Pemerintah Indonesia mengumumkan kesiapan Pulau Galang di Provinsi Kepulauan Riau sebagai lokasi evakuasi sementara bagi sekitar 2.000 pengungsi dari Gaza, Palestina. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan inisiatif pemerintah untuk menyediakan bantuan pengobatan dan kemanusiaan bagi para korban konflik.
Dalam konferensi pers di kantornya di Jakarta Pusat pada Kamis, 7 Agustus 2025, Hasan Nasbi menerangkan alasan pemilihan Pulau Galang. Lokasi ini dianggap ideal karena terpisah dari permukiman warga dan memiliki rekam jejak sebagai pusat penampungan pengungsi serta fasilitas penanganan Covid-19. Menurut Hasan, kondisi tersebut menjadikan Pulau Galang sangat mudah dikelola dari segi keamanan dan kenyamanan warga.
Hasan juga secara tegas mengklarifikasi bahwa fungsi Pulau Galang bukanlah untuk relokasi permanen, melainkan sebagai pusat pengobatan sementara. Ia menegaskan bahwa para pengungsi Gaza akan dipulangkan ke Palestina setelah kondisi kesehatan mereka pulih. “Jadi, ini bukan memindahkan warga, tapi kita semacam operasi kemanusiaan untuk membantu sebanyak yang kita bisa,” jelas Hasan, menambahkan bahwa pemerintah menargetkan dapat membantu pengobatan bagi 2.000 warga Gaza.
Meskipun demikian, Hasan tidak merinci kapan rencana evakuasi pengungsi Gaza ke Pulau Galang akan dieksekusi. Ia menyebutkan bahwa aspek teknis evakuasi sedang disiapkan oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan.
Rencana serupa pernah diumumkan sebelumnya oleh Presiden Prabowo Subianto. Kala itu, Prabowo menyatakan keinginan untuk mengevakuasi sekitar 1.000 pengungsi Gaza menyusul eskalasi konflik di wilayah tersebut. Pengumuman ini disampaikan pada awal April tahun ini, tepatnya Rabu, 9 April 2025, sebelum ia bertolak ke Uni Emirat Arab. Prabowo menyebut bahwa mereka yang akan dievakuasi meliputi korban luka-luka, anak-anak yatim piatu, dan individu yang mengalami trauma berat akibat agresi militer Israel. “Kami siap akan kirim pesawat-pesawat untuk mengangkut mereka. Kami perkirakan jumlahnya 1.000 untuk gelombang pertama,” ujar Presiden Prabowo kepada pers.
Senada dengan pernyataan Hasan Nasbi, Presiden Prabowo juga membantah bahwa rencana ini adalah bentuk relokasi warga Gaza. Ia menekankan bahwa evakuasi ini bersifat sementara dan bukan upaya pembentukan permukiman permanen. Para pengungsi akan dikembalikan ke tanah asal mereka setelah pulih dan kondisi di Gaza memungkinkan.
Namun, rencana ini menuai penolakan dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas. Anwar menilai bahwa gagasan pemindahan warga Palestina keluar dari Gaza merupakan ide yang didukung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Israel. “Pertanyaannya, untuk apa Indonesia ikut-ikutan mendukung rencana Israel dan Amerika tersebut?” kata Anwar dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 9 April 2025.
Anwar Abbas menyampaikan kekhawatirannya bahwa Israel dan AS berupaya mengosongkan Gaza agar Israel dapat lebih leluasa menduduki dan menguasai wilayah tersebut. Menurutnya, hal ini bisa berujung pada penempatan warga negara Israel ke Gaza yang telah diduduki, dan ia khawatir bahwa dalam waktu tertentu Gaza akan menjadi bagian dari “Israel Raya” yang selama ini dicita-citakan AS dan Israel.
Pulau Galang sendiri memiliki sejarah panjang sebagai tempat penampungan pengungsi. Pada tahun 1970-an, pulau ini dikenal sebagai lokasi penampungan pengungsi Vietnam yang kala itu dijuluki ‘Manusia Perahu’. Penampungan tersebut muncul sebagai respons terhadap pergolakan politik dan perang saudara di Vietnam. Puluhan ribu warga Vietnam melarikan diri dari negaranya setelah kemenangan gerilyawan Komunis dan jatuhnya Saigon pada April 1975. Mereka yang khawatir dengan kepemimpinan Komunis kemudian kabur menggunakan perahu menuju berbagai negara, termasuk Indonesia.
Hendrik Yaputra dan Savero Aristia Wienanto berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Uji Publik Formalitas Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Ringkasan
Pemerintah Indonesia telah menyiapkan Pulau Galang, Kepulauan Riau, sebagai lokasi evakuasi sementara bagi sekitar 2.000 warga Gaza untuk pengobatan. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menjelaskan bahwa Pulau Galang dipilih karena terpisah dari permukiman warga serta memiliki rekam jejak sebagai pusat penampungan dan fasilitas penanganan Covid-19, sehingga mudah dikelola. Inisiatif ini merupakan operasi kemanusiaan untuk membantu korban konflik di Gaza.
Hasan Nasbi menegaskan bahwa fungsi Pulau Galang bukanlah relokasi permanen, melainkan pusat pengobatan sementara dan para pengungsi akan dipulangkan setelah pulih. Rencana serupa pernah disampaikan Presiden Prabowo Subianto untuk mengevakuasi 1.000 pengungsi Gaza yang luka atau trauma. Meskipun demikian, rencana ini ditolak oleh MUI yang menganggapnya mendukung upaya pengosongan Gaza, sementara Pulau Galang sendiri memiliki sejarah sebagai tempat penampungan pengungsi Vietnam.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia