusahaan ini mengalami kebangkrutan saat krisis ekonomi melanda Indonesia, mengubur mimpi produksi Macan.
5. Tucuxi
Merujuk dokumen berjudul Pengembangan Kendaraan Listrik Nasional Guna Mendukung Ekonomi Hijau (2024) yang diunduh dari laman Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), pada tahun 2010, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat itu, Dahlan Iskan, membentuk kelompok pemuda yang dikenal sebagai “Putera Petir”. Kelompok ini ditugaskan untuk mengembangkan mobil listrik nasional.
Putera Petir berhasil mengembangkan Tucuxi, sebuah sport car listrik dengan jarak tempuh 300 kilometer dalam kondisi baterai penuh yang dapat diisi dalam waktu 4 jam. Mobil ini dibanderol dengan harga mencapai Rp 1,5 miliar. Namun, dalam uji coba rute Solo-Surabaya pada 5 Januari 2013, Tucuxi mengalami kecelakaan di wilayah Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Kendati demikian, Putera Petir tidak menyerah dan kembali merilis dua mobil listrik lainnya, yaitu Selo dan Gendhis.
Tucuxi dan Selo sempat dipamerkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2013 di Bali, sedangkan Selo dan Gendhis diperkenalkan di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2014. Namun, nasib pengembangan mobil-mobil listrik ini menjadi tidak jelas setelah salah satu anggota Putera Petir memutuskan untuk melanjutkan kariernya di Jepang, menyisakan pertanyaan besar tentang kelanjutan proyek mobnas listrik ini.
6. Kancil
Kancil, akronim dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah, direncanakan akan diproduksi oleh PT Kancil (Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari). Namun, sayangnya, kendaraan ini pada akhirnya sama sekali belum terealisasi dalam bentuk produksi massal.
7. Esemka
Esemka merupakan produk mobnas hasil rakitan para siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Solo, Jawa Tengah, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh PT Solo Manufaktur Kreasi. Kendaraan ini sempat menjadi mobil dinas Wali Kota Solo dari tahun 2005 hingga 2012, Joko Widodo (Jokowi). Kandungan komponen lokal pada Esemka berkisar antara 50 hingga 90 persen, menunjukkan komitmen terhadap penggunaan produk dalam negeri.
8. i2C
Desain Concept Car i2C, yang diperkenalkan di era Presiden Prabowo Subianto, kaya akan elemen ikonik yang melambangkan identitas bangsa. Burung Garuda, sebagai simbol kekuatan, kebijaksanaan, dan kedaulatan, terintegrasi apik dalam desainnya. Selain itu, terdapat pula motif batik halus yang mewakili kekayaan identitas seni daerah.
Tampilan eksterior i2C menampilkan siluet terpahat yang modern dan ciri khas bulan Agustus, memberikan identitas visual siap berpetualang. Sementara itu, interior mobnas ini dirancang dengan garis-garis bersih dan esensial, menekankan fungsionalitas dan estetika minimalis. Kehadiran i2C sebagai mobil nasional menambah daftar panjang upaya Indonesia untuk berdaulat di sektor otomotif.
Hendrik Khoirul Muhid, Dicky Kurniawan, dan Grace Gandhi berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Siapa PT TMI yang Mengenalkan Mobil Listrik Nasional i2C
Ringkasan
Konsep mobil listrik nasional i2C dari PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) diperkenalkan di GIIAS 2025 dengan fokus pada keterjangkauan harga melalui rekayasa keuangan. Kehadiran i2C kembali mengangkat perdebatan tentang definisi “mobil nasional”, sebuah cita-cita yang telah ada sejak era Presiden Sukarno. Kriteria awal menurut Inpres Soeharto 1996 meliputi penggunaan merek sendiri, produksi, dan komponen dalam negeri, meskipun hingga 2018 Kemenperin mengakui definisi tersebut belum final.
Sepanjang sejarah, berbagai upaya mobil nasional telah dilakukan, seperti Maleo yang digagas B.J. Habibie, serta Timor dan Bimantara yang merupakan versi rebadge mobil Korea. Proyek lain termasuk Tucuxi sebagai sport car listrik dan Kancil yang belum terealisasi produksi massal. Esemka, hasil rakitan siswa SMK dengan kandungan lokal tinggi, sempat menjadi mobil dinas Wali Kota Solo, dan kini i2C hadir sebagai upaya terbaru Indonesia di sektor otomotif.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia