
PRODUSER film animasi Merah Putih: One for All, Toto Soegriwo, baru-baru ini angkat bicara terkait perbincangan panas di media sosial, terutama mengenai dugaan aliran dana sebesar Rp 6,7 miliar untuk produksi film tersebut. Melalui unggahan di akun X-nya, @totosoegriwo, ia menegaskan bahwa tuduhan penerimaan dana itu sama sekali tidak benar dan merupakan fitnah keji.
“Kami tidak pernah menerima satu rupiah pun dana dari pemerintah,” tegas Toto Soegriwo dalam cuitannya, seperti yang dilihat Tempo pada Selasa, 12 Agustus 2025. Ia juga mengimbau masyarakat dan warganet agar tidak mudah terprovokasi dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Pasalnya, tuduhan tidak berdasar ini tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan juga keluarganya. “Istri dan anak-anak saya kini mengalami tekanan mental dan rasa tertekan akibat hujatan yang tersebar,” ungkapnya pilu.
Sebelumnya, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, juga telah memberikan penjelasan terkait dugaan fasilitas pemerintah untuk penayangan film ini. Menurut Toto, dalam pertemuan mereka, Irene Umar hanya memberikan sejumlah masukan kreatif, mulai dari alur cerita, pengembangan karakter, visual, hingga evaluasi video trailer. “Beliau tidak memberikan bantuan finansial maupun fasilitas promosi kepada film ini,” jelas Toto, menepis segala spekulasi yang berkembang.
Lebih lanjut, Toto Soegriwo juga menegaskan bahwa rumah produksi Perfiki Kreasindo, yang memproduksi film ini, tidak pernah melakukan tindak pidana korupsi atau memanfaatkan aliran dana ilegal dalam proses pembuatan film, sebagaimana narasi yang beredar. “Kami memohon kepada masyarakat dan warganet untuk tidak serta merta menyebarkan informasi yang tidak benar, serta menghentikan segala bentuk hujatan, fitnah, dan serangan tanpa dasar,” pintanya, mengharapkan keadilan di tengah polemik.
Film animasi Merah Putih: One for All sejatinya diagendakan tayang di bioskop pada Kamis, 14 Agustus mendatang, sebagai bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia. Namun, alih-alih mendapatkan sambutan hangat, film ini justru dihujani kritik tajam. Di media sosial, marak diskursus yang mempertanyakan kualitas visual film yang dinilai kurang layak untuk layar lebar. Salah satu adegan yang paling disoroti adalah penampakan senjata api yang tersimpan di gudang desa, terlihat jelas dalam trailer video.
Dalam unggahan yang kini telah dihapus, Toto Soegriwo sendiri sempat mengakui bahwa waktu pengerjaan film animasi ini terbilang sangat singkat, yakni kurang dari satu bulan. Kondisi ini semakin memanaskan diskursus di media sosial yang menyebut film ini menelan biaya produksi hingga mencapai Rp 6,7 miliar, sebuah angka yang dinilai fantastis untuk waktu produksi secepat itu dan kualitas visual yang dikritik.
Sutradara kondang Hanung Bramantyo termasuk salah satu figur yang secara terbuka melayangkan kritik. Ia menyatakan keheranannya mengapa film animasi Merah Putih: One for All bisa mendapatkan jadwal tayang di bioskop, sementara ratusan judul film Indonesia lainnya justru harus mengantre panjang. Hanung Bramantyo secara lugas menilai kualitas film tersebut masih jauh di bawah standar industri perfilman, yang terbukti dari tampilan trailer film yang seadanya. “Kalau itu ditayangkan, sudah pasti penonton akan resisten,” kata Hanung melalui akun Instagram @hanungbramantyo pada Selasa, 12 Agustus 2025.
Untuk memberikan konteks, Hanung Bramantyo membandingkan biaya produksi film ini dengan film serupa produksi Indonesia lainnya. Menurutnya, biaya produksi film animasi di Indonesia pada umumnya membutuhkan anggaran sebesar Rp 30-40 miliar, dan angka itu pun belum termasuk biaya promosi. Perbandingan ini semakin menguatkan pertanyaan publik akan transparansi dan efisiensi dana yang digunakan.
Terlepas dari segala kontroversi, film animasi Merah Putih: One for All sendiri mengusung cerita tentang delapan anak dari berbagai latar belakang budaya yang bahu-membahu mencari bendera pusaka merah putih yang hilang menjelang pengibarannya pada 17 Agustus. Dengan keberanian, kerja sama, dan semangat patriotisme, kedelapan anak ini berupaya menyampaikan pesan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk mencapai satu tujuan mulia.
Ringkasan
Produser film animasi Merah Putih: One for All, Toto Soegriwo, membantah tuduhan penerimaan dana pemerintah sebesar Rp 6,7 miliar. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menerima satu rupiah pun dana tersebut dan menyebutnya fitnah keji yang berdampak pada keluarganya. Toto juga menjelaskan bahwa Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, hanya memberikan masukan kreatif, bukan bantuan finansial atau fasilitas promosi.
Film ini diagendakan tayang pada 14 Agustus namun menuai kritik tajam, terutama terkait kualitas visual yang dinilai kurang layak. Toto Soegriwo mengakui waktu pengerjaan film sangat singkat, kurang dari satu bulan. Sutradara Hanung Bramantyo turut mengkritik kualitas film yang disebutnya di bawah standar industri, mempertanyakan penayangannya di bioskop. Film ini sendiri berkisah tentang delapan anak yang mencari bendera pusaka yang hilang menjelang 17 Agustus.
JogloNesia Informasi Jogja Solo Indonesia